Lampah dan Lalampahan

Ilustrasi: popbela.com

ISTILAH lampah dalam bahasa Sunda berarti “perilaku” atau “perbuatan”. Sering pula orang memakai ungkapan laku lampah untuk “tindak-tanduk”. Jika kata dasar lampah dikasih sisipan -um-, timbul lumampah yang berarti “berjalan kaki”. Dari kata dasar yang sama, orang juga mengenal lalampahan untuk “perjalanan” baik dalam arti melangkahkan kaki maupun dalam arti memakai kendaraan, baik dekat maupun jauh, baik dalam arti harfiah maupun dalam arti metaforis.

Anak-anak dinasihati oleh orang tua agar tidak meniru lampah beunteur. Sang beunteur, sejenis ikan kecil yang hidup di kali, tergoda melihat seekor cacing. Sekali caplok, ia terpancing. Ia tak tahu bedanya makanan dari umpan. Dasar lugu, ia mudah tertipu. Kasihan. Itu sekadar contoh pemakaian kata lampah oleh para penutur bahasa Sunda.

Untuk mencari contoh pemakaian kata lalampahan, dalam bentuknya yang modern, kita dapat mengingat buku Lalampahan ka Éropah (1930) karya R. Ajoe Abdoerachman, seorang wanita bangsawan dari Priangan. Buku ini berisi catatan perjalanan ke sejumlah kota di Eropa pada paruh pertama abad ke-20. Dari khazanah kepustakaan kuna, tentu, tak mungkin kita melupakan kisah perjalanan Bujangga Manik alias Ameng Layaran, seorang pangeran dari abad ke-16. Ia menempuh perjalanan darat dan laut menyusuri Pulau Jawa hingga Bali. Uniknya, narasi dalam manuskrip ini tidak hanya menggambarkan lalampahan yang bersifat fisik, melainkan juga menggambarkan lalampahan yang bersifat metafisik. Bujangga Manik adalah rahib kelana yang pada akhirnya mengalami moksa.

Jika lampah dan lalampahan kita tempatkan dalam bingkai tata nilai, kita mendapatkan pengertian perihal pentingnya tindakan dan gerak dalam kehidupan sehari-hari. Kamu adalah tindakanmu. Nilai yang melekat pada keberadaan seseorang, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat, ditentukan oleh tindak-tanduknya. Adapun gerak yang tersirat dalam kata lalampahan pada dasarnya merupakan gerak yang jelas titik tolak dan titik tujunya. Istilah ini toh bisa dipakai bukan hanya secara harfiah, untuk menunjuk tindakan bergerak di permukaan bumi, melainkan juga secara metaforis, untuk melukiskan “perjalanan kehidupan” manusia di dunia.

Ditekankannya aspek dinamis dalam pemaknaan kedua kata ini akan terasa manakala kita pertimbangkan sepatah kata lainnya, yang secara fonetis sangat dekat dengan lampah, yakni lumpuh. Sebagaimana halnya dalam bahasa Indonesia, kata lumpuh dalam bahasa Sunda mengandung arti “kehilangan daya gerak”. Salah satu arti yang dikemukakan untuk kata lumpuh dalam Kamus Umum Basa Sunda keluaran Lembaga Basa jeung Sastra Sunda (LBSS) adalah “teu bisa leumpang” (tidak mampu berjalan). Dengan kata lain, lumpuh berarti tidak mampu lumampah.

Dalam bahasa Inggris ada istilah lethargy, yang diserap ke dalam bahasa Indonesia jadi letargi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah letargi berarti “keadaan lemah badan dan tidak ada dorongan untuk melakukan kegiatan”. Secara literal, letargi bisa terjadi jika otak gagal berfungsi atau jika badan mengalami keracunan. Secara metaforis letargi bisa juga menggejala apabila kebudayaan sampai kehilangan daya hidup dan daya cipta atau kreativitas. Kebudayaan demikian adalah kebudayaan yang lumpuh.

Masih ada satu kata lagi yang juga secara fonetis dekat dengan lampah dan secara semantis seakan-akan berada di antara lampah dan lumpuh. Itulah leumpeuh yang mengandung arti “lemas” atau “lembek”. Kata kerja ngaleumpeuh lazim dipakai buat tindakan mendekatkan daun pisang kepada sumber api hingga daun itu jadi lemas dan dapat dipakai buat membungkus nasi yang disebut timbel. Kamus LBSS juga menyebut-nyebut kata pileumpeuhan buat “jampi atau mantera buat melunakkan hati orang”. Derivasi yang penting dicatat di sini adalah ungkapan leumpeuh yuni yang berarti “tidak kukuh pendirian” alias “mudah tergoda”. Dengan kata lain, leumpeuh yuni tidak lebih baik ketimbang lumpuh.

Dalam perjalanannya, jauh-jauh hari sebelum moksa, Bujangga Manik sering menghadapi godaan. Macam-macamlah godaannya, mulai dari godaan berupa komentar dan pertanyaan yang merecokinya di jalan hingga godaan yang bersifat seksual dari lawan jenis, bahkan godaan di tempat bertapa. Namun, ia bersikukuh, meski kadang terlihat angkuh. Adapun sang beunteur yang lugu tadi kiranya dapat dijadikan contoh tersendiri dari leumpeuh yuni.***

Kolomnis lepas dan dosen di Universitas Pasundan.

Ngopi

Gunung Hawu

Riol Bandung

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Perumahan Margawangi, Jalan Margawangi VII No.5, Ciwastra, Kota Bandung 40287. Telp. 0227511914

Social Profiles

Facebook