Menyusuri Asal-usul Tempat dan Daerah di Jawa Barat dengan Menggali Toponimi

Buku yang berjudul, Toponimi: Susur Galur Nama Tempat di Jawa Barat, karya T. Bachtiar, menarik untuk dibaca. Buku ini menggambarkan pola penamaan tempat di Jawa Barat yang dibuat oleh masyarakat Sunda berdasarkan pada sumber daya alam yang tumbuh di setiap kawasannya. Hal tersebut selaras dengan penjelasan dari Arthur S. Nalan dalam Sanghyang Raja Uyeg: dari Sakral ke Profan, mengenai masyarakat Jawa Barat sebagai masyarakat ladang dengan karakteristik berpindah-pindah tempat tinggal yang menyebabkan munculnya prinsip hidup sederhana pada masyarakat Jawa Barat. Sebagai masyarakat ladang, maka, masyarakat Jawa Barat memiliki kedekatan hubungan dengan alam yang salah satunya ditampilkan oleh penamaan tempat.

Melalui bukunya itu, T. Bachtiar mengajak kita pada memori kolektif terkait tempat atau daerah di Jawa Barat, untuk memberikan jawaban kenapa dan bagaimana suatu daerah bisa dinamai demikian. Misalnya, ia menguraikan asal-usul nama jalan Buahbatu, berdasarkan pada laporan penelitian Rin dan Barlina dari Balai Penelitian Kelapa dan Palm Lain yang menerangkan, bahwa Buahbatu merujuk pada buah pinang. Dari hal itu, T. Bachtiar menelusuri kembali keberadaan pohon pinang lewat nama-nama tempat di sekitar kawasan Buahbatu. Sehingga dapat dipahami bahwa asal mula nama Buahbatu didasari oleh kata buah yang merujuk pada buah pohon pinang dan batu, yang diartikan sebagai karakteristik buah pinang yang sudah kering dan mengeras seperti batu. Nampaknya pendapat ini sebagai pelengkap atau sebagai koreksi atas pendapat T. Bachtiar sendiri sebagaimana  tertulis di dalam buku “Toponimi Kota Bandung” (2008), yang menyebutkan bahwa masa lalu di sekitar Buahbatu banyak pohon buah (mangga) dan daerahnya berbatu.

T. Bachtiar tidak hanya menjelaskan asal mula kata Buahbatu, namun, dilengkapi pula dengan keterangan mengenai buah pinang. Mulai dari habitat hidup, manfaat, hingga peluang ekonomis dari buah pinang. Peran pohon pinang dalam masyarakat Jawa Barat juga turut dijelaskan oleh T. Bachtiar yang didasari dari folklor masyarakat Jawa Barat berupa teks Sunda Kuno yaitu, Kisah Bujangga Manik: Jejak Langkah Peziarah serta pantun-pantun Sunda yang menyebutkan tradisi sirih-pinang dan fungsi pohon pinang sebagai tanda memasuki wilayah pemukiman.

Melalui analisa yang dikemukan oleh T. Bachtiar mengenai toponimi dari Buahbatu maka dapat memberikan gambaran mengenai cara hidup masyarakat Jawa Barat yang banyak dipengaruhi oleh kekayaan alam sekitarnya. Sumber daya alam yang berada di sekitar masyarakat Jawa Barat dimanfaatkan tidak hanya sebagai pemenuh kebutuhan pangan namun diterapkan pula pada adat dan kebiasaan serta memiliki keterkaitan dengan masa kini.

Pada bukunya, T. Bachtiar turut menuliskan kritik terhadap penggunaan bahasa asing dalam perkembangan toponimi di wilayah Jawa Barat seperti dalam pembahasannya mengenai perubahan nama wilayah Cukangtaneuh yang berada di bagian barat pantai Pangandaran. Nama Cukangtaneuh dijelaskan berasal dari bahasa Sunda  yang memiliki arti jembatan kecil dari tanah. Hal ini dilandasi dari karakteristik alam di wilayah tersebut yang terbentuk sebagai jembatan alami dari atap gua kapur yang digunakan oleh masyarakat sebagai jalan penghubung antardesa.

