Riol Bandung

Ilustrasi en.pavingblockmulia.com

Kami pernah tinggal di kota Bandung bagian tengah, tepatnya di daerah Turangga. Kurang lebih 45 tahun saya tinggal disana. Rumah kami adalah bagian dari sekelompok rumah, yang mempunyai bentuk, ukuran dan model yang sama, bahkan mempunyai cat dengan warna yang hampir sama: putih, terlihat bersih dan seragam. Saya membayangkan seperti barisan, sangat disiplin.

Ubin memakai jenis teraso warna hitam dengan pinggiran kuning, kalau sudah dipel terlihat mengkilap. Ambu, ibu saya, rajin sekali mengepel lantai dan membersihkan rumah. Beliau memang pecinta kebersihan, sehingga rumah  terasa nyaman dan hangat.

Kami memiliki 3 kamar di dalam, 1 kamar di belakang, 2 kamar mandi, dan dapur, sebagai tempat sakral bagi pemenuhan nutrisi keluarga. Halaman depan cukup luas, cukup untuk bercocok tanam, ada pohon belimbing dan jambu, selain bunga ros dan berbagai tanaman dalam pot, salah satunya kuping gajah, yang setahu saya gajah tidak pernah hidup di dalam pot. Tapi, di halaman belakang tidak ditanami apapun. Hanya ada pintu belakang yang menuju keluar.

Tanah di kediaman kami cukup subur. Buktinya pohon belimbing dan jambu tumbuh besar, kuat dan berbuah cukup banyak jika musim panen tiba. Saya seringkali memanjat pohon belimbing atau jambu, sekadar main panjat, atau diperintah untuk memetik buah matang.

Bagi saya, memanjat pohon adalah kegiatan yang sangat menyenangkan. Sebagai anak yang paling bontot, kakak-kakak seringkali menyuruh saya untuk hal-yang remeh temeh. Apabila malas dan menghindar dari para orang tua, tinggal naik pohon dan diam berlama-lama di atas.

Pada bagian belakang, di antara rumah kami dan tetangga, tidak berdempetan. Terdapat ruang kosong dengan lebar sekitar 2 meter dan memanjang, sepanjang blok jalan, yang bila dibayangkan semacam jalan gang. Orang-orang biasa menyebutnya branhang. Lalu, saya coba menelusurinya. Ternyata, kata itu lebih tepat disebut brandgang.

Di bawah brandgang ada semacam saluran, yang biasa disebut riol. Riol ini memanjang di bawah brandgang. Di beberapa tempat sepanjang brandgang terdapat semacam kotak, yang memiliki tutup bisa diangkat dan biasa disebut dengan bak kontrol. Biasanya setiap rumah memiliki satu bak kontrol. Apabila ada masalah dengan pembuangan air kotor, tinggal dilihat lewat bak kontrol.

Riol atau gorong-gorong seperti silinder yang disambung, diameter sekitar 0,5 meter dengan panjang sekitar 1,5 meter, dan terbuat dari semen beton yang sangat kuat, dipasang memanjang di bawah brandgang sampai menuju ke tempat pembuangan akhir. Sewaktu kanak_kanak bila ada riol yang belum dipasang, kami sering bermain “ucing sumput”, karena di situlah tempat yang paling tepat untuk bersembunyi.

Riol mengalirkan air kotor ke septic tank komunal. Septic tank komunal adalah tempat di mana semua saluran pembuangan air kotor ditampung, dan di atas septic tank komunal biasanya menjadi ruang terbuka hijau. Ruang terbuka hijau adalah bagian taman bermain bagi kami, penduduk perumahan. Perumahan zaman sekarang cenderung memiliki septic tank pribadi, dan tidak dengan model komunal.

Rata-rata, kamar kecil dan kamar mandi di perumahan kami berada di belakang,  tidak jauh dari saluran riol tersebut, kemungkinan besar, agar air kotor mengalir langsung ke riol.

