Jim Lim Akhirnya “Balik” Bandung

Ilustrasi: whiteboardjournal.com

Jim Adhi Limas sejenak berdiri mematung memandangi sekeliling ruang tamu kediaman orang tuanya dulu di Jalan Kartini, nomor 19, Kota Bandung, pada Jumat, 15 Desember 2017, yang lalu. Ibu jari dan telunjuk tangan kanan Jim membentuk huruf ‘V’ dan menyangga dagunya. Matanya terlihat berbinar-binar saat melihat rumah bergaya art deco itu tiba-tiba disinggahinya kembali setelah kurang lebih setengah abad Jim meninggalkan keluarganya.

Sore itu, sejak tiba di kediaman orang tuanya, salah satu penggagas teater modern Indonesia tersebut langsung disambut hangat oleh jabat tangan beberapa rekannya yang telah tiba di rumah itu lebih dulu. Jim tidak sampai terhanyut ke dalam kenangan masa lalu, sebab rekan-rekannya langsung menyerbu Jim dengan berbagai macam obrolan. Di antara rekan-rekan Jim yang hadir yakni, Mohammad Sunjaya, Yayat Hendrayana, Acep Rumtama, Arya Sanjaya, Cece Raksa, Sis Triaji, Andre Hendria dan Kemal Ferdiansyah. 

“Saya lama di Prancis dan sudah terbiasa dengan rutinitas di sana, datang kesini jadi asing dan masih agak terganggu nggak tahu saya ada di mana,” ujar Jim saat ditemui di kediamannya, Jalan Kartini, nomor 19, Kota Bandung.

Usia Jim kini sudah melintasi 80 tahun. Namun dibandingkan dengan rekan-rekan seusianya, Jim terbilang masih yang paling bugar. Perawakannya kecil kurus dibalut dengan kulit kuning langsat membuat Jim tampak terlihat bugar. Ketika berbicara pun semangat Jim masih terlihat jelas. “Saya suka merasa tidak muda lagi, tapi semangat saya untuk bekerja masih besar,” katanya.

Jim bercerita keputusannya untuk kembali ke Indonesia merupakan akibat endapan janji Jim kepada rekan-rekan dan keluarganya yang semakin hari semakin menggunung. Janji menjadi tunggakan yang harus dibayar lunas oleh Jim. “Saya bilang ada kemungkinan datang tapi nggak jadi mereka kecewa lagi dan ada kesempatan sekarang kalau saya nggak mau datang ya goblok,” ujarnya.

Sejak memutuskan pergi ke Prancis pada 1967 silam, Jim tak sekalipun pulang ke Indonesia. Bahkan, 25 tahun kemudian, Jim memutuskan untuk menetap dan menjadi warga negara Prancis. Alasan Jim pindah kewarganegaraan karena agar lebih mudah ketika dia bekerja di luar Prancis. Maklum karir Jim di dunia teater  mengharuskan dia melakukan pementasan di beberapa negara di Benua Biru, dan kala itu sangat sulit untuk keluar masuk dari satu negara ke Negara lain di Eropa menggunakan paspor Indonesia.

“Iya sebetulnya itu segi praktis, saya pertahankan paspor Indonesia selama 25 tahun, kemudian dapat kerja dan kerja saya masuk ke negara lain di Eropa itu rumit sekali. Makanya secara praktis saya pakai paspor Eropa jadi lebih gampang,” kata dia. 

Jim berkisah di awal tahun 90-an pernah dia mendapatkan pekerjaan sebagai aktor dalam sebuah pementasan teater di Portugal, tapi lantaran kala itu di Indonesia sedang terjadi konflik dengan Timor Leste, walhasil Jim dilarang masuk ke Portugal, dan peran yang dia dapat akhirnya batal dan digantikan oleh aktor lain. 

Obrolan pun dimulai dengan cerita Jim tentang kelompok teater tertua di Bandung, Studiklub Teater Bandung (STB). Jim bersikukuh menentang kalau ada yang mengatakan STB lebih condong ke teater realis. Menurut Jim, STB merupakan awal mula teater modern mampu eksis di kota kembang dan menjadi teater modern tertua di Indonesia. “Dalam teater perlu ada kontektualisasi, itu bagi saya semacam tranfusi,” ujarnya.

“Orang itu inginnya STB retak, putus dan terlalu realis orang bilang. Kami mementaskan setiap naskah sesuai dengan naskah itu, kalau realis ya realis kalau fantastis ya fantastis. Saya bilang Sangkurian itu bukan realis,”

Berawal dari garapan pemenasan teater yang digawangi oleh Jim dan 7 rekan lainnya dalam sebuah acara di Seni Rupa ITB, akhirnya STB pun lahir pada 30 Oktober 1958. Waktu Itu Jim, Suyatna Anirun dan rekan-rekan menggarap pementasan Jayaprana karya Jeff Last yang diterjemahkan oleh Rosihan Anwar. 

