Kang Jimbot: Pemusik Tradisional yang tak Pantang Mundur

Foto: Tata Kartasudjana

Pagi hari saya sudah tiba di Los Tjihapit, warung kopi milik Bayu, rekan saya. Dia, biasa saya panggil Oom Bayu. Kopi pahit, rasa masa lalu. Kopi sekarang banyak macam dan ragam. Ada yang terasa seperti buah-buahan, ada yang rasanya coklat tergantung wilayah tanam, ketinggian dan suhunya. Semakin banyak penyuka kopi semakin bervariasi juga rasa kopi. Saya sendiri kurang suka kopi yang rasanya masam. Saya lebih menikmati kopi pahit, mengingat kopi di masa lampau, kopi jenis Robusta, katanya. Jangan tanya yang macam-macam sedetil mungkin ihwal kopi Robusta pada saya. Mohon ampun, pengetahuan saya tentang kopi hanya sampai kopi beradu dengan sendok.

Biasanya, pagi hari di Los Tjihapit nampak sepi. Tapi hari ini cukup ramai. Beberapa pesepeda sudah hadir, berkumpul di meja masing-masing. mereka menggunakan masker dan sebagainya, disiplin dengan protokol kesehatan. Sejak pandemi, peminat sepeda menggeliat, diminati banyak kalangan. Di sekitar Jalan Kosambi, Kota Bandung, orang hilir mudik mencari sepeda atau suku cadangnya. Bahkan, jika sepeda Anda harus direparasi, tidak langsung ditangani saat itu juga, kita mesti menunggu giliran hingga satu sampai dua hari sampai sepeda bisa dikerjakan. Saking banyaknya pelanggan.

Saya sebetulnya ada janji bertemu dengan Kang Jimbot di warung kopi milik Oom Bayu. Kami sudah beberapa kali berkirim kabar lewat telepon pintar. Jimbot semacam nama panggilan. Nama aslinya, Iman Rohman. Jam sepuluh lewat sedikit, muncul pesan di telepon pintar saya, “Kang palih mana?”. Seketika salah satu kawan saya bergegas menjemput Kang Jimbot, supaya tidak tersesat di dalam pasar. Letak Los Tjihapit terdapat di dalam kawasan pasar Cihapit. Ada tiga pintu untuk menuju ke sana: pintu depan jalan Cihapit, pintu samping jalan kecil searah masjid Istiqomah, dan pintu belakang melalui jalan Sabang.

Beberapa kawan di Los Tjihapit mengenal Kang Jimbot sudah sejak lama. Dan dipertemuan itu seperti bertemu kembali untuk melepas rindu.

Kang Jimbot berperawakan sedang. Bentuk mukanya cenderung mengotak. Kalau tidak mengenal terlalu dekat, mungkin, banyak orang akan mengira jika Kang Jimbot berwatak keras. Tapi, sebenarnya, ia orang yang senang berkelakar dan ramah. Kang Jimbot berasal dari Ciamis. Ia dilahirkan sekitar 41 tahun silam. Jejak langkah menjadi seniman tradisional Sunda merupakan warisan keluarga yang beliau pegang teguh hingga saat ini. Ia memulai belajar karawitan sejak di bangku SD. Mula-mula bermain dari panggung ke panggung hajatan, dan ikut bersama bapaknya dan saudara kandung, sambil bermain sekaligus belajar.

Karena pindah ke Bandung, ia harus mengakhiri aksi bermain di panggung bersama keluarganya selepas lulus SMP untuk melanjutkan studinya ke SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia) atau SMKN 10 Bandung. Sambil mengisi waktu dan menambah biaya hidup, ia melakukan kegiatan yang cukup unik. Berkeliling untuk bermain kecapi dari rumah ke rumah dan dari perempatan ke perempatan. Hasil dari pendapatan itu, digunakan buat makan dan menambal biaya kontrakan.

Masa sekolahnya di SMKI harus berakhir di tingkat 2, karena terkendala masalah. Ia mesti balik lagi ke kampung halamannya, di Ciamis, untuk menyelesaikan sekolah di SMA Serba Bakti Suryalaya. Jenjang SMA telah diselesaikan satu tahun. Setamat SMA, Kang Jimbot membantu orang tua di kampung, ikut ke sawah, mengumpulkan kayu bakar dan kembali bermain di panggung-panggung hajatan.

