Ngahuma

Gambar diambil dari siajun.com

“Di sana kutemukan bukit yang terbuka. Seribu cemara halus mendesah. Sebatang sungai membelah huma yang cerah. Berdua kita tinggal di dalamnya” (Godbless, Huma di atas Bukit)

Huma versi Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah, ladang padi di tanah kering; tanah yang baru ditebas hutannya. Sementara dalam Kamus Basa Sunda R.A. Danadibrata yaitu, “kebon pare di pasir, di gunung atawa di tempat anu euweuh caina; sok disebut oge tipar”. Huma mempunyai banyak pendekatan istilah, terutama yang berhubungan dengan agraris. Seperti “adat huma” yaitu, hukum adat mengenai hal ihwal hukum agraris; “banjar huma”, tempat tinggal atau perkampungan dekat ladang yang letaknya jauh dari kampung induk; “huma akuan”, lingkungan tanah milik perseorangan; dan “padi huma”, yaitu padi ladang dan pertanian, atau disebut juga pertanian ladang.

Tatanan masyarakat Sunda yang secara geografis hidup di perbukitan dan gunung-gunung, sebagian besar menggunakan sistem “berhuma” sebagai pola bertani. Bertani merupakan salah satu bagian penting bagi masyarakat Sunda, tentu saja diwariskan turun temurun dan merupakan bagian dari masyarakat  Sunda. Terkait juga dengan banyak hal, seperti alat atau perkakas, pengetahuan dan budaya.

“Ngahuma” atau berladang merupakan pola perubahan hidup manusia dari berburu menjadi agraris. Manusia Sunda mengenal “ngahuma” sejak beberapa abad ke belakang. Dalam beberapa naskah Sunda terkait, seperti Carita Parahyangan dan Wawacan Sulanjana, masyarakat Sunda sudah mengenal tentang “ngahuma”. Dalam naskah Carita Parahyangan tertulis, ”Sang Mangukuhan njieun maneh panghuma, sang Karungkalah njieun maneh panggerek, Sangkatumaralah njieun maneh panjadap, Sang Sandanggreba njieun maneh padagang” (Sang Mangukuhan jadi peladang, Sang Karungkalah jadi pemburu, Sang KatungMaralah  jadi penyadap, Sang Sandanggreba jadi pedagang).

Pedoman untuk menanam di “huma” di kasepuhan-kaepuhan, seperti di masyarakat Baduy, menggunakan pola perhitungan bintang kidang atau the belt of Orion, berdasarkan posisi bintang kidang, maka pekerjaan “ngahuma” dilaksanakan. Beberapa tahap dalam “berhuma”, pertama, membuka hutan yang akan dijadikan lahan garapan yang disebut dengan “nyacar”. Atau membuka lahan dengan membersihkan pohon dan rumput agar dapat ditanami. Pohon-pohon besar dipotong, sisa-sisa kayu dibakar, fungsi lain sisa pembakaran untuk memberikan nutrisi pada tanah.

Tahap selanjutnya adalah “ngaseuk”: membuat lubang di tanah untuk menanam benih dengan menggunakan alat yang disebut dengan “aseuk”. “Aseuk” adalah semacam tongkat kayu yang panjangnya kurang lebih 1,5 meter dan berujung runcing. Setelah benih ditanam, untuk menjaga agar lingkungan tempat benih padi tumbuh terawat dan terjaga ada istilah yang disebut, “ngoyos”, atau membersihkan sekitar “huma” dari rumput dan pohon-pohon liar. Dalam hal ini, umur benih padi sekurang-kurangnya sekitar 3 atau 4 bulan, dan merupakan waktu yang tepat untuk panen. Istilah yang biasa digunakan adalah “dibuat”, atau puncak dari benih yang sudah bisa menghasilkan bahan pokok. Mengelola huma dalam satu periode berkisar 3 dasawarsa, atau kurang lebih 30 tahun dalam hitungan masehi. Setelah itu “huma” akan berpindah tempat, dan tempat “huma” sebelumnya akan dibiarkan menjadi hutan kembali. Istilah ini disebut dengan “reuma”.

Kasepuhan seperti Baduy, Cipta Gelar dan Kampung Naga, masih teguh menggunakan pola “huma” sebagai bagian dari pola budaya mereka dan keseimbangan pola kehidupan. Dengan demikian, ekosistem juga turut terkendali dengan baik. Di beberapa tempat di daerah Bandung Utara di sekitar Kecamatan Cimenyan, misalnya, pola “berhuma” masih digunakan. Akan tetapi, sejauh yang banyak diamati, “huma-huma” yang dibuat ladang tidak pernah berpindah tempat mengikuti pola “karuhun”. Mereka membuka lahan hutan dan tidak berpindah tempat setelah 3 atau 4 dasawarsa. Dan hutan yang ada, hampir habis dibuat “huma”.

Dosen Desain Komunikasi Visual Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Unpas

Babango

Ngopi

Bahasa Kosta

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Perumahan Margawangi, Jalan Margawangi VII No.5, Ciwastra, Kota Bandung 40287. Telp. 0227511914

Social Profiles

Facebook