Basisir Pangandaran

Ilustrasi: id.wikipedia.org

“Kita akan bermain ke laut,” begitu saya katakan pada istri dan anak-anak, menanggapi surat yang saya terima dari Fakultas: surat yang berisi tentang informasi mengenai “ulin ka basisir”.

Beberapa waktu yang lalu, kami melakukan perjalanan ke Pantai Pangandaran. Kami pergi dari sini bersama Keluarga Besar Fakultas Ilmu Seni dan Sastra (FISS) Universitas Pasundan Bandung. Istri dan anak-anak, tentu saja hadir.

Karena, perjalanan ini adalah salah satu kegiatan rutin yang hampir setiap tahun diselenggarakan oleh fakultas sebagai bagian program “Family Gathering”. Kira-kira, sebanyak 6 bus kami berangkat dari kampus, Jalan Setiabudi, Bandung. Saya dan keluarga sudah hadir sekitar pukul 4 subuh. Saya sendiri sudah bangun pagi-pagi sekali: sekitar pukul 3 pagi, dan sedikit terhuyung-huyung saat masuk ke kamar mandi. Segar tak kunjung datang, pusing malah melanda. Tapi tak apa, demi kebahagiaan untuk bermain bersama.

Hujan semalaman membuat cuaca bertambah dingin. Tiba di kampus beberapa teman terlebih dahulu hadir. Kami masih menunggu, karena bus belum datang. Sekarang kalau kami bepergian anak-anak sudah bisa membawa barang bawaan dan keperluan sendiri. Tak perlu rumit karena mereka masih kecil, dan jauh lebih santai.

“Bus akhirnya datang”, begitulah tuturan dari koordinator acara. Bus baru saja tiba dari Yogyakarta, hingga kami tak sempat membersihkan. Kami mesti menunggu beberapa saat, karena bus yang akan kami tumpangi sedikit dibebenah.

Sekitar pukul 6 pagi kami sudah ada di dalam bus, mencari tempat duduk dan menempatkan pantat. Saya sebenarnya tidak terlalu suka naik bus, kalau transportasi jarak jauh saya lebih suka naik kereta api atau kendaraan pribadi seperti mobil dan motor. Tapi, demi kebersamaan, saya coba menikmati. Sempat terlintas, untuk menggunakan roda dua, pergi secara terpisah bersama istri dan anak-anak. Namun takut mengganggu suasana.

Kursi anak-anak kami, tepat berada di depan. Kursi yang kami duduki, kalau perlu apa-apa tidak perlu jauh bergerak. Di perjalanan ada dua kali kami menjemput kerabat yang menunggu di jalan sekitar Rancaekek. Katanya kalau harus ke kampus dahulu, terlalu jauh dan mengambil waktu. Jadi lebih baik menunggu bus lewat. Lebih ekonomis dan praktis.

Di perjalanan tak ada kendala sama sekali. Semua terkendali. Namun, hanya kejadian kecil saja. Beberapa penumpang mabuk darat, dan koordinator bus, sigap dalam bertindak. Plastik hitam dipersiapkan, jika ada penumpang yang membutuhkan, tempat untuk muntah tidak berceceran di dalam bus.

Makanan pagi disediakan, semacam makanan cepat saji. Saya langsung sikat habis. Karena maklum, di rumah tidak sempat sarapan. Obat antimabuk sudah tersedia. Begitu juga semacam obat gosok kayu putih. Bila terasa pusing sedikit tinggal acungkan tangan. Koordinator rombongan cepat bertanya, “apa yang diperlukan?”. Termasuk melakukan absensi pada penumpang bus, takut ada yang tertinggal.

Koordinator bus kami, Mang Ujun, sehari-hari bertugas sebagai staf laboran di DKV UNPAS. Kira-kira 3 kali bus berhenti, dan memberikan kesempatan bagi kami, penghuni bus untuk ke kamar mandi atau meluruskan pinggang. Ditambah satu kali berhenti untuk melaksanakan salat jumat.

10 jam di perjalanan, akhirnya kami tiba di Pantai Pangandaran dan bergegas menurunkan barang yang kami bawa. Penyedia kunci kamar hotel sudah menunggu. Tinggal menyebutkan nama, kunci langsung berpindah tangan. Sedikit melempangkan pinggang di kasur kamar hotel, setelah berjam-jam di atas bus, badan terasa agak tidak keruan. Setelah itu, badan cukup terasa nyaman, dan kami bersiap makan malam.

