Duduh Durahman: Sang Penerjemah di Balik Nama

“Duduh ge sering nerjemahkeun carita nu dimuat dina Mangle, boh carita pondok boh carita nyambung, pangpangna carita detektif. Hanjakal tacan aya nu dibukukeun.” tulis Ajip Rosidi dalam buku Tapak Lacak Dudu Durahman yang diterbitkan tahun 2016. Pandangan Ajip tersebut menekankan pengaruh Dudu Durahman sebagai salah satu penerjemah karya asing ke dalam Bahasa Sunda. Sebagai mantan Wakil Pemimpin Redaksi Majalah Mangle tahun 1995, Duduh mendapatkan kesempatan lebih untuk menjalani kegemarannya menerjemahkan karya berbahasa asing ke dalam bahasa Sunda saat menjadi redaktur fiksi. Fokus aliran karya terjemahannya adalah cerita detektif, cerita kiminal atau cerita misteri.

Sebagian besar karya terjemahan Duduh, berasal dari bahasa Inggris dan Perancis. Beberapa karya terjemahan Sundanya banyak dimuat dalam majalah Mangle dengan menggunakan nama samaran. Kadang memakai nama Dimas atau Radian Prasetya. Beberapa karya dalam majalah Mangle yang menggunakan nama samaran Dimas antara lain: Peuting Bayeungyang, karya John Ball, Harper & Row, dengan Judul asli In the Heat of the Night (Mangle No. 1149); ‘Dokter Bell jeung Sherlock Holmes’ dari otobiografi Sir Sydney Smith (Mangle No. 1151); Korbanna Urang Perancis, Ditembak Dua Kali? dan Rajapati di Solokan Batu dari cerita pengalaman ahli forensik yang terkenal, Sir Sydney Smith (Mangle No. 1153, No. 1154 dan No. 1157); serta Kulawargi Manson, karya Roger Boar & Nigel Blundell dari judul asli The World’s Most Infamous Murders (Mangle No. 1159).

Selain itu, salah satu karya terjemahan dengan menggunakan nama Radian Prasetya yaitu, Catetan Poean, karya Wolfgang Ecke (Mangle No. 1160). Sedangkan, karya yang menggunakan nama aslinya sendiri, Duduh Durahman, di antaranya Geura Tawan Kuring, karya Guy de Maupassant, dengan judul asli The Capture of Walter Schnaffs (Mangle No. 583) dan karya Neangan Bapa, karya Allan Vaughan yang dimuat dalam tiga bagian di majalah Mangle dengan judul asli The Mysterious Monsieur Pilny (Mangle No. 588, 589, 590).

Menurut Ajip, karya terjemahan Duduh memang sangat jarang dibukukan. Namun, setelah beliau wafat (2008), barulah terjemahan dengan judul Si Demplon, mulai dibukukan oleh Penerbit Kiblat pada pertengahan 2013. Judul asli cerita tersebut adalah Boule de Suif karya Guy De Maupassant. Bagi beberapa kritikus sastra, Boule de Suif adalah karya terbaik dari Guy De Maupassant. Karya yang muncul pada tahun 1880 ini, terlebih dahulu sempat diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh H.N.P. Sloman sebelum akhirnya diterjemahkan oleh Duduh.

Berkenaan dengan alur Si Demplon, isinya menceritakan tentang suasana perang antara Perancis dan Rusia (1870-1871). Cerita tersebut mengangkat Si Demplon sebagai tokoh utama di antara sembilan penumpang yang ditawan tentara Rusia di Desa Totes. Si Demplon menolak ajakan tentara Rusia untuk melayaninya. Namun para penumpang lain menyuruh dan membujuk Si Demplon agar melayani tentara Rusia. Ketika Si demplon akhirnya menerima ajakan tentara Rusia, naasnya penumpang lain di kereta itu malah bersikap nyinyir dan tidak berterimaksih padanya.

Detektif sebagai Alternatif

Cerita detektif selalu menjadi pilihan yang menarik bagi Duduh untuk menjadi bahan yang akan diterjemahkan. Pasalnya, Duduh merasa miris melihat kepustakaan Sunda yang kurang akan cerita detektif. Melalui Ngeuyeuban, Nyastra mah Teu Pisan-Pisan (1992), Duduh menceritakan keresahannya: “Da jeung enya dina kapustakaan Sunda mah asa kurang carita detektip teh. Ti barang ‘Diarah Pati’ karangan Margasulaksana, nepi ka kiwari ampleng-amplengan geus leuwih ti satengah abad, naha da pangarang carita detektip mah tatalepe ti entragan ka entragan teh meni puluhan taun. Sanggeus ‘Diarah Pati’ jaman samemeh perang, plang… mangtaun-taun, kakara ditema ku ‘Laleur Bodas’ beubangna samsu taun opat puluhan. Ti dinya kakara disambung deui ku Ahmad Bakri sanggeus tilu puluh taun, ‘Rajapati di Penanjung’ di antarana.

