Di Bandung, Konperensi Mahasiswa Asia-Afrika Pertama Digelar

Dokumentasi: Deni Rachman

Di balik gegap gempita setiap perhelatan Konperensi Asia-Afrika, terselip satu agenda intelektual yang patut menjadi perhatian kita. Selang 59 tahun sejak awal diadakan, Konperensi Mahasiswa Asia-Afrika (KMAA) pada 30 April – 1 Mei 2015 akhirnya dapat diselenggarakan kembali di tempat yang sama: Gedung Merdeka, dengan menghadirkan 48 negara peserta dari benua Asia dan Afrika.

Tak banyak referensi yang mengupas sejarah KMAA I tahun 1956. Peran KMAA seakan tenggelam dimakan zaman. Padahal, seperti halnya KAA 1955 menjadi penting karena peran mahasiswa saat itu turut andil menjadi agen kemerdekaan bagi tiap bangsanya.

KMAA pertama kali diadakan di Bandung pada tanggal 30 Mei – 7 Juni 1956. Dari 46 negara yang diundang, hanya 28 negara yang hadir. Di antaranya wakil-wakil dari Sudan, Madagaskar, Tunisia, Monaco, Republik Demokratik Korea, dan Syria. Konferensi yang dibuka pada 30 Mei 1956 di Bioskop Varia ini bersidang di Gedung Merdeka. Ada pula yang mengadakan pertemuan informal di lobby Hotel Savoy Homann.

Menurut S. Sapiie, aktivis Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB) yang juga turut mewakili mahasiswa dari Indonesia, bahwa delegasi dari Indonesia berjumlah 10 orang yang dipimpin oleh Agusdin Aminudin dan Emil Salim (mantan Menteri Lingkungan Hidup pada masa Orde Baru) sebagai wakil ketua. Delegasi Indonesia lain di antaranya yaitu Ahmad Zainal Padang (Sekretaris Delegasi), Koesnadi Hardjasoemantri, Sabam Siagian, Alwi Dahlan, Nugroho Notosusanto, Anton Moeliono, Wisaksono Noeradi, dan Bintoro Tjokroamidjojo.

Bintoro Tjokroamidjojo perwakilan mahasiswa dari Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia menuturkan bahwa Ketua KMAA terpilih dari Indonesia ialah Agusdin Aminudin. Emil Salim kemudian menjadi Ketua Delegasi Indonesia. Dalam kesaksiannya, Bintoro beberapa kali berjalan kaki sepanjang Jalan Braga bolak-balik beberapa kali, setiap malam setelah sidang, lalu berdiskusi seru tentang masalah-masalah yang relevan dan perlu diangkat dalam forum KMAA.

Berbeda dengan kemunculan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), masa itu dunia kemahasiswan diwarnai oleh berbagai perhimpunan mahasiswa ekstra-universitas yang memiliki latar belakang tertentu (S. Sapiee, 2000). Ada yang berlatar agama, politik, kesukuan, ada juga yang mempunyai basic umum. Jenis organisasi yang berlatar belakang umum di antaranya, GMD (Gerakan Mahasiswa Djakarta), MMB (Masyarakat Mahasiswa Bogor), PMB (Perhimpunan Mahasiswa Bandung), dan GMS (Gerakan Mahasiswa Surabaya).

Secara nasional, organisasi ekstra-universitas ini berhimpun dalam PPMI (Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia). Anggota PPMI adalah HMI (Himpunan Mahasiswa Indonesia), PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia), GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia), THHSH (Ta Hsueh Hsueh Seng Hui, kemudian bernama Perhimi-Persatuan Mahasiswa Indonesia), Consentrasi Mahasiswa Bandung (CMD), Consentrasi Mahasiswa Jogyakarta (CMJ), MMB, PMB, dan GMS.

Selain organisasi ekstra-universitas, di Jakarta timbul gerakan untuk mendirikan organisasi intra-universitas, yaitu DM (Dewan Mahasiswa): mewakili Senat Mahasiswa yang sudah ada di setiap fakultas. Setelah DM dibentuk di perguruan-perguruan tinggi lainnya, didirikanlah MMI (Majelis Mahasiswa Indonesia). Emil Salim saat itu terpilih sebagai Ketua MMI.

Jadi ada tiga arus utama dalam pergerakan mahasiswa saat itu yaitu PPMI, MMI, dan organisasi-organisasi yang tidak bergabung dalam PPMI dan MMI. Dari tiga arus utama inilah yang terpilih menjadi Delegasi Indonesia pada KMAA 1956. Akan tetapi keputusan mengirim Delegasi Indonesai ke KMAA itu bukan tiada pertentangan.

Suasana kubu bipolar dalam era Perang Dingin dan politik multipartai di dalam negeri, begitu terasa baik dalam persiapan KMAA maupun soal siapa yang akan menjadi Delegasi Indonesia dan saling pengaruh dalam sidang KMAA. PPMI terpecah menjadi dua kekuatan dunia saat itu (Blok Timur dan Blok Barat). Anggota PPMI yang berhaluan kiri condong kepada IUS (International Union of Students) yang berpusat di Praha. Sedangkan anggota PPMI yang berhaluan Barat condong kepada ISC (International Students Conference) yang bermarkas di Den Haag.

