Logika Kisah Limah

Saya mulai mendaras lagi buku-buku cerita anak dalam bahasa Sunda. Salah satu judul buku yang segera memantik minat saya adalah Carita Nyi Halimah (1928; cetakan ke-2, 2005) karya Samsoedi (1899-1987). Kisahnya berkisar di sekitar tokoh remaja berumur 13 tahun bernama Halimah, yang biasa disapa Limah.

Ia mengalami cobaan hidup bertubi-tubi. Keluarganya yang semula kaya jatuh miskin. Ayahnya tidak tentu rimbanya setelah dihukum, ibunya meninggal dunia, dia kemudian tinggal di rumah neneknya, dan untuk menyambung hidup dia bekerja sebagai babu di rumah nyonya Belanda bernama Linn. Namun, saat memetik bunga di taman untuk rampai, Limah kepergok Nyonya Linn, sehingga dia disiksa dan diusir. Ketika berziarah ke makam ibunya, Limah bertemu tuan Belanda baik hati yang sedang berburu burung. Ia kemudian dibawa oleh tuan tersebut ke perkebunan di Sukabumi untuk bekerja sebagai babu. Di sana Limah banyak mendapatkan cobaan hidup berupa fitnah sampai dijebloskan ke penjara dua kali. Hingga akhirnya bertemu dengan ayahnya, yang ternyata Bapa Kolot, pembantu tuan perkebunan teh tersebut.

 Pemantik minat dari buku ini adalah cara kisahnya dituturkan, dan juga terkait gambaran hidup saat itu. Ceritanya dikisahkan sangat menarik, karena menggunakan sudut pandang orang pertama tunggal “kuring” (saya, aku), sehingga terkesan cerita ini sebagai sebuah pengakuan. Bisa jadi inilah buku Sunda pertama untuk remaja yang berkisar di sekitar umur 13-19 tahun yang menggunakan sudut pandang orang pertama. Meskipun pada beberapa bagian digunakan pula sudut pandang orang ketiga yang melihat bagaimana gerak hidup Halimah, tetapi “kuring” masih yang memegang kendali.  

Bahkan saya menemukan “kuring” secara sadar mengajak pembaca untuk mengikuti kisahnya. Ini terlihat dari adegan saat Limah disiksa Nyonya Linn dan sesaat sebelum Bapa Kolot menceritakan pengalamannya. Saat Limah disiksa dia merasa demikian: “Hal kanyerianana mun enggeus mah asa bubuk hulu; sanajan ku kuring teu dicaritakeun ogé, tangtu nu maraos kajudi” (Mengenai rasa nyerinya kepala ini serasa hancur; meski tidak dikisahkan olehku, tentu para pembaca dapat menerkanya).

Demikian pula saat tuannya berangkat ke Eropa dan Limah beserta Bapa Kolot dan Sarja pindah ke Depok, Limah melibatkan pembaca kisahnya dengan mengatakan demikian: “Demi pagawéan kuring nu baku, sadayana ogé tangtos aruninga nyaéta ngurus rumah tangga, nyadiakeun dahareun nu ngagarap sawah jeung salian ti éta” (Pekerjaanku yang biasa, tentu semua pembaca maklum, adalah mengurus rumah tangga, menyediakan makanan yang menggarap sawah dan lain-lain).

 Saya pikir pelibatan pembaca oleh tokoh Limah dipengaruhi oleh tradisi lisan yang terlihat, misalnya, saat seseorang menceritakan pengalaman hidupnya kepada orang lain, baik kepada seseorang atau khalayak banyak, atau seperti dapat dilihat saat orang berceramah. Dalam teknik penceritaan lisan tersebut, tentu si jurukisah akan beberapa kali menyapa orang yang berada di hadapannya, dengan maksud agar ikut larut dalam alur kisah yang dituturkannya.

Hal kedua yang menarik dari buku ini yaitu, latar belakangnya. Kisah percobaan hidup yang berakhir bahagia ini bermula di Betawi, terutama daerah Gunung Sahari, dan kemudian ke onderneming (perkebunan) teh di Sukaraja, Sukabumi, dan berakhir di daerah Depok. Ini terjadi saat sebelum Perang Dunia ke-2, yang bila dikaitkan dengan tahun terbitan buku ini, yakni tahun 1928, latar waktunya dapat ditentukan berlangsung antara akhir tahun belasan hingga tahun 1927. Dalam kurun waktu itu sudah banyak yang terjadi di Pulau Jawa, terutama di Batavia. Teknologi transportasi berupa penggunaan mobil yang sudah hadir sejak akhir abad ke-19, teknologi komunikasi berupa surat-menyurat dan telepon di perkebunan, penggunaan senjata api berupa pistol oleh perampok, dan tetek bengek-nya, tergambar dalam buku ini.

Pembagian penduduk berdasarkan ras juga sangat kentara. Limah dan keluarganya serta para pembantu perkebunan di Sukabumi mewakili pribumi (inlander) yang saat itu berada di lapisan paling bawah strata sosial Hindia Belanda. Kelas kedua adalah Tuan Sa’id bin Ahmad Syakh, lintah darat yang meminjamkan uang kepada ayahnya Limah, dan orang Tionghoa yang menjebak ayah Limah di Stasiun Kemayoran, merupakan wakil dari kalangan Timur Asing sebagai kelas kedua orang di Hindia. Strata paling atas dihuni oleh orang-orang Belanda seperti Nyonya Linn dan anaknya (Yance) yang diasuh Limah serta tuan Belanda perkebunan yang menolong Limah.

