Lamsijan dalam Beberapa Wajah

“Lamsijan bin Sarkawi, alias…

cekel gawé jadi kuncén Astana Pasir Bulistir. Mantri Jero, urusan kubur-mengubur. Geus kaceluk kuncén matih tukang torah. Lamsijan…. Lamsijan…”—Darso, dalam Album Nyi Onah.

Laiknya Si Kabayan, Lamsijan adalah tokoh folklor di Tatar Sunda. Kalau di daerah Cirebon dan sekitarnya, mereka mengenalnya dalam pagelaran seni Wayang Golek Purwa. Ia dikenal sebagai punakawan, sebagaimana Cepot terkenal di belahan lain di Tatar Sunda. Ajip Rosidi dalam pengantar novel Si Lamsijan Kaedanan menyebut, anak-anak Priangan dan Sunda pada umumnya yang pernah mengalami belajar menyanyikan lagu-lagu gubahan R. Machjar Anggakoesoemadinata (1887-1976) semasa kecilnya, akan mengenal tokoh ini pada salah satu lagu gubahannya.

Lain Ajip Rosidi, lain pula saya dan teman-teman kelahiran 90-an. Kami tidak mengenal Lamsijan melalui lagu-lagu gubahan R. Machjar Anggakoesoemadinata ataupun lewat pagelaran seni wayang golek purwa. Kami mengenal nama Lamsijan lewat Darso dan satu novella Sunda karya Ki Umbara atau nama pena dari penulis Wirdja Ranusulaksana (1914-2004).

Pada medio akhir Sekolah Menengah Atas, ada kalanya saya dan teman-teman keranjingan update informasi terkait lagu-lagu Pop Sunda. Referensi kami tentunya adalah radio dan stasiun televisi lokal. Sesekali, kalau ada uang, kami mengakses informasi tambahan via internet, berselancar di dunia maya, dari warnet ke warnet. Kebiasaan ini sebetulnya sudah dilakukan sejak pada masa sekolah menengah pertama. Kami biasa mendengarkan lalakon wayang di radio, atau memperbaharui tangga lagu Pop Sunda terpopuler yang sedang ramai didengar orang-orang. Tanpa disadari, kebisaan tersebut setidaknya menjadi satu dari sekian cara untuk menambah pembendaharaan kosa-kata bahasa Sunda—selain dari buku dan pengajaran di sekolah, juga dari orang tua dan lingkungan tentunya—dan praktik peggunaannya dalam percakapan sehari-hari.

Saya punya teman pendengar fanatik lagu-lagu almarhum Darso. Salah satu dari penyanyi Pop Sunda yang populer. Ayah teman saya adalah kolektor kaset-kaset dari Darso. Kalau  anaknya, selalu punya folder khusus Darso di pemutar musik MP3 atau di gawainya.  Satu di antara sekian banyak lagu Darso yang direkomendasikannya kepada saya adalah lagu yang berjudul “Lamsijan,” dalam album “Nyi Onah” yang lagu-lagunya merupakan ciptaan Uko Hendarto. Karakter Lamsijan dalam lagu yang dibawakan Darso adalah seorang juru kunci bersahaja dari Pemakaman bernama Astana Pasir Bulitir, namun sakti. Punya sahabat bernama Kabayan, yang memintanya untuk membantu menaklukkan Nyi Iteung.

Lamsijan yang lain saya tahu dari Ki Umbara. Selain menulis cerpen, cerita anak-anak, dan novel, beliau juga pernah menjadi pimpinan redaktur majalah Sunda, Mangle, dan Majalah Pelet (yang hanya memuatkan cerpen-cerpen). Ia juga pernah menjadi Guru di SMP Muslimin di Bandung hingga pensiun. Bukunya yang telah terbit di antaranya “Diwadalkeun ka Siluman (1965),” “Teu Tulus Paeh Nundutan (1966)”,”Pahlawan-Pahlawan ti Pasantren (1966, berdua dengan S.A HIkmat, dengan nama pena Ki Ummat),” “Si Bedog Panjang (1967),“Maju Jurang, Mundur Jungkrang (1967), dan “Si Lamsijan Kaedanan” yang pertama kali terbit tahun 1983 oleh penerbit Dasentra, kemudian diterbitkan ulang pada tahun 2003 oleh penerbit Kiblat Buku Utama.