Wilayah Cukangtaneuh memiliki kekayaan alam yang melimpah dan seiring dengan perjalanan waktu maka tempat tersebut berkembang menjadi sebagai salah satu objek wisata alam dari Pangandaran. Menurut T. Bachtiar masyarakat kini lebih bangga untuk menyebut wilayah Cukangtaneuh sebagai “Green Canyon”.

Terjadinya fenomena penamaan wilayah di Indonesia dengan menggunakan bahasa asing diulas secara kritis  oleh Jejen Jaelani dkk. (2014), dalam jurnal ilmiah yang berjudul “Mitos Nama Asing di dalam Penamaan Kompleks Perumahan di Wilayah Perkotaan”. Pada jurnal tersebut, Jejen Jaelani dkk. menjelaskan tiga kategori dalam fenomena penamaan bahasa asing pada kompleks perumahan yaitu: penggunaan penuh bahasa asing, gabungan nama daerah dan bahasa asing, gabungan antara bahasa Indonesia dan bahasa asing.

Menurut Jejen Jaelani dkk. fenomena itu terjadi karena adanya peningkatan jumlah penduduk yang berbanding lurus dengan kebutuhan tempat tinggal sehingga menyebabkan pengembangan wilayah perkotaan.  Penggunaan bahasa asing dianggap sebagai “mitos” yang dijelaskan sebagai sebuah cara khusus untuk menyampaikan sebuah objek yang sama. Dampak dari penggunaan bahasa asing dalam nama wilayah di Indonesia, yaitu munculnya kesan eksklusivitas dan gaya hidup tertentu yang menyebabkan munculnya segmentasi dan kesenjangan dalam satu kelompok masyarakat. Mitos yang dibangun pada dasarnya adalah dengan menggunakan bahasa asing akan melanggengkan anggapan bahwa itu lebih keren, lebih bergengsi dan lebih modern.

Menanggapi fenomena tersebut pemerintah telah menetapkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 63 tahun 2019 tentang penggunaan Bahasa Indonesia yang diberlakukan sejak 30 September 2019. Pada Pasal 33 ayat 2 Perpres 63/2019 tercantum: bangunan yang wajib menggunakan bahasa Indonesia yaitu, perhotelan, penginapan, bandara, pelabuhan, terminal, stasiun, pabrik, menara, monumen, waduk bendungan, bendung, terowongan, tempat usaha dan tempat pertemuan umum. Lalu bangunan lainnya yaitu tempat hiburan, tempat pertunjukan, komplek olahraga, rumah sakit, perumahan, rumah susun, komplek pemakaman dan bangunan-bangunan lainnya. Berdasarkan Perpres itu, pengecualian turut diberlakukan terhadap bangunan yang memiliki nilai sejarah, budaya, adat istiadat dan atau keagaman sehingga dapat menggunakan bahasa daerah atau bahasa Indonesia. Selain itu, penggunaan bahasa daerah dapat diterapkan dengan menggunakan aksara daerah.

Membaca buku Toponimi: Susur Galur Nama Tempat di Jawa Barat, karya T.Bachtiar, mengingatkan kita pada peribahasa, tak kenal maka tak sayang. Dalam perkembangan penamaan tempat dengan nama asing boleh jadi disebabkan karena kita tidak mengenal tempat kita tinggal. Maka melalui buku ini kita diajak untuk menyadari bahwa memberi nama tempat tidak dilakukan serampangan tetapi ada asal-usulnya. Sekaligus dilatarbelakangi dengan nilai-nilai kearifan lokal yang memperkaya batin masyarakat Jawa Barat.

Pegiat Rumah Baca Buku Sunda

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Perumahan Margawangi, Jalan Margawangi VII No.5, Ciwastra, Kota Bandung 40287. Telp. 0227511914

Social Profiles

Facebook