Dalam hal ini, yang sangat menarik adalah penggunaan bahasa Sunda oleh tokoh Limah sebagai pencerita. Ia membedakan bahasa yang digunakannya saat berkisah dan berbicara dengan orang-orang yang berbeda. Bila yang dirujuk dirinya, mengisahkan atau berbicara dengan sesama pribumi, bahkan dengan neneknya, bahasa Sunda yang digunakan oleh Limah adalah basa loma atau bahasa sehari-hari, sedangkan jika membincangkan atau berbicara dengan orang Eropa, dia menggunakan basa lemes (bahasa halus); dan bila orang Eropa berbicara dengan pribumi, menggunakan basa loma, bahkan agak kasar. Barangkali ini menjadi cerminan perbedaan perlakuan terhadap orang di Hindia Belanda saat itu.

Namun, kisah ini juga menampilkan dua sisi orang Belanda, sebagai kalangan penjajah. Di satu pihak ada Belanda yang sangat jahat terhadap pribumi, yang diwakili Nyonya Linn dan anaknya. Sementara di sisi lain, ada tuan perkebunan dan anaknya (Yopie) yang begitu baik hati terhadap pribumi, bahkan membukakan akses ke dunia luas bagi Halimah melalui perkenalannya dengan kegiatan belajar membaca dan menulis.

Apakah pandangan mendua ini mencerminkan sikap orang pribumi waktu itu, yang di satu sisi memperlihatkan watak jelek Belanda dan pada sisi lainnya mencerminkan pula watak baik Belanda? Bisa jadi demikian. Karena jejaknya dapat dilihat pula dari karya-karya Moh. Sanoesi (1889-1967) dan Joehana (w. 1929), yang juga menunjukkan ambivalensi tersebut. Apalagi bila dikaitkan dengan kenyataan bahwa memang Samsoedi saat belajar di Sekolah Guru, dia dikenal dekat dan menjadi orang kesayangan inspektur pendidikan berbangsa Belanda, Van Bemel (Sayudi, “Samsudi: Pangarang Carita Barudak Sunda”, majalah Kawit, 1983).  

Ditinjau dari tokoh-tokohnya, tokoh utama dalam buku ini mewakili orang Betawi yang mengembara ke Tatar Sunda. Ini tampak dari pengakuan Bapa Kolot yang juga merupakan ayah Limah. Ia mengatakan bahwa “Saenyana bapa téh lain urang Sukabumi, éstu urang Batawi tulén, demi lembur bapa di Gunungsari” (Sesungguhnya bapak bukan orang Sukabumi, tetapi orang Betawi tulen, bapa berasal dari Gunungsari).

Gambaran dari Bapa Kolot yang tulen Betawi itu terlihat dari kemampuannya berbahasa. Katanya saat kabur dari Nusa Kambangan dan terdampar di daerah berpenutur bahasa Sunda, dia tidak bisa berbahasa Sunda. Saat orang yang menolongnya bertanya mengenai keadaannya, yang dituturkannya kepada Limah dan Sarja yang sedang mendengarkan kisahnya adalah: “Ku bapa teu dijawab ku omongan, ngan ku unggeuk baé, sabab harita bapa teu ngarti basa Sunda” (Bapak tidak menjawab, hanya menganggukkan kepala saja, sebab waktu itu bapak tidak mengerti bahasa Sunda).

Dengan gambaran demikian, sudah tentu harus dibayangkan tokoh Limah sejak awal tidak bisa berbahasa Sunda, karena dia juga termasuk Betawi tulen. Dia kemungkinan bisa bahasa Sunda baru ketika tinggal di Sukabumi, setelah diangkat menjadi pembantu di rumah tuan perkebunan teh. Namun, sejak awal buku ini dia sudah berkisah dalam bahasa Sunda dan kisahnya sendiri tidak merupakan sorot balik, melainkan alur yang maju dari awal ke akhir. Dengan logika demikian, nampaknya penuturan kisah ini jadi mustahil terjadi.

Masih berkaitan dengan kisah Limah. Saya menangkap kesan fatalistik pada tokoh-tokoh pribumi dalam buku ini. Halimah, neneknya, ayahnya mencerminkan tokoh-tokoh yang meyakini benar bahwa urusan nasib sudah tidak bisa diubah, segalanya harus diterima begitu saja karena sudah digariskan Tuhan.

Pandangan fatalistik ini bermuara di ujung kisah, dengan kesimpulan dari Bapa Kolot alias Pa Sidin yang menyatakan bahwa “Jalma nu nyekel bebeneran reujeung kasucian, insya Allah moal éléh ku jalma nu ngajalankeun kajuligan” (Orang yang memeluk teguh kebenaran dan kesucian, insya Allah tidak akan kalah oleh orang yang berlaku khianat). Apakah pandangan tersebut mewakili umumnya kalangan pribumi yang sedang dijajah waktu itu? Rasa-rasanya bisa jadi demikian, paling tidak bagi kalangan penduduk kebanyakan, yang tidak mempunyai hak istimewa seperti kalangan menak dan beruang terhadap pendidikan dan budaya Eropa.***

Pegiat literasi, penulis dan bekerja di Badan Geologi di Kota Bandung. Selain itu, aktif sebagai penonton film dan pendengar musik India.

1 comments On Logika Kisah Limah

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Perumahan Margawangi, Jalan Margawangi VII No.5, Ciwastra, Kota Bandung 40287. Telp. 0227511914

Social Profiles

Facebook