Seeng dan Benda Lainnya

Dokumentasi: Mamat Sasmita

Bagi orang Sunda umumnya pada masa lalu, seeng adalah salah satu alat untuk menanak nasi. Menurut kamus Sunda-Inggris susunan Jonathan Rigg (1862) seeng terbuat dari tembaga. Bentuknya ramping di tengah, ke bagian atas ada semacam caping melebar, sedangkan ke bawah semakin melebar. Bagian alas pun sedikit menggembung, sehingga bila ditegakkan di tempat datar akan miring seperti akan terbalik (lenjong). Seeng tembaga yang bagus, permukaannya seperti bersisik, akibat pukulan teratur saat pembuatannya. Gunanya untuk menjerang air dan mengukus nasi (nyeupan sangu).

Tinggi seeng sekitar 75 cm, diameter bagian bawah sekitar 35 cm, bagian yang ramping sekitar 25 cm, dan capingnya sekitar 35-40 cm. Ukuran ini tidak mutlak, karena bisa saja ada yang lebih kecil atau sebaliknya. Seeng tidak biasa dipakai untuk merebus makanan seperti ubi jalar, ketela atau yang lainnya.

Bagi para pengguna seeng, ada pamali atau tabu yang patut diperhatikan. Pamali tersebut berkaitan dengan seeng tidak boleh terguling dari atas tungku (hawu), walaupun tidak sengaja. Apabila terjadi demikian, orang yang melakukannya harus diruwat (upacara ritual supaya terhindar dari bahaya). Selain itu, konon “ulah nakol sééng, matak réa sémah” (jangan memukul-mukul seeng, suka banyak tamu)

Alat menanak nasi yang fungsinya hampir sama dengan seeng disebut langseng. Bedanya menanak nasi memakai langseng tidak memakai aseupan. Sebagai gantinya digunakan sarangan, yaitu sekeping logam tipis yang berlubang kecil-kecil hampir di seluruh permukaannya, sebagai lubang untuk jalan uap panas mematangkan nasi yang sedang dikukus. Bagian dasar langseng tidak dibuat gembung. Bentuk langseng ada yang mirip seperti seeng, ada juga yang lurus.

Membicarakan seeng mau tidak mau akan berkaitan dengan benda lainnya seperti leukeur, aseupan, jubung dan dulang. Leukeur terbuat dari pilinan sabut kelapa yang dipadatkan kira-kira sebesar lengan. Kemudian dilingkarkan bertemu ujung, diameternya harus lebih kecil dari diameter dasar seeng. Gunanya untuk tempat menyimpan supaya bisa berdiri tegak dan diletakkan di pinggir hawu.

Dari kata leukeur kemudian muncul peribahasa “neukteuk leukeur meulah jantung, cas kayas paria jingga”. Peribahasa tersebut mengandung arti sudah tidak ada hubungan lagi. Peribahasa ini lebih ditujukan kepada orang tua yang meninggal dan mempunyai anak banyak, keluarga yang ditinggalkan biasanya suka membelah kelapa muda, membelah jantung (bunga pisang) dan memutus leukeur. Ini adalah upaya (palakiah) bahwa yang telah meninggal tidak ada hubungan lagi dengan yang masih hidup, supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Aseupan adalah sebuah kukusan berbentuk kerucut, yang terbuat dari anyaman bambu. Bagian atasnya memakai wengku (semacam jepitan dari bambu) supaya bagian ujung anyaman menjadi kuat. Bagian yang kerucut anyamannya dibuat agak jarang tetapi beras tidak masuk, tujuannya supaya tidak kebluk (nasi yang dikukus cepat matang). Tinggi aseupan antara 30-35 cm dan berdiameter antara 30-35 cm.

Karena aseupan berbentuk kerucut dan bila dibalik akan nampak seperti gunung. Bentuk inilah yang menjadi bentuk utama nasi tumpeng, aseupan sebagai cetakannya. Begitu juga bila dilihat dua dimensi akan nampak seperti segitiga sama kaki. Menurut Jamaludin Wiartakusumah (“Toward Sundanese Aesthetics”, dalam Seri Sundalana 11, 2012), bentuk segitiga adalah salah satu bentuk utama dalam estetika Sunda. Bentuk ini juga masih berkaitan dengan bentuk gunung. Sedangkan gunung di dalam kepercayaan lama dianggap tempatnya para dewa dan bersemayamnya para leluhur. Sejalan dengan itu nasi tumpeng (atau congcot, yang berarti puncak) sering disimbolkankan sebagai sebuah gunung. Bagian atas atau puncak nasi tumpeng, disebut puncak manik. Bagian atas ini ada yang diberi telur ada juga yang ditutup dengan daun. Puncak manik sering dilambangkan sebagai usaha dalam hidup agar mencapai puncak (usaha tertinggi) dan mendapatkan yang terbaik atau manik. Kata manik berarti perhiasan terbaik, tapi ada juga yang mengartikan sebagai bagian hitam dari mata manusia (pupil).

Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa bentuk segitiga sebagai stilasi dari aseupan. Hal ini melambangkan tarang baga atau daerah kemaluan perempuan (bagian sakral perempuan atau inti keperempuanan). Hal ini dikaitkan dengan aseupan sebagai alat untuk memasak padi, sedangkan padi adalah representasi dari Dewi Sri. Puncak manik juga sering disebut sebagai inti keperempuanan.

Selain itu, sebagaimana yang terjadi pada leukeur, kata aseupan digunakan juga dalam khazanah ungkapan dan peribahasa Sunda, yaitu “kawas birit aseupan”. Ungkapan ini ditujukan kepada orang yang saat duduk tidak mau diam, sebentar-sebentar bergerak, berdiri atau miring ke kiri atau ke kanan. Ini biasanya ditujukan kepada anak-anak yang tidak mau diam.
Kemudian jubung atau surumbung. Bentuk jubung bulat memanjang seperti ruas yang berongga, terbuat dari anyaman bambu yang kokoh. Gunanya sebagai dudukan aseupan yang berisi nasi sebelum diakeul (karena bentuk aseupan yang kerucut). Ukuran diameter lingkarannya harus lebih kecil dari ukuran diameter lingkaran aseupan dan tingginya harus lebih tinggi dari aseupan.

Sementara dulang terbuat dari kayu utuh yang di bagian tengahnya diberi lubang (cowak) yang dalam sehingga membentuk sebuah ceruk. Dulang biasanya dibuat dari pohon nangka, karena dianggap kuat dan mempunyai serat yang halus sehingga air tidak cepat meresap ke pori-pori kayu, awet dipakainya dan mempunyai warna kekuning-kuningan. Bentuknya bulat dan agak mengecil ke bagian bawah, tingginya antara 40-45 cm, dengan diameter bagian atas sekitar 45 cm dan diameter bawah sekitar 30 cm.

Fungsi benda ini adalah untuk ngagigihan dan ngakeul sangu. Ngagigihan adalah bagian dari proses menanak nasi yaitu beras yang dikukus di atas seeng memakai aseupan, setelah dirasa cukup (timus) ditumpahkan ke dalam dulang dan disiram air panas secukupnya, dibiarkan beberapa lama sehingga airnya meresap ke beras menjadi setengah matang. Supaya gigih (beras setengah matang) menjadi nasi, gigih tersebut dimasukkan lagi ke dalam aseupan dan dikukus ulang di atas seeng. Ngakeul adalah proses mempercepat penguapan dengan dibolak balik memakai cukil dikipasi dengan hihid (semacam kpas yang terbuat dari anyaman bambu).

Dari kata dulang juga muncul beberapa ungkapan-peribahasa, yaitu “awewe mah dulang tinande” (artinya perempuan itu harus berbakti ka suami, menurut kehendak suami); “Nyaah dulang” (artinya menyayangi anak dengan cara yang salah sehingga anak itu manja berkelebihan seperti yang kurang didikan); dan “bilatung dulang” (artinya banyak anak yang masih kecil-kecil ada juga yang mengartikan sebagai remah nasi yang menempel pada dinding dulang).

Menilik keberadaan ungkapan-peribahasa maupun tabu sebagai kearifan lokal yang berkaitan dengan seeng, leukeur, aseupan dan dulang, nampaknya kehadiran benda-benda tersebut dalam kehidupan orang Sunda sudah lama dikenal. Walaupun tidak diketahui secara pasti sejak kapan benda-benda tersebut mulai ada. Yang pasti kehadiran kiasan-kiasan itu tentu setelah ada bendanya, akibat hasil pengamatan dan keterampilan berbahasa serta analogi dengan kehidupan orang yang menggunakannya.

Adalah pengelola Rumah Baca Buku Sunda juga seorang penulis buku, "Ma Inung Newak Cahya".

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Perumahan Margawangi, Jalan Margawangi VII No.5, Ciwastra, Kota Bandung 40287. Telp. 0227511914

Social Profiles

Facebook