Beberapa waktu kemudian, Kang Jimbot mencoba mendaftar ke Universitas Padjajaran, dan diterima di Fakultas Sastra jurusan Dokumentasi Budaya, medio tahun 2000. Kegiatan unik sewaktu di SMKI, kembali dilanjutkan. Tampil ke rumah-rumah dan perempatan. Ada kalanya juga tampil di panggung hajatan, bersama grup kesenian tradisi, pada kurun waktu tahun 2002-2003. Masalah ekonomi, membuat Kang Jimbot hengkang dari bangku kuliah. Silaturahmi dengan kampus walaupun sudah tidak terdaftar sebagai mahasiswa tetap terjaga. Kang Jimbot tergabung dan aktif sebagai bagian dari tim kesenian Unpad. Sampai pada satu waktu ia ikut muhibah kesenian ke Perancis pada tahun 2005, hingga menjadi pengalaman pertamanya pergi ke luar negeri.

Langkah awal selalu menjadi pintu masuk petualangan yang berkelanjutan. Jepang, Polandia, Australia, Korea dan kembali lagi mengunjungi Perancis. Dalam tahun 2007-2008, hal itu menjadi kegiatan rutin yang dilakukan oleh Kang Jimbot dan tim kesenian UNPAD.

Membuka jejaring di ruang publik menjadi gagasan penting untuk mengembangkan karir. Setelah banyak melakukan perjalanannya ke  luar negeri, ia kemudian bergabung dengan Common Room. Dari sini, Kang Jimbot kian mengenal banyak musisi dengan latar belakang yang berbeda dan memperkuat wawasannya. Ia sering melakukan kolaborasi dengan band metal, musik pop dan disc jockey, untuk beradu manis dengan kecapi, suling dan kendang, sehingga menghasilkan warna baru dalam berkesenian yang khas dan unik.

Banyak musisi luar negeri yang tertarik dengan kemampuan Kang Jimbot. Mereka sengaja datang dan mengajaknya berkolaborasi. Akhirnya, pada tahun 2011, ia tampil di Belanda, lalu bergabung dengan band-band Bandung, seperti Karinding Attack, Sarasvati Musik dan Trah Project.

Kegiatan secara mandiri ia lanjutkan di tahun 2015, yang disponsori oleh Djarum Super,  yang bertajuk “Konser Torotot Jimbot Ti Sunda Ka Jomantara”. Kegiatan berkesenian sudah mendarah daging dalam tubuh Kang Jimbot. Karena sekarang sedang berada di masa pandemi, pertunjukan dan undangan ke luar negeri sudah tidak berjalan lagi. Ia harus berdiam diri selama dua bulan di dalam rumah. Sisa tabungan terkuras habis untuk membayar keperluan sehari-hari. Mengingat hal itu, Kang Jimbot harus memutar badan untuk kebutuhan dapur. Sampai sebuah alternatif mesti ia lakukan dengan membantu teman berjualan bubur. Hari-hari sebelumnya ia ganti dengan melayani pembeli, mendorong roda dan mencuci mangkok. Bukan hanya itu. Di daerah Ciganitri yang menjadi tempat sehari-harinya, kadang Kang Jimbot turun ke selokan untuk menangkap ikan pelarian dari kolam. Hasil tangkapannya itu, kadang ia makan, kadang dibagikan separuh kepada temannya.

Kreativitas dan pengalamannya dalam bermusik, tidak akan pernah hilang dalam diri Kang Jimbot, meski pandemi belum berakhir. Belakangan, kegiatan kesenian kembali dimulai walaupun masih tersendat-sendat. “Napak Jagat Pasundan” yang diprakarsai oleh Coklat Kita, hadir kembali bersama Kang Jimbot. Hingga akhirnya, roda ekonomi perlahan-lahan melaju sebagaimana sebelumnya. Bagi Kang Jimbot, kreativitas adalah harga mati. Kreatif berarti bisa bertahan hidup, dalam situasi apapun dan dimana pun.***

Dosen Desain Komunikasi Visual Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Unpas

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Perumahan Margawangi, Jalan Margawangi VII No.5, Ciwastra, Kota Bandung 40287. Telp. 0227511914

Social Profiles

Facebook