Rosidi: Buruh Perkebunan Korban Orde Baru

Beberapa waktu yang lalu, saya membeli sebuah buku biografi dari Andre Katarsis yang judulnya, Cerita Hidup Rosidi, karya Tosca Santoso. Bukunya tidak tipis, tidak juga tebal, hanya 260 halaman. Bisa dibaca sehari tamat kalau ada waktu senggang. Mula-mula, saya menduga, kalau buku ini berkaitan dengan sastrawan cum budayawan Sunda, Ajip Rosidi. Ternyata, dari halaman pertama hingga buku ini dibaca tuntas, tidak ada sedikit pun yang menyangkut ihwal kehidupan Ajip.

Sejak di halaman pembuka, buku karangan Tosca Santoso ini, sudah membuat pembaca seperti saya kian tertarik pada sejarah kelam beberapa tahun lalu. Sebutlah Rosidi, seorang buruh perkebunan berusia 34 tahun, tiba-tiba saja ditanya oleh sekomplotan tentara ketika berkunjung ke rumah pamannya, Mang Ocon, di Cikawung, Cianjur Selatan. Waktu itu, tahun 1965. Tepat di mana kejadian G 30S menewaskan para jendral dan rencana kudeta atas Presiden Soekarno oleh Soeharto beserta konco-konconya. Orang-orang yang terindikasi komunis, sosialis dan haluan kiri lainnya, ditangkap, ditahan dan diasingkan  tanpa diadili sama sekali. Termasuk di antaranya para petani dan kaum buruh, yang belum tentu mereka terlibat dan tahu-menahu mengenai tragedi itu. Tentu saja, hal ini menimpa juga Rosidi saat berada di rumah pamannya di Cikawung. Setelah dimintai identitas oleh seorang tentara yang awalnya menanyakan Salna (Mang Ocon).

Niat ingin memperkenalkan istri barunya, Oneh, kepada sang paman, Rosidi malah jadi korban salah tangkap sesudah memperlihatkan kartu Sarbupri (Sarekat Buruh Perkebunan Republik Indonesia). Tanpa basa-basi, tentara tersebut langsung saja memberikan perintah supaya Rosidi masuk ke dalam mobil menggantikan pamannya.

Oneh, istri Rosidi, nampak pasrah kala suaminya diperintahkan untuk ikut bersama para tentara. Penggerudukan itu, jelas melanggar. Karena tanpa memperlihatkan surat penahanan. Mula-mula, Rosidi dibawa Kantor Polisi Sukanagara. Setelah di sana, ia digiring kembali untuk masuk ke dalam mobil menuju LP Banceuy bersama tahanan lain yang berbeda kampung. Lalu, di Kamp Panembong, Rosidi harus tinggal dan menjalani pengasingan dengan waktu yang tidak singkat.

Selama 13 tahun, Rosidi diperbudak dari tempat ke tempat. Pasca penggerudukan di rumah pamannya, Rosidi banyak merasakan hidup menderita. Dari mulai hidup di balik sel, hingga harus bertahan di suatu kamp yang tidak tersedia makanan sama sekali. Pernah suatu waktu, Rosidi sampai menjual sepatu dan jam tangannya sekadar untuk makan dan merokok ke sesama tapol. Pernah juga ia sampai mencari kodok untuk dimakan, dan menggali pasir di sungai untuk dijual ke penampung. Apalagi, saat itu Oneh beserta empat orang anaknya, memutuskan untuk ikut suaminya di Kamp Panembong. Malah, pernah juga Oneh memotong dua kali rambutnya untuk dijual dan dibelikan sedikit beras.

Ketika menjalani pengasingan, Rosidi dan tapol lainnya, dijaga oleh Dadang Mulyadi, Komandan Kamp Panembong. Rosidi, dan sesama tapol lain sangat beruntung bisa kenal dengan Dadang. Walaupun ia seorang Prajurit Angkatan Darat yang ditugaskan untuk mengawasi para tapol 1965, Dadang berbeda dengan prajurit Orba lainnya, bahwa semua tapol berhak disalahkan, diperbudak dan dibunuh. Dalam pemahaman Dadang, tidak semua yang menjalani tahanan dan pengasingan dianggap salah dan tahu masalahnya. Bahkan kebanyakkan ditulis tonggong, katanya. Inilah yang membuat Dadang dan semua tapol satu sama lain saling kenal baik tanpa ada yang menderita. Hingga menjelang kematiannya tahun 1991, Dadang sempat meminta maaf kepada Rosidi. “Mang Idi (Rosidi) jangan dendam sama saya, kata Dadang Mulyadi, Komandan Kamp Panembong tak lama sebelum meninggal tahun 1991”.

Stempel buruk yang diberikan rezim Orba pada tahanan politik pasca kejadian G 30S, tentu menjadi beban yang berat. Bukan saja ketika menjalani pengasingan, tapi juga setelahnya. Banyak warga yang tidak tahu kejadiannya, mengolok-olok tapol sebagai kaum kafir dan para pembunuh yang mesti dijauhi. Ini pula yang dialami oleh Rosidi. Meski setelah 13 tahun ia bebas dari jeratan pengasingan dan tahanan, namun, bukan berarti ia dapat bebas dengan sebebas-bebasnya. Dalam KTP bekas tapol 1965, tercatat inisial “ET” yang berarti, “Eks Tapol”. Hal tersebut berlaku juga pada Rosidi.

Sebagai mantan tapol, Rosidi dilarang mengikuti pemilu dan menjadi pegawai PNS. Ditambah sentimen dari sebagian masyarkat terhadap Rosidi juga merugikan keluarganya. Beban berat ini mesti ia tanggung di sela-sela kehidupannya yang baru. Setelah lepas dari pengasingan, penderitaan yang dirasakan Rosidi sebagai bekas tapol justru  tidak hilang sama sekali. Seolah-olah akan berakhir saat ia mati.

Buku Cerita Hidup Rosidi, karya Tosca Santoso ini, bagi saya, sangat menarik. Ditulis dengan gaya jurnalisme sastrawi. Apalagi, di dalamnya memuat banyak hal terkait sejarah kelam bangsa Indonesia. Kita mungkin sering membaca kisah-kisah aktor besar di panggung sejarah seperti Sukarno dan Mohammad Hatta, tapi sedikit yang tahu mengenai orang kecil yang besar pengaruhnya seperti Rosidi. Rosidi hanyalah buruh perkebunan yang menjadi korban salah tangkap. Kalau saja rezim Soeharto tidak memvonis Rosidi sebagai tahanan politik, Oneh maupun keempat anaknya, mungkin tidak akan hidup menderita sampai bertahun-tahun, sampai berlarut-larut. Inilah dosa besar yang diperbuat rezim Orde Baru. Hingga saat ini, adakah penyelesaiannya? Wallahu a’lam.

Pekerja serabutan. Saat ini, didaulat untuk mengurus situmang.com.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Perumahan Margawangi, Jalan Margawangi VII No.5, Ciwastra, Kota Bandung 40287. Telp. 0227511914

Social Profiles

Facebook