Memaknai Buku “Roesdi djeung Misnem” Melalui Kajian Pascakolonial

Lama setelah buku Roesdi Djeung Misnem terbit sekitar 108 tahun yang lalu, Hawe Setiawan menerbitkan buku berjudul Bocah Sunda di Mata Belanda: Interpretasi atas Ilustrasi Buku Roesdi Djeung Misnem, yang berisi analisa terhadap ilustrasi-ilustrasi karya W.K. de Bruin dalam buku Roesdi Djeung Misnem. Buku Roesdi Djeung Misnem sendiri merupakan sebuah buku bacaan bagi anak-anak sekolah dasar pada masa kolonial Belanda yang terbit pertama kali pada tahun 1911.

Melalui bukunya itu, Hawe Setiawan menjelaskan adanya dikotomi yang terjadi dalam pelaksanaan politik etis, yaitu munculnya kesan merendahkan dari perspektif bangsa penjajah terhadap bangsa terjajah melalui ilustrasi-ilustrasi pada buku yang difungsikan sebagai media pembelajaran untuk mencerdaskan anak-anak di negara jajahan. Sayangnya, bila kita perhatikan sudut pandang yang diilustrasikan de Bruin, kebanyakkan mempengaruhi pemikiran kita, bahwa apapun yang muncul dari bangsa penjajah bersifat lebih modern dan kekinian dibandingkan dengan kebudayaan kaum pribumi.

Apalagi, sosok de Bruin diyakini oleh Hawe Setiawan belum pernah mendatangi Hindia Belanda secara langsung. Sehingga, referensi yang digunakan de Bruin hanya merujuk pada foto-foto dan buku serta gambar-gambar yang dikirimkan oleh anak perempuannya yang tinggal di Hindia Belanda. Berdasarkan pada berbagai sumber refensi tersebut, de Bruin dianggap mampu menghasilkan bermacam ilustrasi yang dinilai menggambarkan lingkungan Hindia Belanda yang sebetulnya tidak realistis.

Kajian yang lebih jauh dilakukan oleh Hawe Setiawan dalam menjelaskan bahwa terdapat makna simbolik dari berbagai ilustrasi tersebut. Seperti yang dijelaskan pada hasil ilustrasi de Bruin terhadap sosok Roesdi atau Ujang Gembru. Gestur Roesdi yang digambarkan sedang menggenggam pisang dan sebuah tongkat. Kedua benda tersebut masing-masing mencitrakan kegemaran Roesdi yang banyak makan dan bermain di kebun. Melalui ilustrasi ini Hawe Setiawan menilai bahwa pemilihan buah pisang memiliki nilai penistaan.

Hal tersebut disebabkan karena pada buku Roesdi Djeung Misnem tidak dijelaskan secara deskriptif mengenai jenis makanan yang sering dikonsumsi oleh Roesdi, sedangkan de Bruin menerjemahkan secara visual mengenai kegemaran Roesdi makan melalui pisang yang secara umum diketahui sebagai makanan kegemaran kera. Sehingga, kehadiran pisang dalam genggaman Roesdi memiliki citra bahwa para penjajah memandang rakyat jajahannya seperti kera yang menunjukkan bahwa masyarakat Eropa menganggap derajat dirinya lebih tinggi dibandingkan dengan rakyat di Hindia Belanda.

Pada analisa lainnya, Hawe Setiawan menjelaskan adanya kekeliruan de Bruin dalam menggambarkan suasana atau lingkungan tempat tinggal Roesdi dan Misnem. Beberapa di antaranya yaitu keberadaan bangku di rumah Roesdi dan Misnem yang digambarkan sebagai tempat duduk ayah dan paman mereka sedangkan dalam rumah tradisional Sunda tidak lazim ditemukan kursi bangku seperti yang digambarkan de Bruin. Contoh lainnya disampaikan bahwa di dapur Roesdi dan Misnem terdapat seeng dan aseupan namun tidak ditemukan hawu.

Berdasarkan analisa itulah, maka Hawe Setiawan menyimpulkan dua hal kemungkinan, pertama, bahwa de Bruin menggambarkan kenyataan mengenai adanya perubahan lingkungan yang dialami oleh masyarakat Sunda pada saat itu. Kedua, dapat pula diperkirakan bahwa de Bruin tidak memiliki data yang cukup lengkap dalam menggambarkan perincian kehidupan sehar-hari masyarakat Sunda sehingga menyebabkan hilangnya beberapa rincian dalam ilustrasi yang dihasilkan.

