Membaca “Deng” dengan Dua Sudut

Deng, sebuah novel berbahasa Sunda karya Godi Suwarna, dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Deri Hudaya (2016). Kata Deng/beng, merupakan kata seru yang menunjukkan kegelisahan atau keluh-kesah. Dalam novel ini kata ‘deng’ muncul sebanyak tiga kali yang menandai tokoh-tokoh pada setiap peristiwanya. Dengan begitu, saya akan membedakan antara bahasa sastra dan bahasa formal, juga plot dan kejadian. Tanpa bermaksud memangkas keutuhan dari novel ini, saya membuat ulasan mengenai tokoh-tokohnya secara terpisah berdasarkan rentetan peristiwa demi peristiwa. Tak lain untuk memudahkan memahami keseluruhan alur ceritanya.

Cerita ini bertolak dari sebuah keluarga sederhana yang tinggal di sebuah desa di Jawa Barat. Rumah mereka terletak di pinggir bahu jalan, banyak para supir yang melintas bersinggah ke warung milik si Ema. Warung itu tak hanya menyajikan makanan dan minuman, namun apabila melintas pada malam hari akan mendengar si Uyut memainkan kecapi sambil menembangkan rajah. Setiap kawih yang dimainkan, mampu meninabobokan pendengarnya, apalagi Ujang sebagai cicitnya. Termasuk meninabobokan gunung, bukit, jurang dan kebisuan telaga.

Pertama, tokoh Kang Asep (kakaknya Ujang). Sebagai mahasiswa ia memiliki hobi melukis. Di samping itu, ia juga memiliki kesadaran kritis terhadap masalah sosial. Terutama antusiasmenya atas persoalan pembebasan lahan yang terjadi di desanya. Karena dulu sang ayah pernah berjuang untuk penolakan tanahnya yang dijual dengan harga murah atas tawaran Pak Yuda. Penolakan keras itu berbuntut kematian  yang menandai sang ayah. Kendati harga tanah itu akhirnya dibeli murah. Sehingga berdirilah bendungan di sebelah Barat sana.

Bermula dari situlah kesadaran sosial Kang Asep muncul. Setiap Pak Yuda berkunjung ke warung Ema, Kang Asep selalu menanyakan perkara hak-hak warganya yang belum tuntas. Ketika Pak Yuda menjabat sebagai Kuwu, banyak dampak buruk yang dialami warganya. Di antaranya, pembebasan lahan sungai Cigede untuk membuat bendungan, yang mengakibatkan sebuah kampung harus karam demi terciptanya sebuah telaga. Kemudian, digantikannya mata pencaharian masyarakat dari bertani menjadi menjala ikan. Tentunya, ini berimplikasi pada banyak masalah. Tak jarang orang tenggelam saat mencari ikan di telaga.

Alih-alih keputusan para ahli melegitimasi pembangunan dengan mengobral manfaat dan guna pembangkit listrik mengairi sawah, tapi, sawah yang mana? Toh, rumah yang ditinggali Ema dan keluarga tak mendapatkan distribusi listik. Malah, banyak masyarakat yang mengalami masa transisi ini. Keuntungan itu mengalir besar pada orang lain. Orang kota, pejabat, yang sipit-sipit, sedangkan penduduk sini hanya tinggal kuli, buruh, begitulah tukas Kang Asep.

Saban Kang Asep berada di rumah, waktunya banyak tersita untuk rapat di rumah Kang Daris. Seperti saat ia menyodorkan surat untuk ditandatangani oleh Ema. Semacam surat pengajuan untuk membuat sertifikat tanah. Sekalipun mendapat nada apatis dari Ema dan lampu kuning dari Uyut. Penanda itu tak mengurungkan perjuangan Kang Asep dan rombongannya untuk mengajukkan tuntutan ke kantor Kabupaten.

Tanpa diketahui awalnya, tiba-tiba terjadi gesekan antara massa aksi dengan masyarakat politis. Ketika ada massa tak dikenal hendak menyerbu dan membakar kantor Kabupaten. Sehingga suara tembakan muncul dari moncong senjata, membuat barisan aksi massa berlarian tak menentu. Sampai nasib malang menimpa Kang Asep: ia cedera, terluka hingga harus dilarikan ke rumah sakit.

