Algemeene Studieclub

Repro dokumentasi FWP-JB

Didirikan tahun 1925, Algemeene Studieclub merupakan kelompok kajian yang terbentuk di  Bandung. Mula-mula, kelompok ini diinisiasi oleh tiga orang tokoh: Katmira Karnadijdaja, Sajoedin dan Soerjopranoto. Namun pada perkembangannya, studi ini dijalankan oleh Sukarno, Soenario, Anwari dan Iskaq Tjokrohadisoerjo. Pada 17 Januari 1926, Algemeene Studieclub mulai diumumkan secara terang-terangan di Bandung, setelah diadakan rapat yang dihadiri oleh 60 orang, termasuk Tjipto dan Darmawan Mangoenkoesoemo.

Menurut Ricklefs, terbentuknya Algemeene Studieclub adalah buntut dari kehadiran Studieclub yang berdiri di Surabaya oleh Dr. Soetomo pada tahun 1924. Dalam Nasionalisme Baru: Intelektual Indonesia Tahun 1920-an, Frank Dhont menyebutkan jika Algemeene Studieclub mempunyai tujuan untuk meneliti topik teoritis mengenai Indonesia dan topik internasional. Tujuan ini sebetulnya diungkapkan oleh Sukarno sendiri selaku anggota sentral yang menjalankan roda organisasi. Meski disebut sebagai kelompok kajian, Algemeene Studieclub tidak memiliki kecenderungan pada masalah lain, dan lebih tepat dianggap sebagai organisasi politik non-koperasi karena mempunyai rencana atau rancangan atas kemerdekaan secara utuh dan bergerak cepat.

Saat pemberontakan Partai Komunis yang terjadi tahun 1926, pemerintah Hindia Belanda melarang partai ini beroperasi. Banyak anggotanya yang dihukum dan diasingkan ke Boven Digul, namun ada juga yang berhasil lari dari cengkraman penguasa dan turut bergabung dengan Kelompok Bandung ini. Van Niel menyebutkan, jika hubungan erat anggota Algemeene Studieclub dengan program Komunis sangat besar pengaruhnya terhadap klub studi. Hal tersebut dapat dilihat pada prinsipnya yang menolak bekerjasama dengan pemerintah Hindia Belanda.

Kehadiran Algemeene Studieclub di Bandung, disebut-sebut membawa angin segar dalam pergerakan aktivis ketika itu. Selain ditunggangi oleh berbagai tokoh terkemuka, kelompok studi ini dianggap sebagai cikal bakal Partai Nasional Indonesia. Setelah tragedi pemberontakan yang gagal dilakukan oleh PKI, muncul reaksi dari para tokoh nasionalis. Salah satunya datang dari Sudjadi, wakil PI (Perhimpunan Indonesia) yang berada di Indonesia. Dalam Jalan ke Pengasingan: Pergerakan Nasionalis Indonesia Tahun 1927-1934, John Ingleson menjelaskan bahwa pada 20 Desember 1926, Sudjadi mengabari Hatta jika dirinya, Iskaq dan Budhyarto akan mendirikan sebuah partai baru. Maka pada tahun 1927 setelah Sudjadi dan yang lainnya mendapat rancangan dari Mohammad Hatta, mereka langsung mengumumkan tujuannya untuk mendirikan Sarekat Ra’jat Nasional Indonesia (SRNI) dan menggelar Kongres Nasional pada bulan Juli untuk meresmikan gerakan baru itu.

Pada awal tahun 1927, pasca pengumuman terkait rencana pembentukan SRNI pada bulan Juli, terciptalah sebuah inisiatif untuk perpindahan tangan dari Mohammad Hatta ke suatu kelompok nasionalis. Ingleson mencatat, jika perpindahan tangan itu lantaran Hatta yang masih berada di negeri Belanda relatif terbatas dalam melakukan pergerakan. Sedangkan tindak lanjutnya diberikan kepada Kelompok Studi Umum yang berada di Bandung.

John Ingleson mengungkapkan, bila para pimpinan Kelompok Studi Umum mulai merencanakan apa saja yang harus disiapkan untuk organisasi baru itu. Pada bulan April 1927, dilakukan sebuah pertemuan di kediaman Sukarno untuk membicarakan perkembangan pembentukan organisasi itu dan menyiapkan Kongres Nasional yang akan diselenggarakan pada bulan Juli. Perkumpulan itu dihadiri oleh Iskaq, Sunarjo, Budhyarto, Tjipto Mangunkusumo, J. Tilaar dan Sudjadi. Adapun Sartono dan Anwari  berhalangan hadir dan masih tercatat sebagai panitia Kongres Nasional.

Maka, pada tanggal 4 Juli 1927, diadakan sebuah pertemuan di Bandung dan telah diputuskan bahwa telah terbentuk suatu partai baru yang dinamakan dengan Perserikatan Nasional Indonesia (PNI). Anggaran Dasar yang telah disusun oleh Sudjadi dan Budhyarto untuk SRNI, digunakan untuk Anggaran Dasar PNI. Lalu, terpilihlah Pengurus Pusat sementara yang terdiri dari Sukarno sebagai ketua, Iskaq, sekretaris merangkap bendahara dan Dr. Samsi sebagai komisioner.

Pada Mei 1928, nama Perserikatan Nasional Indonesia berganti menjadi Partai Nasional Indonesia. Dengan tujuan, untuk memerdekakan Kepulauan Indonesia dalam sebuah capaian non-koperasi dan organisasi massa. “Inilah partai politik penting pertama yang beranggotakan bangsa Indonesia, semata-mata mencita-citakan kemerdekaan politik, berpandangan kewilayahan yang meliputi batas-batas Indonesia yang nantinya berlaku dan memiliki ideologi nasionalisme sekuler”, tulis M.C. Ricklefs dalam bukunya, Sejarah Indonesia Modern.

Mahasiswi, penyuka Anime Naruto dan tukang beres-beres rumah kalau lagi sepi.

Bobodoran

Ngahuma

Langlayangan

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Perumahan Margawangi, Jalan Margawangi VII No.5, Ciwastra, Kota Bandung 40287. Telp. 0227511914

Social Profiles

Facebook