Abu Nawas dalam Buku Sunda

Abu Nawas, hidup di zaman Abbasiyah. Ia diboyong ke penjuru dunia hingga sampai ke Indonesia. Lazimnya, orang menggambarkan ia majenun. Mukanya sengaja dibuat konyol, meskipun orang tak tahu persis lekukan dan perawakannya seperti apa. Tak jarang, dalam berbagai ilustrasi, Abu Nawas mengenakan pakaian mirip Aladin: bersorban dan berpeci.

Kisah Abu Nawas bukan sembarang kisah. Sampai jutaan kali pun, orang bisa mengubah sesuka hati. Kadang terlihat ceria, kadang bijak, kadang penuh tipu muslihat. Umumnya, kisah Abu Nawas ditulis dengan sosok jenaka, lucu. “Lagi pula, sudah dari sananya kayak gitu”, kata si pengarang.

Di Indonesia, Abu Nawas sudah lama beken. Berbagai judul diterbitkan, sekadar untuk memenuhi kebutuhan sense humor para penyandang kegalauan. Pernah suatu waktu, Bale Poestaka menerbitkan buku berjudul, Tjarita Abounawas. Meski di dalamnya tidak ada keterangan dari mana dan untuk apa diterjemahkan. Tetapi, pada kover depan, di bagian bawah judul tercantum, Kenging Njoendakeun M.Ach Sjan Tanoewiredja. Diterbitkan tahun 1924.

Tahun 1967, terbit Abu Nawas Saembara. Ditulis oleh Rachmat M. Sas Karana, sastrawan Sunda yang cukup kesohor. Alurnya, berbeda dengan cerita Abu Nawas pada umumnya: penuh dengan kritik sosial, dan minim nuansa humor. Dalam buku itu, Abu Nawas menyerupai ratu adil. Sosoknya disegani sang Sultan, dan peduli pada golongan lemah. Kendati dekat dengan penguasa, Abu Nawas enggan menerima bantuan atau sanjungan. Yang penting, semua orang berlaku adil. Sekalipun itu penguasa, hukum tegak di atas kepala.

Pernah suatu ketika sang Sultan melamar seorang gadis: cantik dan anggun. Ismail, lelaki pujaan, pergi menemui Abu Nawas untuk mengadu kelakuan rajanya. Mendengar Ismail bertutur, Abu Nawas dibuat iba. Ia mesti memikirkan cara agar dapat terlepas dari jeratan sang penguasa. Akhirnya, sebuah langkah pun direncanakan. Ismail bersama keluarga, berpura-pura untuk melangsungkan pernikahan.

Namun, beberapa saat sebelum berlangsung, wazir dan para penggawa tiba lebih dulu di hadapan mereka. Malang nasibnya, Abu Nawas dan ayah si gadis harus mendekam di ruang tahanan. Setelah keduanya beradu jotos dengan para prajurit sultan.

Sependek pengetahuan saya, buku Sunda yang menyadur kisah Abu Nawas, terbilang sedikit. Setelah terjemahan Tjarita Abu Nawas tahun 1920-an, dan buku Abu Nawas Saembara, tahun 1967, ada satu buku lagi yang tidak boleh dilewatkan. Tahun 1983, mendiang Kang Usep Romli pernah melakukan saduran ke dalam bahasa Sunda.

Oray Bedul Macok Mang Konod, konon, merupakan sekumpulan cerita lucu yang diperuntukkan bagi kalangan anak-anak. Dalam pengantarnya, Usep Romli menjelaskan, bahwa bukunya itu merupakan perpaduan kisah-kisah jenaka di berbagai belahan, termasuk kisah Abu Nawas dan Nasrudin Hoja. Konteksnya disesuaikan dengan keadaan di Tatar Sunda: baik itu nama tokoh maupun tempat kejadian. Seperti Ki Artawi dan Aki Madhalil, yang condong kesunda-sundaan. Atau nama daerah, seperti Limbangan, Garut, dan Ciranggieung. Kisahnya memang dibuat lucu, sesuai apa yang diinginkan oleh si penulis. Toh dari judulnya, Oray Bedul Macok Mang Konod: Dongeng-dongeng Lulucon rekaan Usep Romli. Tapi, di manakah sosok Abu Nawas dalam kumpulan dongeng itu? Saya pun kurang tahu. Yang jelas, begitulah pengakuan Kang Usep.

Pekerja serabutan. Saat ini, didaulat untuk mengurus situmang.com.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Perumahan Margawangi, Jalan Margawangi VII No.5, Ciwastra, Kota Bandung 40287. Telp. 0227511914

Social Profiles

Facebook