Kabar duka pun menyelimuti Ema, Uyut dan Ujang. Kang Asep akhirnya mati. Ia menemui ajalnya dalam medan perjuangan, laiknya mendiang ayah dan kakeknya. Seakan-akan ia memiliki harapan untuk memperjuangkan keadilan.

Dalam novel ini, Si Ujang hadir sebagai tokoh yang berada dalam dua realitas. Pertama, tokoh yang bergelut dalam kehidupan sehari-hari di desa. Kedua, tokoh yang dilukiskan dalam realitas mimpi seputar mitos primordial Sunda. Pada kesehariannya itu, Si Ujang disibukkan untuk membantu pekerjaan Ema dan mengurusi ayam-ayam. Bahkan Ujang sempat kehilangan Si Rengge (ayam sabung kesayangannya) ketika diketahuinya bertarung dengan anjing besar. Deng, Si Rengge terkulai lemah beserta darah yang menempel pada lukanya.

Dalam mimpi-mimpinya, Si Ujang melakoni tokoh sebagai Sang Kuriang. Ia  membuat perahu dalam waktu semalam untuk memenuhi Nyai Putri. Ditemani ayam-ayam peliharaannya, Ujang berpesan agar tidak berkokok di waktu Subuh. Kendati pada waktunya sehelai kain berkelebat di ufuk timur. Mimpi semalam bertemu Nyai Putri, mengingatkan kepada Si Ema persis dengan Nyai Putri. Wangi bunga melati, lekuk-liku tubuh dan panjang rambutnya. Sehingga dalam kehidupan menyeharinya Ujang memandang Si Ema sebagai alter egonya Nyai Putri.

Pada mimpi lainnya, Sang Kuriang mampu menuntaskan tantangan. Raut muka Ujang terpancar bahagia saat diajaknya berlayar melintasi pelangi. Rasa bahagia yang mewarnai percakapan Sang Kuriang dan Nyai Putri membuat mereka bertukar pandang. Di satu sisi, Sangkuriang menatap penuh Nyai Putri, di sisi lain ada Ujang yang kagum kepada Si Ema, yang berpadu dalam diri Nyai Putri. Kekuatan cinta yang tak terbendung membuat Ujang mencintai dalam. Teriakan si Ema menghentikan rasa cinta di dada Ujang. Ketika Si Ema hendak mengatakan perlakuan Ujang kepada bapaknya.

Syahdan, bertolak dari kematian Kang Asep lalu menyusul kematian Si Rengge (ayam sabung kesayangannya). Deng, genap sudah ketika mendengar Si Ema dibujuk oleh Pa Yuda agar menjual tanahnya, lalu diajak menikah. Satu malam kelabu membuat Ujang naik pitam, sehingga ia berlari menghancurkan kaca mobil Kijang. Dalam nasib yang tak bisa ditawar ini, ada satu mimpi menyelinap ke dalam diri Ujang. Arwah kang Asep tiba menghampiri, untuk melengkapi janjinya berlayar menuju telaga. Sesampai di telaga, Kang Asep malah berpesan, ‘’Jangan cengeng, laki-laki mesti tegar. Tak perlu takut. Sesungguhnya kematian bapa kita dibunuh oleh Si Yuda (dulu kuwu). Bapa dipukul di balaidesa, mayatnya terlantar di bawah pohon kelapa’’. Dalam termenung menatap bulan, darah mengalir dari kening, membanjiri mata Kang Asep.

Dengan membaca novel Deng, kita bisa memahami seseorang dalam memperjuangkan hak-haknya. Pada toko Si Ujang dan Kang Asep, banyak peristiwa yang hadir dan bertumpang tindih satu sama lain. Mungkin sebelumnya terlintas dalam benak pembaca, bagaimana kesannya suatu hal sublim dapat berbaur dengan hal profan, sehingga perbedaan antara kenyataan dan rekaan membias? Sementara itu, pembaca tak perlu bersikeras mempertanyakan mana unsur yang dominan, sampai pada soal real atau rekaan. Sekalipun saya sempat dibuat kabur dan membolakbalikan halaman demi halaman. Namun, perpaduan antara realitas dan imajinasi yang berkelindan, menandakan keberhasilan penulis dalam membangun alur cerita, tanpa pembaca kehilangan pesan yang disampaikannya.

Aktif di Komunitas Jaringan Anak Sastra (JAS) UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Perumahan Margawangi, Jalan Margawangi VII No.5, Ciwastra, Kota Bandung 40287. Telp. 0227511914

Social Profiles

Facebook