Peuyeum Bol

Ilustrasi: picbear.com

Peuyeum bol, adalah perpaduan tape singkong dan terigu yang bentuknya dibikin bulat menyerupai bola-bola. Bahan lainnya, ditambah sedikit baking powder dan mentega agar mengembang. Pada masyarakat Jawa Barat, makanan ini sering disuguhkan dalam waktu tertentu, terutama di pagi hari. Biasanya, dihidangkan beserta makanan lain, seperti ulen, bala-bala, dan gehu, disertai teh hangat tanpa disaring. Peuyeum bol, juga cocok didampingi dengan kopi hitam hangat, tanpa ditaburi gula. Karena makanan ini rasanya manis yang disajikan bersama taburan tepung gula.

Untuk kemunculannya, belum diketahui kapan pertama kali makanan ini diproduksi. Namun setidaknya, pada agresi Belanda kedua, istilah peuyeum bol, begitu populer di masyarakat Bandung kala itu. Ini bermula ketika sekelompok pemuda Bandung kehilangan gairah untuk melawan tentara Inggris dan Belanda yang menduduki beberapa bagian di wilayah Jawa, termasuk di Bandung.

Klaim yang menyebut bahwa para pemuda Bandung sebagai peuyeum bal itu mengemuka, saat seseorang menyindir lewat saluran radio yang tersiar di Surabaya. Hal ini disebabkan karena mental lembek seperti peuyeum begitu ditonjolkan para pemuda di Bandung kala menghadapi Inggris dan Belanda. Namun, setelah pertempuran bergejolak di Surabaya pada 10 November 1945, para pemuda tersebut merasa terpecut dan melakukan serangan balik terhadap musuh.

“Apa yang terjadi pada 24 November 1945 malam memang melebihi sekadar sentilan, namun hal itu sebenarnya dimaksudkan untuk bisa lebih dahsyat lagi. Setelah pertempuran dahsyat di Surabaya pada 10 November, di mana para pemuda mati-matian berjuang melawan seluruh kekuatan militer Inggris, mereka yang dipanggil ‘pemuda peujeumbolle’ menjadi semakin terbakar”, tulis John R.W. Smail dalam bukunya, Bandung Awal Revolusi 1945-1946.

Di samping itu, dalam kebiasaan orang Sunda, dua jenis peuyeum begitu lazim dipertemukan: peuyeum sampeu dan peuyeum ketan. Peuyeum sampeu, tentu, terbuat dari singkong yang dipermentasi. Sedangkan peuyeum ketan, dibuat dari permentasi ketan hitam atau ketan putih.

Untuk peuyeum sampeu sendiri, boleh jadi, sudah hadir di tengah masyarakat Sunda sejak satu abad yang lalu. Hal ini dapat kita amati melalui beberapa penggalan kalimat dalam buku Roesdi djeung Misnem (jilid I), yang terbit kira-kira tahun 1911:

Peujeum sampeu dagangan ti Rantjapoeroet

(Tape singkong dagangan dari Rancapurut)

Dijoeal doea sadoeit

(Satu uang dijual dua)

Diboengkoesan daoen waroe

(Dibungkus dengan daun waru)

Ditoeroeban daoen djati

(Ditutupi dengan daun jati)

Katoeangeun anoe ompong

(Makanan untuk yang ompong)

Pada baris pertama disebutkan, peuyeum sampeu dagangan ti Rancapurut. Yang mungkin saja dibuat pertama kali di daerah Rancapurut. Jika merujuk pada peta wilayah Jawa Barat,  Rancapurut terdapat di kelurahan Rancamulya, Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang. Sehingga dapat diasumsikan, bahwa peuyeum sampeu diproduksi pertama kali di kawasan Sumedang.

Bahan dasar peuyeum sampeu, tentu saja dari singkong. Sebelum dipermentasi menjadi peuyeum, konon, orang Sunda sudah terbiasa memakan singkong. Baik itu singkong yang direbus, maupun yang dibubuy (dimasukkan ke dalam bara api).

Sejak zaman kolonial Belanda, singkong memang sudah banyak tumbuh di daerah Jawa Barat. Tapi, umbi-umbian ini, sebetulnya, bukan tanaman asli dari Indonesia. Menurut Sutan Sanif dalam bukunya yang berjudul, Sampeu, bibit tanaman singkong awalnya diperoleh dari Brazil. Tidak terlacak, kapan awal mula singkong datang ke Indonesia. Namun, menurutnya, peredaran bibit singkong dibawa terlebih dulu ke Afrika, lalu ke Madagasakar, ke India, Myanmar, Thailand, Kuci, ke Cina, maka sampailah di Indonesia. Menurutnya, tanaman singkong ini sudah tersebar ke seluruh pelosok Indonesia. Bahkan, di bagian Timur, singkong jadi bahan utama pengganti nasi.

Selain daging atau buahnya yang sangat bermanfaat, daun singkong juga biasa dijadikan lalab atau buntil, terutaman bagi orang Sunda. Lalu, kulitnya dioseng menjadi kadedemes, yang dimasak bersama bahan rempah-rempah lainnya.

Malah, selain peuyeum, banyak makanan khas Jawa Barat berbahan dasar singkong. Sebut saja, getuk, putri noong, misro, ongol-ongol dan penganan lain yang bisa mengganjal perut pengganti nasi. Di musim penghujan sekarang ini, baik peuyeum bol atau olahan singkong lainnya, akan sangat cocok bila dihidangkan setiap saat.

Pekerja serabutan. Saat ini, didaulat untuk mengurus situmang.com.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Perumahan Margawangi, Jalan Margawangi VII No.5, Ciwastra, Kota Bandung 40287. Telp. 0227511914

Social Profiles

Facebook