Didi Kartasasmita: Orang di Balik Layar Pembentukan Tentara Indonesia

Foto: Abdul Hamid

Pasca Proklamasi Kemerdekaan didengungkan, Republik Indonesia masih belum aman. Ancaman serdadu Jepang masih di depan mata. Sementara kedatangan Sekutu untuk memulangkan tentara Jepang telah ditunggangi NICA. Pada situasi terjepit itu, ada seorang perwira kelahiran Tanah Pasundan yang sedang mengamati keadaan. Ialah Didi Kartasasmita, yang pernah menjadi bagian dari tentara Belanda, KNIL. Untuk mengamankan keadaan ketentaraan RI, Didi kemudian bergerak untuk meminta pengakuan kemerdekaan RI dari para perwira mantan KNIL.

Lembar maklumat tersebut mesti dibubuhi tanda tangan para perwira KNIL kelahiran pribumi. Isinya berupa pernyataan para perwira tersebut memilih berpihak pada Republik Indonesia. Langkah tersebut bertujuan untuk membendung upaya NICA yang sedang menggebosi para mantan KNIL agar berjuang membela Belanda.

“Kalau rekan-rekan saya mantan opsir KNIL sudah banyak yang menyeberang ke pihak NICA, tentu akan menyulitkan RI,” ujar Didi Kartasasmita (hlm.101).

Saat itu, keamanan Indonesia sedang dikawal oleh Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan para gerilyawan di berbagai daerah. Didi menanggapi pertahanan Indonesia kala itu tidak efektif. Sehingga dengan sukarela ia menawarkan diri untuk terlibat dalam pembenahan bidang pertahanan itu.

Keinginannya disambut baik oleh Amir Sjarifuddin, selaku Menteri Pertahanan kala itu. Selain berasumsi kedatangan NICA akan merugikan Indonesia, Amir juga mengatakan bahwa pemerintah sedang berencana untuk membentuk tentara. Sehingga kedatangan Didi sangat dibutuhkan. Ia pun mendapat respons yang positif dari dua rekan KNIL lainnya yakni Samidjo dan Soedibio. Kemudian Samidjolah yang menyusun isi maklumat hasil perundingan mereka.

Perwira kelahiran Ciamis itu sudah berpikir matang-matang soal usaha penggalangan tanda tangan ini. Ia mesti menemui para perwira KNIL tersebut di Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur. Sementara keadaan saat itu terbilang masih belum aman.

Akhirnya pekerjaan itu ia selesaikan sekitar sepekan. Maklumat berhasil diteken oleh  belasan mantan perwira senior KNIL, sebagaimana yang sudah direncanakan Didi. Keterlibatan para senior itu akan berguna untuk mempengaruhi para bawahannya. Tak lain, agar berpihak pada kemerdekaan Indonesia.

Maklumat itu diterima secara antusias oleh Presiden Sukarno. Kemudian ditindaklanjuti dalam rapat kabinet untuk pembentukan tentara pada 15 Oktober 1945. Di forum tersebut Didi didapuk sebagai juru bicara, mewakili mantan opsir KNIL.

Penggalangan tanda tangan tersebut merupakan awal dari keterlibatan Didi dalam pemerintahan Indonesia. Dari Orde Lama hingga Orde Baru. Kontribusi yang paling awal itulah yang sangat bersejarah. Didi berhasil mengumpulkan nama-nama perwira penting, seperti Jenderal Oerip Soemohardjo.  Pada kemudian hari, maklumat tersebut sangat berguna untuk memperkokoh keamanan republik.

Berbeda dengan tokoh penggagas tentara Sunda lain seperti Gatot Mangkoepradja, Didi tidak dekat dengan orang-orang pergerakan. Namun bukan berarti ia buta pada keadaan. Didi sudah menyadari bangsanya sedang dijajah. Pikirannya yang kontra penjajahan tersebut muncul seiring kegiatannya di Spes Patrie, organisasi pribumi  yang ia ikuti saat sekolah di HBS Bandung.