Ada acara menarik sehabis kami makan malam. Acara lanjutan yang sangat kami tunggu, yaitu pembagian hadiah. Lucu juga, ketika menyaksikan orang yang berharap-harap cemas akan hadiah yang dia dapatkan. Ada yang mendapatkan Umroh, terlihat bingung. Karena baginya tidak siap untuk pergi ke tanah suci. Ada yang ingin hadiah Umroh tapi dapat kulkas. Ada yang berharap dapat mesin cuci, karena mesin cuci yang dia miliki, rusak. Akhirnya dia dapat seperti apa yang diinginkan. Saya, seperti biasa, ikut berbahagia bagi yang memperoleh hadiah.

Keesokan paginya, saya berjalan menyusuri pantai. Saya ingat pada salah satu lagu Doel Sumbang, “Sisi Laut Pangandaran”. Kira-kira, begini liriknya: Harita usum halodo panjang, calik paduduaan dina samak salambar, hmmm..saksina bulan anu sapotong, hmmm..saksina bentang anu baranang, aya kasono aya katresna, aya kadeudeuh aya kanyaah, ngabagi rasa bungah jeung bagja duaan, sisi laut pangandaran, dan seterusnya.

Saya rasa, Pangandaran memberi banyak arti dalam membangun rasa romantis seorang Doel Sumbang. Pada zamannya, “Sisi Laut Pangandaran”, menjadi salah satu lagu yang sering didendangkan bagi para penggemar lagu Sunda. Dan saya salah satunya. Agak berbeda memang, lagu “Sisi laut Pangandaran” bila dibandingkan dengan lagu-lagu yang biasa diciptakan oleh Doel Sumbang. Biasanya, sarat dengan kritik sosial. Akan tetapi sisi romantismenya hadir  dalam lagu “Sisi laut Pangandaran”. Walaupun terdapat sesuatu yang cukup mengganjal dalam penggunaan bahasa Sunda. Seperti yang diungkapkan oleh Kang Hawe Setiawan: samak seharusnya bukan salambar, tapi saheulay. Dan saya sepakat dengan apa yang diungkapkan oleh Kang Hawe.

Samak, dalam Kamus Basa Sunda R.A. Danadibrata, nyaeta amparan nu dijieun tina pandan dianyam. Hari ini, saya kira, samak, menjadi ikon masa lalu Pangandaran. Seringkali, saya, di masa lampau, untuk sekadar melepas penat berjalan-jalan ke pantai naik motor. Kerap kali juga, pantai yang saya kunjungi adalah Pangandaran. Mungkin karena, tidak jauh dari Bandung. Setiap berjalan di pinggir pantai, pasti ada yang menawarkan samak sebagai alas duduk di tepi pantai. Sekadar untuk menikmati suasana dan merasakan udara pantai. Mungkin juga sebagai alas untuk memadu kasih bagi yang datang berpasangan.

Tidak ada yang menawarkan samak di pagi hari itu. Begitu juga dengan warung-warung yang biasa menjadi pemandangan di sepanjang pantai. Pangandaran hari ini terlihat bersih, tertata dan modern. Jauh dengan pemandangan 20-30 tahun ke belakang. Anak sulung saya bilang, suasana Pangandaran seperti di Bali, hanya kurang bule yang bertelanjang dada atau memakai bikini, serta simpang siur di jalan.

Salah satu sejawat saya di kantor, Muammar Mochtar, berjalan-jalan ke Batu Karas bersama istrinya dengan menyewa kendaraan roda empat. Berjarak sekitar 30 KM dari Pangandaran, sepulangnya dari Batu Karas, kami mengobrol sejenak. Menurutnya, Batu Karas sudah rusakdan banyak sampah di mana-mana. Belum lagi tembok-tembok yang kotor oleh coretan.

Batu Karas menyimpan kenangan yang cukup melekat di benak saya, kalau saya pergi ke Pangandaran, saya tidak akan melewatkan kesempatan untuk berkunjung ke Batu Karas. Bagi saya, Batu Karas adalah tempat mencari ketenangan. Rasa sedih menyeruak. Kesenangan dan kesedihan hadir bersamaan.

Saya kira, basisir Pangandaran dan Batu Karas, banyak menyimpan kekuatan dan kenangan. Bahkan, dapat membangun empati romantis. Sangat disayangkan kiranya, bila kita tidak memperhatikan hal itu. Ulah dugi ka rasa katresna kerep ngagedur ukur amarah, begitu yang disampaikan oleh Doel Sumbang dalam lirik selanjutnya.***

Dosen Desain Komunikasi Visual Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Unpas

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Perumahan Margawangi, Jalan Margawangi VII No.5, Ciwastra, Kota Bandung 40287. Telp. 0227511914

Social Profiles

Facebook