Setelah membaca buku Bocah Sunda di Mata Belanda: Interpretasi atas Ilustrasi Buku Roesdi Djeung Misnem dapat dipahami jika ilustrasi yang terdapat pada buku Roesdi Djeung Misnem bukan hanya gambar yang berfungsi sebagai unsur dekoratif saja. Namun, ilustrasi-ilustrasi tersebut dapat menjadi sumber kajian mengenai kondisi sosial dan kehidupan masyarakat Hindia Belanda di masa kolonial, seperti yang dilakukan oleh Hawe Setiawan.

Selain itu, disetujui atau tidak bahwa kita perlu berterimakasih terhadap bangsa Belanda yang banyak melakukan pendokumentasian melalui berbagai tulisan ataupun gambar terhadap kehidupan di Hindia Belanda yang hingga kini dapat kita manfaatkan sebagai sumber kajian dalam berbagai bidang.

Pada kajian buku Roesdi djeung Misnem melalui bukunya, Hawe Setiawan nampak menggunakan sudut pandang pascakolonial yang mengkritik cara pandang bangsa Belanda dalam masa politik etis terhadap masyarakat Hindia Belanda. Refleksi terhadap oposisi biner yang hadir dalam buku Roesdi djeung Misnem menjadi salah satu contoh terhadap keberadaan bangsa Indonesia kini jika meminjam istilah Homi K. Bhaba sebagai “ruang ketiga” dalam teori liminalitasnya.

J. Supriyono melalui tulisannya berjudul “Mencari Identitas Kultur Keindonesiaan; Upaya Memahami Teori Liminalitas Homi K. Bhabha”, menerangkan bahwa, liminalitas adalah adanya “ruang ketiga” yaitu ruang yang berada di antara berbagai status perbedaan budaya yang menyebabkan proses persilangan budaya sehingga menghadirkan hibriditas.

Keberadaan ”ruang ketiga” salah satunya dicontohkan pada kisah Roesdi dan sekumpulan warga kampung yang terpana akan kehadiran gramofon. Diceritakan bahwa gramofon tersebut dibawa oleh sekumpulan serdadu penjajah dan melalui gramofon itu diputarlah musik angklung hingga wayang dalang Suwanda.

Kehadiran gramofon yang berasal dari Barat dan musik angklung yang akrab di masyarakat Hindia Belanda memberikan ruang persilangan yang disebut Homi K.Bhabha sebagai “ruang ketiga”. Hibriditas yang dilahirkan yaitu, melalui cara masyarakat Hindia Belanda mendengarkan musik angklung dengan menggunakan gramofon. Hal serupa terus kita alami hingga masa kini dan selaras dengan Homi K. Bhabha yang menjelasakan bahwa gerak budaya pada “ruang ketiga” bersifat progresif.

Oleh sebab itu, maka dapat disimpulkan bahwa buku Bocah Sunda di Mata Belanda: Interpretasi atas Ilustrasi Buku Roesdi djeung Misnem, karya Hawe Setiawan merupakan upaya memahami perkembangan kehidupan bangsa Indonesia sehingga kita dapat terus bergerak dalam persilangan budaya yang semakin cepat secara bijaksana. Selaras dengan hal tersebut, J. Supriyono dalam tulisannya itu turut menjelaskan bahwa kajian pascakolonial di kehidupan bangsa Indonesia merupakan sebuah usaha untuk memahami makna keindonesian secara bersama-sama. Sehingga buku Bocah Sunda di Mata Belanda: Interpretasi atas Ilustrasi Buku Roesdi djeung Misnem karya Hawe Setiawan sangat  direkomendasikan untuk dibaca.

Pegiat Rumah Baca Buku Sunda

1 comments On Memaknai Buku “Roesdi djeung Misnem” Melalui Kajian Pascakolonial

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Perumahan Margawangi, Jalan Margawangi VII No.5, Ciwastra, Kota Bandung 40287. Telp. 0227511914

Social Profiles

Facebook