Mengenal Kang Ajip dari Jauh Sekali

Secara pribadi, saya belum pernah berkenalan secara langsung dengan Kang Ajip. Saya hanya tahu karakter Kang Ajip, itu pun kalau Kang Hawe dan beberapa kolega yang kenal dekat dengannya, bercerita terkait masa-masa menggembirakan saat majalah Cupumanik belum vakum seperti sekarang.  

Kalau tidak salah, saya sudah dua kali bertemu. Pertama, sejak Perpustakaan Ajip Rosidi yang diresmikan di Jalan Garut, dan kedua, ketika pemilihan ketua PPSS (Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda) di Gedung Rumentang Siang, tahun 2016 silam. Lagi-lagi, saya hanya menyaksikan. Tanpa berkenalan sama sekali.

Sebagai generasi yang ketinggalan zaman, amat disayangkan baru bertemu dua kali. Meski sebetulnya tak perlu disesali sama sekali. Karena saya dan Kang Ajip tidak ada ikatan apapun, hanya sebatas penikmat. Tidak lebih. Dari segi usia, saya dan Kang Ajip terlampau jauh: selisih enam puluh tahun. Dengan begitu, wajar kalau belakangan ini karya-karya Kang Ajip baru beberapa saja yang saya baca.

Sejak duduk di bangku tsanawiyyah, saya cukup beruntung sedikit mengenal nama Kang Ajip. Ini karena dalam pelajaran bahasa Sunda, Ajip Rosidi lazim disebut-sebut oleh Guru saya. Walaupun waktu itu saya belum paham, karya apa yang dihasilkannya sampai-sampai sering diutarakan di kelas. Selang tujuh tahun kemudian, saya melihat kumpulan kisah, Di Tengah Keluarga, terpampang dalam rak Toko Buku Bintaro, di depan kampus saya kuliah. Saya sedikit tertarik, tapi takdir belum membukakan saya untuk membelinya.

Pada musim panas 2013, saya pergi ke Perpustakaan Batu Api yang berlokasi di Jalan Pramoedya Ananta Toer, Jatinangor. Bagi yang pernah ke sana, tentu tahu betul, di perpustakaan kecil itu banyak buku antik dan langka. Namun, saya tidak berharap dengan buku lawas. Saya hanya memerlukan buku sastra yang renyah untuk dibaca. Dengan berbagai tumpukan yang ada, spontan saja saya lihat Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Bukunya tidak tipis dan tidak tebal. Ditulis oleh seorang Ajip Rosidi. Kayaknya, takdir membukakan saya jalan untuk berkenalan dari jauh dengannya. Sehingga, buku itulah buku pertama Kang Ajip yang benar-benar saya baca.

Fikri, Ajip dan Sunda

Meski dari tahun 2010 saya mengikuti wacana Sunda, namun, di tahun 2013, Fikri memperkenalkan saya dengan bacaan Sunda yang lebih menarik. Di lingkungan LPIK (Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman) yang notabene bergelut di bidang pemikiran, hanya Fikri yang concern pada bahasa dan sastra Sunda. Apalagi, ia sendiri punya tradisi baik dalam merawat bahasa ibu. Di rumahnya, ia membiasakan “Sunda” sebagai lingua franca. Ditambah, di lingkungan sekolahnya semenjak dia berseragam putih-coklat di Cibegol. Kala saya berkunjung ke rumahnya, tumpukan buku-buku Sunda terisi penuh di dalam kardus. Katanya, sebagian pemberian dari Uwa Sas, dan sebagiannya lagi, telah tuntas terbaca sudah lama. Artinya, Fikri memang sedari dulu mengenal kepustakaan Sunda.

Di sela-sela obrolan kecil kami selepas diskusi, biasanya, ada saja istilah-istilah Sunda yang tidak saya pahami dari Fikri. Bahasa Sunda yang lembut, tapi bermasyarakat, kira-kira begitu. Ia juga biasa menggunakan paribasa sebagai penutup diskusi. Kalau dalam khutbah atau ceramah keagamaan, penutup lazimnya dipungkas oleh doa atau salam. Namun Fikri berusaha agar bahasa Sunda terkesan lebih nyurup. Saya masih ingat saat Fikri memegang buku, Kudu Dimimitian di Imah, karangan Kang Ajip. Mungkin itu juga ada pengaruhnya.

Sebagaimana halnya saya, Fikri juga pembaca karya-karya Kang Ajip. Bahkan terlihat sebagai pengagum dari jauh. Sebagai anak kemarin sore, saya baca apa saja yang berkaitan dengan Kang Ajip. Ini karena suatu waktu Fikri pernah membuat saya penasaran ihwal polemik undak-usuk basa. Tulisan apapun dari Kang Ajip saya kumpulkan. Terutama ulasannya mengenai buku Sunda.

Sebetulnya, gak susah-susah amat mencari tulisan Kang Ajip. Saban kita  baca novel atau puisi Sunda, misalnya, tak jarang Kang Ajip sendiri yang menulis kata pengantar. Galibnya, pengantar ditulis sampai 4-5 halaman, hingga kita benar-benar diperkenalkan dengan gaya bahasanya yang khas dan mudah dimengerti.