“Pendirinya itu saya katakan bukan hanya yang main saja, tapi ada juga orang Belanda saat itu yang mendukung kami, namanya Nyonya Pavv. Dia mendukung sekali, kalau ngak salah pementasan pertama dia ngasih duit untuk meneruskan garapan selanjutnya,” katanya. 

Setelahnya, Jim dan rekan-rekannya sukses melahirkan beberapa pementasan yang cukup gemilang pada masanya. Di antaranya, Tragedi Pantai Baile (On Baille’s Strand) karya William Butler Yeats, Pinangan karya Anton Chekov, hingga Teh dan Simpati karya Robert Anderson. 

“Ketika di luar negeri dipentaskan maka kita pun tak mau kalah dan ingin mementaskan itu seperti Teh dan Simpati karya Robert Anderson, waktu itu sangat ramai dipentaskan di Eropa, dan akhirnya kita bisa pentaskan di sini,” katanya.

Jim memang cukup piawai dalam menguasai bahasa asing. Ia menguasai 4 bahasa asing waktu itu, yakni Inggris, Prancis, Belanda dan Jerman. Urusan penerjemahan karya sastra yang nantinya diadopsi menjadi naskah drama teater pun dilakukan oleh Jim dan kawan-kawannya. 

“Dulu itu di seberang YPK (Yayasan Pusat Kebudayaan) ada British Council dan saya sering pergi ke sana untuk membaca karya-karya dalam bahasa asing, dan mulai diarahkan oleh petugas British Council. Di sana saya banyak menerjemahkan karya-karya dalam bahasa asing,” ujarnya.

Baru pada 1967, Jim mendapat tawaran beasiswa di Paris. Inilah alasan Jim akhirnya memutuskan pergi ke Paris, Prancis untuk melangkah lebih jauh di gelanggang teater.  “Itu beasiswa untuk aktor yang dianggap sudah professional di sini, yaitu untuk meninjau bagaimana teater di Prancis, dan itu akhirnya saya terima,” katanya.

Meski akhirnya melancong ke Paris, tapi awalnya keberangkatan Jim tertunda lantaran dia merasa tidak enak meninggalkan koleganya di STB. Kala itu, Jim dan koleganya akan mementaskan sebuah lakon berjudul Perang Troya Tidak Akan Meletus. Akhirnya, setelah garapan Perang Troya Tidak Akan Meletus, rampung, Jim meminta izin kepada rekan-rekannya dan bergegas menuju Paris. 

Rencananya Jim hanya 9 bulan saja menimba ilmu di Paris. Namun nasib berbicara lain, Jim mendapat tawaran untuk memperpanjang studinya selama 2,5 tahun. 

“Beasiswa itu bebas dan saya pilih suatu workshop yang berlangsung selama 6 bulan dan setiap tahun diulangi  itu termasuk bagian dari Unesco Internasional Teater Institute (ITI) dan itu workshop yang diikuti oleh orang yang sudah dianggap profesional di seluruh dunia dan kerja sama 6 bulan,” katanya.

Setelah beasiswanya rampung, niat Jim untuk segera berkemas pulang ke Indonesia kembali tertahan. Dia mendapat pekerjaan untuk pementasan monolog di Paris. Awalnya Jim menolak karena monolog itu dalam bahasa Prancis dengan durasi 2,5 jam. 

“Saya disuruh main naskah baru tentang Aljazair, saya tolak awalnya, saya bilang nggak pernah main dalam bahasa Prancis, 2,5 jam tanpa meninggalkan panggung pakai monolog-monolog. Tapi akhirnya saya memutuskan untuk ambil,” 

Lama-kelamaan Jim justru mendapat pekerjaan baru di Prancis baik sebagai aktor ataupun sebagai sutradara sebuah pementasan teater. Hingga akhirnya jalan untuk pulang ke Indonesia tertutup rapat untuk berpuluh-puluh tahun. Setelah setengah abad Jim baru bisa pulang ke Indonesia.

Sekarang, Jim mengaku sudah pensiun dari dunia teater. Maksudnya, kalau untuk manggung memang Jim tidak lagi aktif.  Namun, urusan ide membuat sebuah pertunjukan teater, semangat Jim masih tetap besar. “Saya sudah pensiun tapi pensiun terlalu kecil dan saya kerja terus. Saya kerja tapi terlalu tua jadi hanya sebatas ide-ide menerjemahkan juga,” katanya.