Birokrat kelurahan di masa lalu, sering kali berkeliling untuk mengecek brandgang. Melihat bak kontrol, agar pembuangan air kotor selalu mengalir lancar dan berjaga-jaga supaya tidak ada yang menyumbat, atau sekadar membersihkan seputar lingkungan brandgang, supaya terasa nyaman dan aman.

Dalam kurun waktu tertentu, saya perhatikan ada penggantian riol. Tapi tidak seperti riol yang saya kenal. Riol pengganti terbuat dari semacam pipa plastik, dan diameternya, kira-kira hanya sebesar pinggang orang dewasa, tidak sebesar riol beton sebelumnya. Terbesit pertanyaaan dalam benak saya, bagaimana riol baru akan mengalir selancar riol lama?

Belakangan, banyak tetangga kami yang mengeluh soal riol yang tersumbat.  Hasil buang hajat dan air kotor yang kembali masuk ke kamar mandi, sedemikian menjijikan, bahkan di beberapa tempat di tengah kota Bandung jika musim hujan tiba, hasil buang hajat manusia tiba-tiba mengambang di jalan dan menampakkan diri.

Selain tempat saluran air kotor, brandgang dapat berfungsi ganda antara lain,  sebagai jalur umum untuk hal-hal yang bersifat darurat. Misalnya, terjadi kebakaran, maka brandgang dapat digunakan sebagai jalan untuk keluar dari pintu belakang. Atau bisa juga sebagai jalan bagi pemadam kebakaran agar bisa segera mengatasi kejadian dengan cepat. Saya jarang sekali menemukan hal yang sama di perumahan yang relatif baru. Jarang ada brandgang di belakang rumah. Menurut pengamatan saya, hal ini mungkin karena kebutuhan lahan yang semakin sulit dan mahal, akibat dari jumlah penduduk yang semakin bertambah.

Ihwal tempat, ada juga daerah dengan nama Inhoftank, yang berada di Bandung bagian selatan, dekat lapang Tegalega. Menurut cerita, di masa lampau Inhoftank adalah tempat penampungan air kotor terpusat untuk kota Bandung. Hari ini Inhoftank padat dengan perumahan, dan ada es cendol terkenal di sana.

Riol Bandung tentu saja berbeda dengan Riung Bandung. Riung Bandung, nama perumahan di  daerah Bandung Timur, yang menurut saya, riol dan riung dalam pengucapan, seperti sama. Namun tentu mempunyai arti yang berbeda.

Sepanjang yang saya amati, di beberapa tempat di kota Bandung, termasuk di daerah perumahan kami, beberapa brandgang beralih fungsi menjadi bangunan.  Bisa kita lihat beberapa bangunan yang menempati brandgang sebagai tempat berjualan, kafé, bahkan, yang lebih asyik jadi rumah tinggal.

Di Los Tjihapit, yang berada di tengah pasar Cihapit, ada kedai kopi tempat di mana saya dan kawan-kawan biasa kongkow. Pada bagian belakang kedai, terdapat brandgang. Di pagi hari, kata Om Bayu—sebagai pemilik kedai kopi—selalu saja  tercium bau pesing yang sangat menyengat. Banyak orang yang menggunakan brandgang ibarat WC umum, tanpa membayar, terutama di malam hari, mereka dengan bebas membuang hajat kecil.

Ada semacam ide atau gagasan yang diungkapkan oleh sahabat kami,Fitra Sujawoto, seorang fotografer dan pemerhati seni, untuk menyelenggarakan pameran atau kegiatan berkesenian di sepanjang brandgang di pasar Cihapit. Ide yang sangat menarik ini mencoba membawa identitas brandgang menjadi sesuatu yang penting, dan setidaknya ada upaya bahwa kita dapat memperlakukan dan menghargai kembali brandgang dan riol sebagai bagian dari siklus kehidupan, bukan hanya sebagai tempat pembuangan kotoran belaka.***

Dosen Desain Komunikasi Visual Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Unpas

Langlayangan

Korang

Peuyeum Bol

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Perumahan Margawangi, Jalan Margawangi VII No.5, Ciwastra, Kota Bandung 40287. Telp. 0227511914

Social Profiles

Facebook