Pasaran

Ilustrasi: solusiruma.com

Pasaran adalah istilah Sunda untuk alat pengangkut jenazah. Dalam Kamus Basa Sunda R.A. Danadibrata dicantumkan, bahwa pasaran memiliki dua arti: pertama, asal kecap poe-pasar nu bagilir, ka dieunakeun jadi itungan untung-rugi jelema, dan yang kedua, pasaran diartikan, parabot paranti ngagotong mayit Islam ka makam.

Sedangkan menurut Soendaneesch-Hollandsch Woordenboek, susunan S. Coolsma menyebut pasaran, lijkkbaar onder de Inlandsche bevolking wordt zij van bamboe gemaakt en slechts ééns gebruikt (Mirip dengan penduduk [orang] asli, terbuat dari bambu dan hanya digunakan sekali). Coolsma juga menyebut, jika pasaran mempunyai kesamaan makna dengan sariri. Begitu pula dalam Kamus Basa Sunda R.A. Danadibrata, sariri berarti, pasaran.

Dalam bahasa Indonesia, pasaran bisa berarti mayoritas yang dijual di pasar. Kata ini merupakan adjektiva dari kata pasar yang ditambah akhiran –an menjadi pasaran. Namun dalam konteks ini kata pasaran merujuk pada istilah keranda.

Secara bentuk, pasaran berdimensi persegi panjang dan penutup dengan pola setengah silinder. Panjangnya sekitar 2 m dan lebar 60 cm, disertai besi atau kayu yang menonjol sekitar 70 cm untuk pikulan di pundak. Belum tahu kapan pasaran pertama kali dibuat. Kemungkinan, jika merujuk pada pengertian Kamus Basa Sunda R.A. Danadibrata, ada pengaruh Islam yang juga memengaruhi corak atau bentuknya. Hal ini memungkinkan juga jika pasaran sudah lama digunakan oleh masyarkat Muslim beberapa abad silam, terutama yang berada di Tatar Sunda.

Dalam pandangan Ali Romli sebagai dosen Desain Komunikasi Visual Unpas sekaligus Pengurus Mesjid Al-Hasan di daerah Bandung, pasaran yang terdapat di masa lalu dibuat dari bahan bambu dan kayu, dan diproduksi oleh para pengrajin yang biasa dipanggil “bas” atau “dulah”. Adapun bahan dari kayu cenderung bisa digunakan berkali-kali, karena pada dasarnya kayu lebih tahan lama dari bambu. Berbeda dengan masa sekarang, pasaran terbuat dari besi atau stainless steel, yang bentuk dan ukurannya nyaris sama. Sedangkan yang membedakannya hanyalah dari bahan yang diproduksi.

Pasaran dari bambu hanya untuk sekali pakai. Setelah selesai mengantar jenazah, biasanya ditinggalkan di samping makam, atau dimanfaatkan orang sebagai alat pancing untuk memancing ikan. Di mesjid, pasaran biasa ditaruh di sebelah kiri masjid atau tajug. Karena di sebelah kanan mesjid, biasanya digunakan untuk menyimpan “bedug” dan “kohkol”.

Pengguna pasaran adalah insan yang sudah wafat. Tata cara menggunakan pasaran, jenazah diangkat dan ditaruh di atas usungan, ditutup dengan penutup setengah silinder, dan diakhiri dengan pembungkus dari kain beludru yang dominan berwarna hijau. Di masa lalu, pembungkus pasaran menggunakan “samping kebat”.

Pasaran digotong minimal oleh 4 orang, bahkan lebih, tergantung dari berat jenazah. Orang hidup dilarang naik ke atas pasaran karena konon, banyak orang menganggap, “pamali” atau dosa dalam bahasa secara umum. Hal yang langka ditemui saat ini adalah, pasaran yang dipayungi dengan payung “khusus”. Payung, sebagai simbol, memberikan keteduhan bagi jenazah. Pasaran harus dipikul dalam kondisi rata, tidak boleh miring, sehingga, tinggi badan para pemanggul harus sama.

Saat ini, ada pasaran dengan sistem dorong, di bagian bawah usungan ada tambahan alat, semacam dudukan untuk roda. Pasaran sistem dorong berguna bagi jenazah yang akan menuju ke tempat pemakaman agak jauh dari rumah duka.

Ada pula jenazah yang dibawa menggunakan kendaraan roda empat, kendaraan khusus jenazah, pasaran dan jenazah dibawa ke tempat pemakaman menggunakan mobil, apabila tempat ritual pemakaman cukup jauh, yang sulit dilakukan jika dipikul atau didorong.

Iring-iringan pengantar jenazah ke tempat peristirahatan terakhir, baik dipanggul maupun didorong bahkan di dalam mobil, jenazah berada pada bagian paling depan, diikuti para pengantar, dan bagi kaum Muslim diiringi dengan mengucapkan lafadz, Laa Illaha Illallah.

Dosen Desain Komunikasi Visual Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Unpas

Ngopi

Riol Bandung

Langlayangan

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Perumahan Margawangi, Jalan Margawangi VII No.5, Ciwastra, Kota Bandung 40287. Telp. 0227511914

Social Profiles

Facebook