Nini Antéh*

Nini dalam bahasa Sunda artinya nenek. Nenek Anteh, dongeng yang terkenal di Jawa Barat. Bila menatap bulan sedang purnama, di permukaan bulan terlihat seperti ada bayang-bayang. Kata dongeng ini, bayang-bayang tersebut adalah Nini Antéh yang sedang menenun ditemani oleh kucing bernama Candramawat.

Nini Antéh menenunnya tidak pernah selesai. Karena bila sudah hampir selesai selalu muncul berbagai gangguan: benang kusut, benang putus,  alat menenun rusak dan lain-lain. Versi lain menyebutkan akan dirobek-robek oleh kucing, si Candramawat. Bila dunia telah kiamat, tandanya akan selesai menenun. Antéh sendiri berasal dari kata kantéh yang artinya benang yang dipintal dari kapas atau dari randu. Dongeng ini sering dikaitkan dengan pengetahuan orang Sunda tentang benda langit dan pengetahuan atau ketekunan membuat benang (ngantéh) dan menenun.

Pada zaman dahulu kala ada seorang pemburu, istrinya telah meninggal dunia, mempunyai anak perempuan yang masih kecil kurang lebih berumur tujuh tahun. Ketika bermain ia selalu ditemani seekor kucing, bulunya tiga warna dan ujung ekornya agak bengkok seperti pengait. Kucing itu disebut kucing Candramawat. Anak perempuan tersebut sangat disayangi oleh bapaknya, begitu juga terhadap kucingnya.  Karena bapaknya sering berburu ke hutan supaya ada yang mengurus anaknya, pemburu itu menikah lagi, dan menjadi ibu tiri anaknya.

Sayangnya, ibu tiri tersebut sangat bengis dan galak. Bila ada suaminya, ia selalu berpura-pura sayang sama anak tirinya. Anaknya tidak pernah diurus dan jarang diberi makan. Jika suaminya datang dari berburu, anaknya secara sembunyi-sembunyi sering dipukul dengan tempat nasi yang masih ada remahnya, sehingga badan anak perempuan itu penuh dengan remah nasi dan disebutkan anaknya nakal suka bermain nasi.

Suatu hari, ketika bapaknya pergi berburu, beberapa saat setelah itu anaknya juga pergi sambil membawa kucingnya, menyusuri pinggir kali. Setelah jauh, di suatu tempat ia menemukan pohon nunuk yang tengah berbuah, dan mengambil buah yang terjatuh, dimakannya sambil berdendang:

Amis teuing buah nunuk (manis sekali buah nunuk)

Batan kéjo kamarunggi (daripada nasi campur debu)

Paméré ambuing téré (pemberian abu tiri).

Ketika bapaknya tiba di rumah, dia menanyakan, ke mana anaknya. Karena tidak kelihatan, ibu tirinya menjawab sedang mandi di kali. Lama ditunggu tidak muncul juga, akhirnya bapaknya menyusul, menyusuri pinggir kali. Setelah berhari-hari mencari anaknya, tiba-tiba mendengar nyanyian yang didendangkan anaknya seperti di atas. Terlihat anaknya sedang duduk sambil mengelus kucing di pucuk pohon nibung. Lalu, bapaknya menyuruh turun, tapi sang anak tidak mau. Karena khawatir bapaknya naik ke pohon nibung, anaknya terus berdendang. Setiap selesai berdendang, pohon nibung bertambah tinggi, sampai mendekati bulan.  Tiba-tiba dari bulan keluar tangga yang terbuat dari emas. Anaknya naik ke tangga tak lupa membawa kucing kesayangannya. Bapaknya tidak bisa menyusul, terus berada di pohon nibung sampai meninggal. Sedangkan anaknya setelah berada di bulan diasuh oleh bidadari penunggu bulan dan diberi pekerjaan membuat benang (nganteh) dan menenun. Pekerjaan itu terus dilakukan dengan tekun sampai tua, dan akan berhenti bila telah kiamat. Saat bulan purnama, akan terlihat bayang-bayang Nini Antéh di permukaan bulan sedang ngantéh dan menenun ditemani kucingnya.

*Dongeng ini diambil dari buku, “De Inlandsche Nijverheid in West Java als Sociaal-ethnologisch verschijnsel” karya C.M.Pleyte, yang terbit tahun 1912

Adalah pengelola Rumah Baca Buku Sunda juga seorang penulis buku, "Ma Inung Newak Cahya".

Gunung Hawu

Kaca

Atap Rumah Tradisional

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Perumahan Margawangi, Jalan Margawangi VII No.5, Ciwastra, Kota Bandung 40287. Telp. 0227511914

Social Profiles

Facebook