Ketika peresmian Perpustakaan Ajip Rosidi beberapa tahun yang lalu, saya mendengar seorang pembawa acara menyebut, bahwa koleksi buku yang dihibahkan sebanyak 60.000 lebih. Jumlah yang sangat banyak menurut saya. Belum lagi buku-buku yang ada di Pabelan. Buku-buku yang sudah masuk dalam katalog Perpustakaan Ajip Rosidi saja, umumnya, dipenuhi dengan buku-buku Sunda. Baik yang mencakup bahasa, sastra, budaya, sejarah dan filologi Sunda. Inilah yang memungkinkan Kang Ajip dianggap sebagai ikon budaya Sunda. Maka, saya tidak heran jika seorang teman berkelakar begini: “Di mana ada Kang Ajip, di situ ada Sunda”. Pantas Kang Ajip disebut “Pausnya Kesundaan”, dan disejajarkan dengan mendiang H.B. Jassin sebagai dokumenter terbaik sastra Indonesia.

Sosok Kang Ajip

Kang Ajip dikenal juga sebagai sosok yang anti-komunis. Meski ia bersahabat dengan beberapa tokoh LEKRA, seperti Pram dan Utuy T. Sonani. Saat Pram melangsungkan pernikahan, Ajip sengaja datang sebagai saksi. Dalam urusan politik, Ajip tentu berada di tengah-tengah. Ketika penandatanganan Manikebu oleh Goenawan Mohammad cs., Kang Ajip lebih memilih netral, kendati ia menolak prinsip LEKRA atau komunis. Bersama Toto S. Bactiar dan Ramadhan K.H., Kang Ajip berada di posisi front Bandung, yang condong ke sana-ke mari.

Pada soal lain, kadang Ajip begitu keras. Ketika keras, Kang Ajip “menyentil” siapapun yang tidak beres. Apalagi kalau urusan tulis-menulis. Ia pernah memprotes juri Habibi Awards atas penghargaan Nina Lubis, karena dinilai pernah melakukan plagiat. Ajip juga mengkritik habis Henry Guntur Tarigan dengan agak “kesal”, karena penyusunan buku Tatarucingan, mengandung banyak kekeliruan dari segi isi dan penerjemahannya.

Kang Ajip juga berkerabat dekat dengan kalangan ulama, di samping sesama sastrawan dan para seniman. Ia dekat dengan M.Natsir dan Sjafruddin Prawiranegara hingga biografinya ia tulis berdasarkan kedekatannya. Malah, ada klaim yang mengatakan bahwa Kang Ajip tercatat sebagai anggota Persis (Persatuan Islam), lantaran hubungannya dengan tokoh-tokoh Persis yang umumnya berada di Bandung, terutama dengan putra tokoh Masyumi, Endang Syaifuddin Ansari.

Dalam Cupumanik Astagina, Ajip melukiskan bagaimana ia pertama kali bertemu dengan Endang. Pertemuan yang bermula di toko buku Widjaja itu, tanpa diduga-duga menghasilkan duduluran di antara Endang dan Ajip. Waktu Kang Ajip memutuskan untuk memasukkan anaknya ke pesantren, Endang membantunya dengan mengantar Ajip ke beberapa pesantren pilihan. Mula-mula, Kang Ajip diajak ke pesantren Bangil yang didirikan oleh A. Hassan, lalu Endang mempertemukannya dengan salah satu pendiri Pesantren Modern Gontor, KH. Sahal, hingga anaknya berhasil masuk ke “dunia” Gontor setelah melakukan ujian.

Saya pernah membaca “anekdot-anekdot” yang muncul dari Kang Ajip. Tanpa mengurangi rasa hormat, tentu, ini bukanlah sebuah pujian. Tapi justru sebagai sikap tendensius Kang Ajip yang terkesan paradoks. Misalnya, waktu mendengar kalau Utuy masuk LEKRA untuk membetulkan atap rumahnya, saya sedikit dibuat tertawa geli. Sekalipun Utuy itu miskin, tidak logis jika alasannya untuk membetulkan atap. Padahal, dalam Di bawah Langit tak Berbintang, tertulis, dorongan Utuy untuk masuk ke tubuh LEKRA bukanlah faktor ekonomi. Melainkan  pengaruh dari Aidit.

Terlepas dari hal itu, saya sangat menghormati sosok Kang Ajip. Terutama karena perhatiannya yang mendalam terhadap kebudayaan. Hingga menjelang wafatnya, konon, Kang Ajip masih sibuk mengurus lubang-lubang kebudayaan yang mesti terus dibenahi. Saat mendapat kabar di linimassa bahwa Kang Ajip wafat pada hari Rabu, 29 Juli 2020, saya sungguh terkejut. Saya membayangkan, bagaimana kondisi kebudayaan Sunda setelah sang “Paus” meninggalkan kita semua? Apakah kita akan seperti All Might dalam serial Boku No Hero Academia, atau seperti Sirohige (Whitebird) dalam anime One Piece. Dua tokoh ini adalah representasi dalam dua film yang berbeda. All Might merupakan simbol perdamaian. Setelah dunia kehilangannya, para penjahat kian massif dan kejahatan pun tidak bisa dibendung. Adapun Sirohige adalah simbol kekuasaan bajak laut. Setelah ia mati dalam pertempurannya dengan pasukan angkatan laut, muncul para pirates pemula untuk menjadi penguasa lautan. Dalam kasus kebudayaan Sunda hari ini, baik itu bahasa dan sastra, apakah, dengan meninggalnya Kang Ajip perhatian kita pada khazanah kesundaan akan semakin berkurang atau malah bertambah? Mengingat sosok Kang Ajip begitu penting bagi para pegiat bahasa dan sastra Sunda sampai saat ini. Lalu, bagaimana dengan Rancage? Semoga baik-baik saja.

Pekerja serabutan. Saat ini, didaulat untuk mengurus situmang.com.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Perumahan Margawangi, Jalan Margawangi VII No.5, Ciwastra, Kota Bandung 40287. Telp. 0227511914

Social Profiles

Facebook