“Membaca” Pesantren di Priangan Tahun 1800-1945

Kajian mengenai jejak, penyebaran dan jaringan pesantren di wilayah Priangan pada abad ke-19 sampai pertengahan abad ke-20, tepatnya pada tahun 1800-1945, yang dilakukan oleh Ading Kusdiana, ini merupakan sebuah karya yang cukup populer di kalangan sejarawan. Betapa tidak, ia sampai harus mencari sumber-sumber sejarah ke berbagai tempat. Selain mengunjungi pesantren-pesantren yang tersebar di Jawa Barat, penulis buku ini juga mengunjungi berbagai perpustakaan di Indonesia, seperti ke Arsip Nasional Republik Indonesia, Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (Bapusipda) Jawa Barat, serta perpustakaan-perpustakaan pendukung lainnya. Selain itu, untuk menjamin kualitas penelitiannya, Ading sampai harus pergi ke Amsterdam, Belanda, untuk mencari sumber sejarah, tepatnya di Perpustakaan Koninlijk Institut voor Taal Land en Volkenkunde (KITLV) dan Perpustakaan Universiteit Bibliotheek (UB) di Universiteit Leiden.

Buku ini mengungkapkan bagaimana awal mula berdirinya sebuah pesantren di Priangan, sampai pada perkembangannya dari waktu ke waktu sehingga terbentuklah sebuah jaringan antar pesantren di Priangan. Di dalamnya dijelaskan juga bahwa pesantren tidak hanya sekadar tempat untuk mendalami ilmu agama Islam, tetapi peranannya lebih dari itu. Pesantren berperan sebagai basis kehidupan atau pemberdayaan umat Islam kala itu. Dengan berkembangnya pesantren di berbagai tempat di Jawa Barat, hal tersebut telah mengindikasikan bahwa agama Islam sangat diterima oleh berbagai kalangan masyarakat dan proses penyebarannya pun cukup pesat.

Bagian awal isi buku ini menjelaskan bahwa, pesantren merupakan satu-satunya lembaga pendidikan keagamaan Islam yang paling tua dan masih bertahan hingga saat ini. Perkembangan pesantren di Priangan dapat dikatakan sangat signifikan. Hal ini dikarenakan masyarakatnya yang memberi respon positif terhadap keberadaan pesantren. Seperti yang telah diketahui, jika Priangan merupakan suatu wilayah yang didiami oleh orang Sunda yang notabene sangat terbuka sekali terhadap agama Islam. Bahkan mereka mempunyai prinsip bahwa agama harus dijadikan ageman dalam kehidupannya. Maka tak heran jika agama Islam berkembang pesat di wilayah ini.

Abad ke-19 sampai awal abad ke- 20 dikenal sebagai puncak dari imperialisme. Dalam hal ini, penulis memaparkan bahwa pesantren berperan sebagai tempat untuk menumbuhkan ruh jihad Islam terhadap penjajah di negeri ini. Ading juga menjelaskan langkah-langkah kaum imperial dalam menghancurkan kekuatan umat Islam yang dianggapnya dapat mengganggu stabilitas kekuasaannya. Salah satunya yakni dengan mengutus seseorang yang sangat cerdas dan sangat piawai dalam menjalankan tugasnya, yakni Snouck Hurgronje yang datang ke Indonesia, khususnya di Priangan pada 1889.

Sementara itu, buku ini juga memaparkan alasan mengapa pemerintah Hindia-Belanda ingin sekali menghancurkan kekuatan Islam. Salah satunya yakni, dengan melakukan westernisasi pendidikan dan marginalisasi pendidikan pesantren. Penjelasan ini tergambarkan dari ucapan Snouck Hurgronje yang mengatakan bahwa, “Pesantren hanya media pembelajaran yang tidak berarti dan para santri hanya membuang waktunya karena hanya menelusuri ilmu moral belaka. Tetapi, pemikiran tersebut nampaknya keliru. Terbukti pada tahun 1888 terjadi pemberontakan Petani Banten yang banyak dimotori oleh para kyai yang berasal dari pesantren.

Lika-liku perjuangan para tokoh agama Islam dalam menghadapi pemerintah kolonial dijelaskan secara gamblang dalam buku ini. Ketika pemerintah kolonial sudah meninggalkan negeri ini, maka muncullah penjajah baru yang semakin sadis dalam memperlakukan pribumi. Dalam perjalanannya, peranan para kyai dan santri dari pesantren-pesantren yang ada di Priangan tidak dapat terelakkan. Mereka berjuang dan berjihad di jalan Allah untuk melawan penjajah. Dari sini, penulis memaparkan banyak tokoh yang terlibat di dalamnya. Antara lain dilakukan oleh Kyai Haji Zaenal Mustofa yang sangat tersohor berkat kerja kerasnya dalam melakukan perlawanan terhadap pemerintah Jepang.

Hal yang paling menarik dari buku ini adalah ketika penulis menggambarkan pola hubungan antar-pesantren dengan pesantren lainnya hingga pada akhirnya membentuk sebuah jaringan yang saling berhubungan satu sama lain. Pola hubungan tersebut dapat terbentuk berdasarkan ikatan keilmuan, geneologis, kesamaan tarekat, dan kesamaan visi dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah. Penulis memaparkan jaringan pesantren secara lengkap, baik pesantren yang ada di Tasik Malaya, Ciamis, Garut, Sumedang, Bandung, dan yang lainnya.

Setiap karya ilmiah pasti tidak akan pernah luput dari kekurangan. Terlepas dari kekurangan tersebut, buku ini sangat pantas dibaca oleh setiap kalangan, terlebih bagi para pelajar yang mengkaji tentang sejarah Islam di Jawa Barat. Karena, dalam buku ini, banyak menyajikan informasi-informasi baru yang tentunya sangat penting untuk diketahui khalayak.

Meskipun fokus utama buku ini mengenai jaringan pesantren di Priangan pada tahun 1800-1945, tetapi semua yang terkait dengan pesantren juga dibahas secara detail oleh si penulis. Oleh karena itu, buku ini kaya informasi dan kaya akan sumber-sumber sejarah dan referensi, sehingga buku Sejarah Pesantren: Jejak Penyebaran dan Jaringannya di Wilayah Priangan (1800-1945), bisa dijadikan sebagai rujukan utama dalam mengkaji keislaman atau pesantren yang terdapat di wilayah Priangan.

Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Perumahan Margawangi, Jalan Margawangi VII No.5, Ciwastra, Kota Bandung 40287. Telp. 0227511914

Social Profiles

Facebook