Lamsijan yang jadi karakter utama dalam novela “Si Lamsijan Kaedanan,” berlatar pada masa Revolusi Kemerdekaan. Anak sematawayang Ma Cileung yang secara umur sudah akil balig, namun masih kekanak-kanakan; di umurnya yang sudah balig ia masih bermain kelereng dan gacon. Namun apalah daya, desakan asmara merangsek masuk dan akhirnya dia jatuh hati kepada Nyi Amoy putri dari Babah Panganten atau Babah Tan A Sien.  Ibunya kaget bukan main setelah mendengar siapa gadis yang disukainya itu. Bukan hanya karena berbeda keyakinan, tetapi baik secara fisik dan status sosial terbentang jurang kesenjangan yang lebar. Hingga ibunya menasehati, “Ieuh Lamsijan, kudu nalipak maneh ari jadi jelema. Ulah nyaruakeun jeung nu lian, jeung nu saluhureun” (hal. 16).

Penolakan keras sang ibu tidak sedikitpun mengurangi hasratnya yang meluap-luap. Ia melakukan berbagai cara untuk mencapai tujuannya, bahkan utuk taraf ekstrim seperti pada adagium yang pernah masyhur di kalangan para pemuda jatuh cinta, “cinta ditolak, dukun bertindak.” Akhirnya dia mendatangi dukun dan tokoh agama supaya diberi ajian untuk menaklukan tambatan hatinya. Ia berpuasa dan merapal jampe di waktu-waktu tertentu. Sialnya, mantra yang ditujukannya malah salah sasaran kepada Nyi Ceupleu yang merupakan pembantu Neng Amoy, yang secara fisik dan lain-lain mirip dengan Lamsijan. Kemudian karena usaha pertamanya ini gagal, akhirnya ia meminta bantuan kepada tokoh agama dan ia pun jadi rajin beribadah walau untuk niat yang lain. Nyi Amoy berhasil dekat kepadanya hanya sesaat, yakni pada masa-masa genting saat revolusi kemerdekaan. Namun akhirnya berpisah untuk selamanya dan Lamsijan seterusnya hidup berumah tangga dengan Nyi Ceupleu.

Lamsijan hadir pada tiap zaman dalam bentuk yang berbeda. Baik melalui lagu-lagu gubahan R. Machjar Anggakoesoemadinata, atau dalam bentuk novela karangan Ki Umbara, atau juga melalui lagu ciptaan Uko Hendarto yang dipopulerkan oleh Darso, ia menjadi bagian dari khazanah kebudayaan orang Sunda. Para pelaku kebudayaan tersebut, tidak hanya berperan sebagai “ahli waris” kebudayaan dari generasi terdahulu, yang memperlakukan kebudayaan sebagai notre heritage n’est precede d’aucum testamen’ (warisan kita yang diturunkan tanpa surat wasiat), pada bentuk ini kebudayaan sebagai warisan cenderung bersifat normatif. Dan pelakunya masih menganggap ini sebagai nasib, meminjam term dari Kleden, sebagai pasien kebudayaan.

Tetapi M. Achjar Anggakosoemadinata, Ki Umbara, Uko Hendarto dan Darso, mereka telah  berperan sebagai “agen kebudayaan” dan melakukan strategi kebudayaan. Menerimanya sebagai nasib, lalu memanggulnya sebagai tugas dengan penuh kesadaran untuk turut membentuk dan mengubahnya, seperti dalam kasus Si Lamsijan tokoh folklorik ini.Walaupun istilah agen dan pasien kebudayaan ini hanyalah disposisi psikologis (Kleden, 1987), sebetulnya dalam posisi sosial, kenyataanya setiap orang sekaligus menjadi agen dan pasien kebudayaan. Pada akhirnya kita adalah pasien dan agen kebudayaan sekaligus, saya atau anda, atau orang-orang yang akan datang esok lusa, besar kemungkinan akan menghadiran Lamsijan-Lamsijan lian dalam medium yang lain, atau rupa dan nama lain yang sama sekali berbeda.

Pegiat anime dan penyuka musik-musik cadas. Di sela-sela kesibukannya, menyempatkan diri sebagai pedagang buku online dan tak pernah lupa waktu salat.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Perumahan Margawangi, Jalan Margawangi VII No.5, Ciwastra, Kota Bandung 40287. Telp. 0227511914

Social Profiles

Facebook