Keresahan Duduh semakin nampak ketika melihat kenyataan perbedaan penikmat cerita detektif di dalam dan luar negeri. Menurutnya cerita detektif diperlakukan istimewa di negara lain. Cerita detektif di luar negeri sudah memiliki tempat tersendiri bagi para penikmatnya. Melihat hal itu, Duduh mencoba menginterpretasi pernyataan Goenawan Mohammad mengenai pentingnya kehadiran cerita detektif. Bagi Goenawan Mohammad, cerita detektif hadir bukan hanya menjadi salah satu aliran cerita semata. Lebih dari itu, cerita detektif bisa melatih logika dan sistematika berpikir. Dengan demikian, para wartawan perlu membaca cerita detektif.

Dalam tulisan In Memoriam Duduh Durahman (1939-2008), Atep Kurnia menyebutkan, ihwal terjemahan cerita-cerita detektif yang sering dimuat-sambung dalam majalah Mangle oleh Duduh, di antaranya karya Agatha Christie, Ellery Queen, Georges Simenon dan yang lainnya. Duduh sering pula menerjemahkan berbagai karya yang lebih serius. Seperti karya-karya Anton Chekov, Leo Tolstoy, Guy de Maupasant, O. Henry dan sebagainya.

Banyaknya penerjemahan karya detektif yang dilakukan Duduh, memiliki pengaruh pada cerita detektif yang ditulis oleh dirinya sendiri. Dalam Ngeuyeuban, Nyastra mah Teu Pisan-Pisan (1992), Duduh menjelaskan pentingnya data dan ketelitian menyambungkan cerita detektif. Hal ini ia kemukan: “Di sagigireun imajinasi, ngarang carita detektip kudu ngukuhan logika, kudu tukuh kana data-kata otentik, ulah ngan ukur dilelebah. Mikabutuh katalitian pikeun nyambung-nyambung antara hiji kajadian jeung kajadian sejena.” Dari ketelitian tersebut, nampaknya Duduh berhasil mengarang seri cerita detektif. Seri cerita detektif yang pernah ia tulis telah dibukukan dalam kumpulan carpon berjudul, Ajalna Sang Bentang Pilem, tahun 2004.

Sandiasma Abah Duduh

Sebagai sastrawan Sunda penerima Hadiah Sastra Rancage (1999), Duduh tidak jarang menggunakan sandiasma dalam beberapa karya terjemahannya. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu Radian Prasetya dan Dimas. Selain itu, menurut Atep Kurnia dalam In Memoriam Duduh Durahman (1939-2008) menyebutkan, jika nama-nama samaran lainnya yang sering digunakan oleh Duduh antara lain: Maya Kusmayati, Bagja Gumati, Satia Sajati, Ahmad Nur, Kinanti, Yan Raswaya, dan lain sebagainya. Nama-nama tersebut ia ambil dari nama anak, cucu, dan istrinya.

Rosyid E. Abby dalam wawancaranya dengan Duduh Durahman menjelaskan, bahwa ada beberapa alasan mengapa Duduh mengunakan nama samaran. Dua di antaranya yaitu, timbul dari kerisian Duduh yang berkaitan dengan masalah spesialisasi profesinya. Duduh lebih dikenal sebagai kritikus sastra Sunda. Dengan mengarang karya sastra, tentu saja timbul ketakutan pada dirinya akan adanya kritik kepada dirinya apabila karangannya tidak bermutu. Kemudian, dalam penulisan kritik sastra, biasanya Duduh menggunakan nama aslinya. Sementara dalam berkarya sastra ia bersembunyi di balik nama samaran. 

Penggunaan sandiasma sendiri bukan hanya dipakai untuk hasil karya terjemahannya, namun dalam karyanya sendiri yang beraliran cerita detektif. Salah satunya penggunaan nama samara dari nama anak pertamanya, Radian Prasetya. Dengan menggunakan nama samara Radian Prasetya, Duduh berhasil mencipatakan lebih dari dua puluh cerita detektif.

Dampak penggunaan nama Radian Prasetya pada beberapa karyanya menjadikan sosok Radian Prasetya menjadi misteri. Dalam Ngeuyeuban, Nyastra mah Teu Pisan-Pisan (1992), sosok tersebut ternyata mengundang para pembaca yang penasaran mengirimkan beberapa surat ke redaksi Mangle untuk bertemu dengan penulis bernama Radian yang sebenarnya adalah Duduh itu sendiri. Dampak penggunaan nama samaran itu pun, menyebut dua kali nama Radian Prasetya masuk nominasi Hadiah LBSS tahun 1990-1991.

Perjalanan penerjemahan Duduh, bukan hanya menambah kekayaan kepustakaan Sunda. Lebih jauh, penerjemahan memberi kesempatan Duduh untuk membuat karya yang sama hebatnya dengan para penulis hebat yang telah diterjemahkannya. Tidak Heran jika seorang kritikus Sastra seperti Hawe Setiawan menyebut kecerdikan pendalaman dalam bidang yang digemari Duduh adalah fiksi. Dalam tulisanya pada buku Tapak Lacak Duduh Durahman (2016), Hawe menuliskan: “Bah Duduh mah lian ti parigel ngarang fiksi teh, parigel deuih mesekna.”

Mantan redaktur Tabloid Suaka dan alumnus Prodi Linguistik Pascasarjana Unpad.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Perumahan Margawangi, Jalan Margawangi VII No.5, Ciwastra, Kota Bandung 40287. Telp. 0227511914

Social Profiles

Facebook