Belum lama ini Jim mengaku mendapat tawaran dari Asosiasi Pasar Malam untuk menerjemahkan Jayaprana karya Jeff Last dari bahasa aslinya menuju bahasa Prancis. Jayaprana memang tidak asing lagi bagi Jim, dulu Jim dan rekan-rekannya pernah memainkan Jayaprana

“Saya bilang apa itu bisa semacam pertukaran karena temanya Bali penulisnya Belanda dan Prancis sebagai mana tempat saya tinggal. Tapi Prancis masih bahasa asing yang saya kuasai, saya bilang saya mau coba apakah bisa bahasa Prancis. Saya memiliki ide kalau dipentaskan memakai bahasa Prancis dalam logat bahasa Jawa itu eksperimen, dan saya mikir juga Yoyon (Sunjaya) masih ada dan wawan mau pembacaan tapi itu waktunya terlalu sedikit,” katanya.

Menurut Yayat, Jim merupakan sosok yang tangguh dan pantang menyerah dalam menggarap sebuah pertunjukan teater. “Pak Jim itu disiplin, ulet dan memang pantang menyerah. Yang saya tahu beliau memang luar biasa,” ujarnya.

Menjelang adzan maghrib, obrolan sudah mendekati garis finish. Tema obrolan pun bergeser dari dunia teater menjadi obrolan tentang kesehatan. Meski tampak sehat, Jim tetap memiliki keluhan kesehatan. “Saya ada prostat,” katanya. 

Di usia tuanya, Jim memang masih menjalankan rutinitas pola hidup sehat. Selain tidak merokok, Jim tetap tidak meninggalkan kebiasaan masa mudanya, yakni berjalan kaki ke tempat yang akan dituju. “Ya sesekali saya masih suka jalan,”

“Saya itu orangnya nggak pernah sportif tapi sejak saya jadi tua, saya selalu gimnastik. Kalau saya nggak kerja saya harus gimnastik karena kalau nggak, saya nggak bisa kerja, itu untuk diri saya sendiri. Usia tua memang lambat,”

Salah satu jebolan STB yang juga merupakan pendiri Main Teater, Wawan Sofwan mengaku tak mudah untuk bisa membujuk Jim kembali ke Indonesia. Sebelumnya, Wawan sempat 2 kali bertemu dengan Jim di Paris. Di pertemuan pertama, harapan Wawan untuk bisa memboyong Jim ke Tanah Air harus kandas.

“Pertama tahun 2003 dan 2010. Ketika pertemuan yang kedua salah satu misi yang saya usung yakni membujuk pak Jim untuk ke Indonesia tapi memang belum waktunya, dan beliau baru kesampaian sekarang ke sini,” ujar Wawan.

“Dulu (2003) pak Jim masih eksis main teater, tapi saya memang kurang beruntung, ketika berkunjung ke Paris, tidak pernah menyaksikan pak Jim main,” Wawan menambahkan.

Dua hari kemudian, Jim berkunjung ke rumah Wawan, di daerah Ciwastra, Kota Bandung. Jim tiba di kediaman Wawan sekitar pukul 17.30 WIB. Setibanya di kediaman Wawan, Jim sempat ngobrol ringan dengan Wawan. Kemudian, Jim dijamu oleh tontonan teater tari garapan Wawan berjudul Citraresmi. Kurang lebih sekitar satu jam Jim menyaksikan rekaman pertunjukan teater yang diputar ulang di studio Main Teater disamping rumah Wawan.

Menurut Wawan, kedatangan Jim ke rumahnya hanya sekedar ingin bersilaturahmi. Tidak ada obrolan khusus ihwal rencana menggarap sebuah pementasan atau berkaitan dengan teater. “Beliau ingin bersilaturhmi kesini, saya nggak ajak diskusi yang berat-berat hanya obrolan ringan saja,” katanya.

Setelahnya, Jim dijamu untuk makan malam. Sebelumnya, kata Wawan, Jim memang meminta disiapkan nasi merah, sambal oncom, tahu goreng dan ulukutek leunca. Jim terlihat lahap menyantap hidangan khas Sunda itu. “Karena ada makan-makannya, ketika saya tanya, Pak Jim ingin disiapin apa? Dia bilang ingin nasi merah, sambel oncom dan ulukutek leunca,” katanya.

Wawan memang berbeda generasi dengan Jim. Sosok Jim di STB memang sudah dimitoskan oleh generasi STB sesudah Jim. Sepak terjang Jim di dunia pementasan menjadi semacam cambuk bagi generasi sesudahnya untuk lebih serius berkarya di dunia teater, tidak terkecuali Wawan. 

“Pak Jim itu ibaratnya sudah dimitoskan di STB, dan sekarang berkunjung ke sini menjadi sebuah kehormatan untuk saya dan keluarga,” ujarnya.

  •  

Eks Kepala Suku Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman. Kini, bekerja sebagai wartawan harian dan Majalah Tempo.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Perumahan Margawangi, Jalan Margawangi VII No.5, Ciwastra, Kota Bandung 40287. Telp. 0227511914

Social Profiles

Facebook