Bachtiar: Geoliterasi dalam Kebersamaan

TERBITNYA buku Toponimi: Susur Galur Nama Tempat di Jawa Barat (2019) menandai perkembangan tulisan Kang Titi Bachtiar setelah, antara lain, Bandung Purba: Panduan Wisata Bumi (bersama Dewi Syafriani, 2004), Wisata Bumi Cekungan Bandung (bersama Budi Brahmantyo, 2009), dan Geotrek: Perjalanan Menafsir Bumi (2009). Khusus menyangkut toponimi, ada satu buku lagi, yang ditulis bersama Etti R.S., Anto Sumiarto, dan Tedi Permadi, yakni Toponimi Kota Bandung (2017).

Saya mengikuti tulisan Kang Bachtiar sejak awal tahun 2000-an. Tentu, ia sendiri menulis sejak jauh-jauh hari sebelumnya. Mediumnya dua bahasa, Indonesia dan Sunda. Tulisan berbahasa Indonesia terutama diumumkan melalui Pikiran Rakyat, sedangkan tulisan berbahasa Sunda terutama diumumkan melalui Manglé. Waktu saya mengelola majalah berbahasa Sunda, Cupumanik, ia juga sering menyumbangkan artikel untuk berkala bulanan tersebut.

Area tematisnya bisa berupa kebudayaan secara umum, tapi terutama seputar hubungan antara manusia dan alam. Bahasanya akrab dengan orang banyak. Ia pernah menulis buku cerita untuk anak-anak dan mendapat penghargaan dari pemerintah Indonesia. Caranya memaparkan pokok tulisan mudah diikuti. Dalam pandangan saya, Kang Bachtiar adalah guru dengan ruang kelas sangat luas.  

Sebagai orang yang juga punya kegiatan di bidang tulis-menulis, saya sering bertanya-tanya, dari mana Kang Bachtiar mendapat dorongan? Samar-samar saya beranggapan bahwa ia meneladani para pendahulu, terutama Bujangga Manik dan Franz Junghuhn. Bujangga Manik adalah rahib kelana dari Pakuan abad ke-16 yang menjelajahi Pulau Jawa dan menulis catatan perjalanan yang mengandung permenungan keagamaan. Franz Junghuhn adalah naturalis dan pegawai kolonial yang menjelajahi Pulau Jawa, juga sebagian Sumatra, pada abad ke-19 dan menulis catatan perjalanan serta menggambar lanskap.  Setahu saya, Kang Bachtiar melakukan hal serupa: menjelajahi bentang alam, membaca peta, memotret, menggambar, dan menulis catatan perjalanan.

Ada satu hal yang tidak dilakukan oleh Bujangga Manik, juga oleh Franz Junghuhn, tetapi dilakukan oleh Kang Bachtiar: mengajak berbagai kalangan untuk mengadakan ekskursi, menjelajah, bertamasya, dan berbagi catatan hasil perjalanan. Kerja penjelajahan dan penulisan yang ia lakukan terselenggara dalam kerangka merentangkan jejaring, menjalin kolaborasi, membangun kerja sama dengan orientasi ke dalam apa yang ia sebut “geoliterasi”. Dengan kata lain, ia mengupayakan literasi kebumian seraya berikhtiar merawat dan mengembangkan kebersamaan. 

Saya teringat pengalaman sekian tahun lalu. Waktu itu anak-anak kami masih kecil, dan kami ajak mereka ikut dalam sebuah rombongan ekskursi ke Citatah dengan pemandu Kang Bachtiar. Ia menerangkan banyak hal menarik, mulai dari tetumbuhan hingga fosil ikan di puncak bukit batu. Apa yang ia terangkan juga tertuang dalam buku saku yang ia persiapkan sebelumnya. Keesokan harinya, secara kebetulan, saya mendengar percakapan anak saya dengan teman-temannya di halaman belakang. Apa yang dikatakan oleh anak saya hampir persis seperti apa yang diterangkan oleh Kang Bachtiar. Saya tersenyum-senyum sendiri jadinya. Kayungyun

Di Bandung kegiatan ekskursi dan penulisan seperti yang kini dikerjakan oleh Kang Bachtiar dan kawan-kawan sebetulnya punya tradisinya sendiri. Pada dasawarsa 1920-an ada Yayasan Bandoeng Vooruit yang saluran medianya berupa majalah bernama Mooi Bandoeng. Secara reguler klub ini mengadakan kunjungan ke tempat-tempat yang memikat perhatian berdasarkan bentang alamnya dan menyiarkan informasi terkait dengan bentang alam yang mereka kunjungi. Akses wisata dari Cikole ke Tangkubanparahu, misalnya, juga terwujud antara lain berkat inisiatif mereka.  

Seakan meneruskan tradisi literasi kebumian yang pernah tumbuh di kota tempat tinggalnya, Kang Bachtiar tentu saja mengembangkan jalan naratifnya sendiri selaras dengan pergeseran budaya yang melingkupinya. Jalan yang saya maksudkan, pada dasarnya terarah ke penggalian dan penyebaran narasi mengenai bentang alam buat menggugah minat orang banyak untuk turut memulihkan respek terhadap bentang alam itu. 

Kalau boleh saya perinci di sini, jalan naratif itu menyiratkan beberapa pilihan. Pertama, antipati terhadap kerusakan ekologi hari ini dipendam sedapat mungkin. Sebagai alternatifnya, dikemukakanlah narasi seputar sejarah bentang alam itu. Tersirat satu anggapan bahwa kenangan sebetulnya punya kekuatan buat menggugah kesadaran banyak orang untuk melihat apa yang keliru dalam gejala perubahan ekologis yang tengah berlangsung.

Kedua, afirmasi terhadap terpeliharanya tatanan ekologis hari ini direalisasikan melalui narasi yang bersifat promotif. Persuasinya terarah ke dalam upaya memperluas rasa memiliki atas bentang alam yang memang patut dijaga.

Ketiga, sejarah alam (natural history) mengenai suatu bentang alam dipopulerkan kembali sebagai salah satu cara untuk menjelaskan keunikan bentang alam tersebut. Pemahaman kolektif yang hendak dicapai melalui upaya ini diharapkan turut menopang upaya-upaya pemeliharaan bentang alam tersebut.

Keempat, nama tempat atau toponimi merupakan pintu masuk tersendiri buat menggali narasi bentang alam dan relasinya dengan manusia yang menghuninya. Dengan menggali narasi demikian, orang jadi faham dengan kenikan tempat tertentu, dan barangkali dengan demikian bisa turut merawatnya. 

Tentu saja, pada prakteknya, keempat jalan itu bisa menyatu dalam satu kegiatan penulisan. Yang jelas, deskripsi geografi dari Kang Bachtiar sering mempertemukan sejarah alam dan budaya, juga amatan bahasa dan sastra. Sejarah dipanggil lagi baut mengenang apa yang telah punah. Sejarah juga digali buat merawat apa yang kelak mungkin retak.

Kiranya, jalan naratif Kang Bachtiar dapat dijadikan contoh tersendiri bagi mereka yang berikhtiar mengembangkan literasi di sektor-sektor lainnya.***

Kolomnis lepas dan dosen di Universitas Pasundan.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Perumahan Margawangi, Jalan Margawangi VII No.5, Ciwastra, Kota Bandung 40287. Telp. 0227511914

Social Profiles

Facebook