Namun Didi tidak vokal. Ia membicarakan soal penjajahan Hindia Belanda di ruang yang terbatas. Itu semata-mata untuk mengamankan posisinya yang kala itu sekolahnya sedang ditanggung oleh saudaranya. Saat menjadi bagian dari KNIL, ia berusaha untuk mendengar apa yang dirasakan masyarakat sipil dengan bergabung di kegiatan olahraga seperti sepak bola.

Sikap yang bagi orang-orang pergerakan disebut ‘cari aman’, mengantarkan dirinya pada sikap yang skeptis pada keadaan. Misalnya saat Proklamasi Kemerdekaan, ia memerlukan beberapa hari dalam menanggapi situasi itu. Ia khawatir proklamasi tersebut hanya mewakili segelintir orang seperti Sukarno dkk. saja. Sementara masyarakat secara luas tak tahu apa-apa.

“Betulkah beita ini? (Menanggapi proklamasi kemerdekaan yang disuarakan dari radio) Jika ini benar, datangnya kemerdekaan begitu tiba-tiba, serta sama sekali di luar keyakinan saya. Apakah ini kegiatan nasional atau cuma mewakili beberapa gelintir pemimpin atau tokoh politik saja?”, ungkap Didi sebagaimana tercatat Tatang Sumarsono.

Didi bahkan menilai Hindia-Belanda belum punya persiapan untuk merdeka. Kemudian meragukan kekuatan negeri yang agaknya baru punya hasrat secara politik saja. Apalagi mengingat sikap Belanda yang enggan memberikan kemerdekaan begitu saja.

Berbeda dengan sikap politik. Soal kesadaran identitas, sikap Didi tegas untuk memihak tanah airnya saat ditawari bergabung dengan Jepang. Namun ketika pilhannya Jepang atau Belanda, ia memilih Belanda, lantaran sudah punya sumpah setia pada ratu negeri Kincir Angin tersebut. Dan secara terbuka mengaku sebagai sumber mata pencaharian.

Sebetulnya, Didi bisa saja memilih profesi lain. Mengingat prestasi akademiknya yang gemilang. Dari masa pendidikan setingkat sekolah menegah pertama hingga menengah atas selalu meraih juara. Pelajaran yang paling dikuasainya adalah ilmu-ilmu eksak. Kesempatan kuliah di bidang kedokteran, teknik dan hukum sudah ditawarkan padanya dari Dr. Gisolf, direktur HBS, sebelum menerima ijazah HBS. Namun ia lebih menginginkan profesi yang berupa ikatan dinas atau tunjangan, agar bisa hidup mandiri dan membantu penghidupan saudara-saudaranya. Maka yang ia pilih adalah Akademi Militer Karajaan, KMA Breda.

Ia lulus dari akademi militer itu dengan pangkat letnan dua pada Juni 1935. Kemudian diberi tugas di Batalyon Weltevreden, Batavia. Pada akhirnya ia ditempatkan di Ambon, Ternate, Pulau Geser, sampai Bula. Waktu itu Jepang sudah disinyalir akan memasuki kawasan Hindia-Belanda dari Maluku. Maka ia pun terlibat dalam evakuasi prajurit di Ambon dan menghancurkan ladang-ladang minyak di Bula saat Jepang mulai merangsek masuk.

Pada situasi yang terdesak itu, KNIL sampai diputuskan bubar. Didi lebih memilih ditawan daripada berpihak pada Jepang. Kemudian ia lebih memilih terlibat dalam revolusi Indonesia, meski di kemudian hari silang kepentingan anatarpolitisi dan internal tentara tak terelakan. Hal tersebut yang membuatnya mundur dari ketentaraan dan lebih memilih untuk menjadi warga sipil biasa. Kemudian mengelola yayasan keluarga.

Pegiat Media. Saat ini menjadi relawan untuk odesa.id sekaligus sebagai tim redaksi situmang.com.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Perumahan Margawangi, Jalan Margawangi VII No.5, Ciwastra, Kota Bandung 40287. Telp. 0227511914

Social Profiles

Facebook