Karena Summarecon Habitat Burung Kuntul Kian Menghilang

Proyek pembangunan di Kota Bandung kian banyak ditemui di wilayah pinggiran, salah satunya pembangunan yang sedang berlangsung di kawasan Gedebage. Sejak tahun 2014 silam, Gedebage akan dicanangkan menjadi kawasan teknopolis saat Wali Kota Bandung masih dipimpin oleh Ridwan Kamil.

Ratusan hektar sawah terus diurug dan dibangun puluhan hunian untuk kalangan elit. Dari tahun 2014, pembangunan ini dilakukan oleh pemegang tender, Summarecon, yang sudah diketuk palu oleh pemerintah kota kala itu. Proyek pembangunan ini pun, sebetulnya menimbulkan bahan kritik penyebab terjadinya banjir yang terus membesar. Lantaran tidak adanya kajian mendalam terhadap dampak lingkungan serta perhatian yang serius pada konservasi alam.

Sebelum pengurugan berlangsung, di Rancabayawak, terdapat sebuah habitat puluhan ekor burung kuntul yang dikenal dengan Kampung Belekok. Namun, saat pembangunan proyek Summarecon terus membabad kawasan Rancabayawak, puluhan burung kuntul itu satu per satu kian menghilang dari habitatnya semula.

Sore itu, hari Selasa, 4 Februari 2020, saya dari Cibiru menuju Rancabawayak hendak melakukan wawancara dengan warga Rancabawayak, yang sebelumnya sudah janjian dengan Teni Rohaeni. Teni merupakan  salah seorang warga Rancabayawak yang kini bekerja di Summarecon. Di lokasi yang sudah dijanjikan, saya menunggu di bawah dapuran awi, dan menyaksikan pepohonan yang menjadi tempat burung kuntul hinggap. Sembari berjalan menuju tempat yang enak untuk menggali informasi, kami mengobrol dan melihat-lihat kondisi kawasan Rancabayawak saat ini.

Pukul 17.30, saya bertemu dengan Pak Ujang selaku ketua RW 02 Rancabayawak, yang awalnya akan mewawancarai Teni Rohaeni. Tetapi, Teni langsung mengarahkan saya kepada Pak RW untuk bertanya-tanya lebih lanjut dan dipersilakan ke tempat duduk ruang tamu yang tertata dengan leter U.

Di ruangan itu, saya masih mendengar suara burung kuntul yang bercicit-cuit. Meski habitatnya semakin rusak oleh proyek pembangunan yang begitu masif.

“Sore seperti ini, burung kuntul memang masih recet, Jang” tutur Pak RW sambil membetulkan posisi peci hitamnya.

Sebagai ketua RW, Pak UJang sangat menyesalkan kebijakan dan strategi pembangunan yang dikeluarkan oleh pemimpin daerah. Kebijakan tersebut malah merugikan lahan-lahan pertanian dan perkebunan, apalagi dapat menimbulkan kerusakan suatu habitat alam makhluk hidup.

Menurut Pak Ujang, masifnya pembangunan dari sekitar tahun 2014, menjadi awal mula hilangnya ciri masyarakat Sunda yang berefek ke segala lini dari mulai budaya sampai ekosistem makhluk hidup.

“Di sini, dulu ada rawa purba dan beberapa tempat yang disebut tanah air susu, sehingga ketika tempat tersebut diubah menjadi komplek dan hujan besar pun turun, maka nggak aneh banjir akan melanda. Ya karena, emang salah tempat.” ujarnya.

Pak Ujang menjelaskan, dalam proyek ini Summarecon awalnya berniat untuk membangun bangunan tinggi hingga puluhan tingkat, namun sekarang malah membangun beberapa bangunan yang menjajar dan menopang kerusakan habitat.

“Tempat di sekitaran sini, jika mau dibuat pembangunan infrastruktur, syaratnya mesti membuat pondasi lebih dari seratus batu pondasi panjangnya dan dibuat penopang yang berupa pepohonan” ungkap Pak Ujang.

Pepohonan sebagai penopang bagi Pak Ujang, tak hanya sebatas untuk menjaga keaneka ragaman hayatinya, tetapi juga untuk penopang pemecah angin. Karena menurutnya, di daerah Rancabayawak itu merupakan salah satu daerah yang rawan terhadap bencana alam seperti puting beliung.

“Nah, Jang, sama Pak Ujang ditawarkan seperti itu ke Summarecon, cuman Summarecon mikir lagi. Untuk pendanaan penopang tersebut, hitung-hitungannya mungkin mereka akan rugi dengan pemasukannya. Sebab untuk membuat penopang bisa saja lebih tinggi modalnya ketimbang pemasukannya”, tambah Pak Ujang.

Sampai saat ini, apa yang dibutuhkan oleh warga Rancabayawak tak pernah digubris oleh pihak berwenang. Hal ini didasarkan pada kebutuhan untuk menjaga keseimbangan lingkungan.

“Dari kesemua yang kami minta pada pemangku kebijakan dan investor yang punya proyek, gak pernah keinginan kami didengar secuil pun. Ketika sudah gak didengar, kini ciciren itu sudah muncul satu-satu”.

Untuk menjaga ekosistem, Pak Ujang memulai kembali pada budaya-budaya masyarakat yang sudah redup. Seperti pembentukan 40 komunitas untuk warga Rancabayawak hingga kegiatan-kegiatan tatanen, seperti memanfaatkan plastik untuk membuat balong, tata kelola dan kerja sama dalam bertani hingga ternak ayam untuk kebutuhan ekspor.

Setiap tahunnya, warga Kampung Belekok Rancabayawak selalu melaksanakan pesta rakyat yang diistilahkannya dengan “Hajat Lembur”. Hajat Lembur menjadi cara warga untuk mensyukuri hasil tatanen-nya. Kegiatan tersebut menghadirkan raramean seperti dongdang, juga memamerkan aneka ragam hasil kekayaan alam di antaranya ubi, beras, segon dari para petani.

Kini, kegiatan tersebut gak lagi berjalan, karena sawah hijau yang terhamparluas hanya tinggal tanah urugan.

“Maka untuk kondisi genting begini muncul pertanyaan: kamarana orang Sunda teh atuh?” ujar Pak Ujang.

Alumnus Pendidikan Bahasa Arab UIN SGD Bandung yang kini turut berkontribusi sebagai salah satu redaktur situmang.com

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Perumahan Margawangi, Jalan Margawangi VII No.5, Ciwastra, Kota Bandung 40287. Telp. 0227511914

Social Profiles

Facebook