Dalam persiapan KMAA 1956, menurut kesaksian S. Sapiee yang saat itu menjabat Ketua PMB, dibentuklah Panitia Pelaksana KMAA yang terdiri atas semua organisasi anggota PPMI dengan PMB sebagai Ketuanya. Terlihat bahwa kubu IUS bekerja keras, dan sangat militan karena menyadari bahwa keberhasilan dan warna KMAA akan banyak ditentukan oleh para pelaksananya. Dan kubu IUS memang mempunyai tujuan mendominasi KMAA untuk memenangkan kepentingan politiknya. Kubu ISC umumnya lebih banyak bicara ketimbang bekerja.

Dalam salah satu dokumen “Tanda Penghargaan” yang diterbitkan oleh Panitya Persiapan Nasional Konperensi Mahasiswa Asia-Afrika, alamat Sekretariat berlokasi di Jalan Dago 110, Bandung dan dokumen tersebut ditandatangani oleh Sekretaris Umum J. Goeltom. Melihat alamat tersebut, saat ini Jalan Dago atau Jalan Ir. H. Djuanda 110 kemungkinan terletak di sekitar Factory Outlet Blossom (sebelum persimpangan Jln. Teuku Umar jika kita beranjak dari arah bawah).

Begitupun dalam penentuan Delegasi Indonesia pada KMAA. Sebelum KMAA dimulai, organisasi PPMI, MMI, dan pelbagai organisasi ekstra-universiter lainnya menyelenggarakan KMAI (Konperensi Mahasiswa Antar Indonesia) yang diadakan di asrama mahasiswa UI “Daksinapati”, Jakarta. Pertentangan kubu IUS dan ICS sangat kentara. Panasnya suasana sidang yang aksi kasar satu sama lain mewarnai sidang-sidang KMAA. Usul Emil Salim agar diadakan musyawarah mufakat tanpa ada pemungutan suara, mendapat sambutan baik dari peserta KMAI. Asas musyawarah mufakat di tengah kondisi alam politik liberal Indonesia menjadi warna istimewa saat itu. Akhirnya diputuskanlah 10 wakil dari KMAI sebagai Delegasi Indonesia di KMAA.

Suasana blok Barat dan Timur juga terjadi pada sidang KMAA. Mengingat sebagian besar negara peserta konferensi masih dalam kondisi dijajah, banyak delegasi yang mengungkapkan kondisi sosial politiknya secara lugas dan terbuka. Bahkan karena faktor politik pula, delegasi Filipina mengundurkan diri secara sukarela dua hari sebelum penutupan (Sjafari, 2014).

Meski begitu, KMAA dapat berakhir pada waktunya, yaitu tanggal 7 Juni 1956. Tanpa Filipina, 27 negara peserta menghasilkan beberapa keputusan penting mulai dari masalah dunia mahasiswa sampai masalah umum.

Di antara keputusan penting tersebut yaitu, KMAA memperkuat dan menyokong seluruh resolusi KAA 18-24 April 1955 di Bandung dan menyerukan kepada semua mahasiswa di Asia dan Afrika supaya membuat semangat Bandung sebagai dasar kerjasama. Selain itu, KMAA mengakui bahwa tanggal 18 April tiap tahun sebagai hari anti-kolonialisme Asia-Afrika, dan yang sifatnya praktis di antaranya tukar-menukar mahasiswa, buku, kesenian, kesusasteraan; serta negara-negara yang lebih maju memberikan fasilitas kepada mahasiswa dari negara-negara yang tertinggal.

KMAA ke-2 yang berlangsung beberapa waktu yang lalu di Gedung Merdeka turut disaksikan oleh saksi sejarah Emil Salim. Dalam sambutannya, Emil Salim mengungkapkan bahwa KMAA ke-1 bertujuan untuk menyerukan kemerdekaan negara-negara di Asia dan Afrika khususnya kepada mahasiswa yang berada di Asia dan Afrika agar bersama-sama berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan. Sedangkan tantangan KMAA 2015 ini adalah bagaimana membangun Asia-Afrika baru yang berkembang pada tahun 2045 dalam bidang ekonomi, teknologi, pendididikan dan ilmu pengetahuan. Generasi saat ini harus berjuang dan jangan lagi bergantung kepada negara maju.

Mengingat waktu yang terpaut jauh dari lebih dari setengah abad, penyelenggaran KMAA 2015 merupakan langkah yang baik untuk menyambung lagi benang merah yang lama terputus. Semoga dengan memulai kembali untuk saling mengenal dan memahami rasa seperjuangan antardelegasi dapat mewujudkan api Semangat Bandung dalam setiap aktivitas gerakan pemuda di Asia-Afrika dan melahirkan kader-kader baru Semangat Bandung di setiap negara peserta. Semangat Bandung yang melahirkan empat nilai utama: niat baik, kerjasama, keseteraan, dan persahabatan; yang lebih hakiki daripada perayaan gegap-gempita. 

Selain bergiat di Asian African Reading Club dan Penerbit Menara Api, penulis juga merupakan saudagar buku-buku lawas yang sehari-harinya mengelola Lawang Buku.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Perumahan Margawangi, Jalan Margawangi VII No.5, Ciwastra, Kota Bandung 40287. Telp. 0227511914

Social Profiles

Facebook