Bobodoran

Bobodoran, sebuah kata yang merujuk pada aktivitas melucu dan melawak dalam tradisi orang Sunda. Sedangkan dalam bahasa Indonesia, kata bobodoran sepadan dengan humor atau berguyon. Sejauh ini, istilah tersebut sangat sedikit tercatat dalam kamus. Di antara beberapa kamus yang berhasil ditemukan, pengertian bobodoran hanya bisa dijumpai pada Kamus Basa Sunda R.A. Danadibrata. Meskipun kata bobodoran bukan satu-satunya kata yang mengandung arti humor atau lucu.

Di beberapa kamus Sunda, tercatat juga istilah, lulucon, guyon dan banyol, di samping kata bodor dan ngabodor. S. Coolsma, di antaranya. Melalui Kamus Sunda-Belanda yang disusunnya, ia mencantumkan tiga istilah tersebut. Di situ, lulucon bermakna sama dengan lucu. Adapun guyon, bermakna sama dengan banyol, yang artinya: lelucon, bermain-main dan kejar-kejaran.  

Dalam Kamus Basa Sunda R.A. Danadibrata, dua kata yang hampir sama, yaitu, bodor dan bobodoran, ditulis dalam kamus itu. Kata Bodor mengacu pada pelaku humor yang diartikan, jelema tukang nyieun pikaseurieun batur di panglalajoan (orang yang suka membuat tertawa orang lain di tempat tontonan), sedangkan bobodoran  diartikan, nu keur ngabodor (yang sedang melucu).

Secara diakronis, bobodoran telah lama digunakan oleh orang Sunda. Salah satunya, dapat ditemui dalam novel Baruang ka nu Ngarora, yang terbit pada tahun 1914: “Sanggeus beres barang-tuangna, tuluy salasauran deui. Sarerea pada ngabijilkeun kamonesan, ngabeberah nu keur brangta, aya nu ngadongeng, aya anu cacarita bae, sawareh bobodoran, sawareh pabisa-bisa moyok” (hlm. 17). Selang dua puluh dua tahun kemudian, koran berbahasa Belanda, Bataviaasch Nieuwsblad, edisi 29 Februari 1936, memuat informasi mengenai agenda acara yang terselenggara dalam program radio. Di dalamnya tertulis nama pertunjukan Bobodoran Wajang Golek, yang dijadwalkan tampil pada pukul 20.00. Bukan hanya itu, dalam Nieuwsgier, yang terbit pada Senin, 27 September 1954, juga memuat agenda acara dengan menggunakan istilah Bobodoran Sunda.

Sebagai sebuah kata, bobodoran juga kerap dihubungkan dengan kebiasaan orang Sunda yang senang berguyon. Konon, menurut Ajip Rosidi, “orang Sunda itu sudah dari dulu kesohor sebagai ahli mengarang hal-hal lucu, pandai bercanda dan suka berkelakar. Oleh sebab itu, orang Sunda harusnya panjang umur, awet muda dan tidak cepat beruban”. Hal ini bisa juga dijumpai dalam buku-buku berbahasa Sunda, yang isinya mengemas kisah-kisah humor Sunda, seperti cerita Si Kabayan .

Dari tahun ke tahun, perkembangan buku bobodoran Sunda cukup mudah untuk dilacak. Apalagi, dengan hadirnya era digital sekarang ini, manifestasi dari bobodoran bukan saja ditulis di buku-buku cetak, bahkan telah dibuat melalui lini massa. Para penikmat humor Sunda dapat mencari seperti apa bobodoran yang diinginkan. Ketika menjelajah dalam mesin pencarian youtube, misalnya, para penonton akan disuguhkan begitu banyak bobodoran yang tersaji dari kanal-kanal menarik. Video-video yang diunggah di antaranya mengenai, pergelaran wayang golek Si Cepot, longser, dan dongeng-dongeng lucu dari mendiang Kang Ibing. Malah, ada juga kisah lucu Cangehgar yang pernah diputar pada salah satu radio swasta di Bandung tahun 2010. Dengan menulis kata kunci, “bobodoran Sunda”, mesin pencarian akan menunjukkan para penikmat humor Sunda pada kanal yang berisi dongeng Si Cepot, cerita Kang Ibing hingga Cangehgar yang diproduksi melalui versi visualnya.

Pekerja serabutan. Saat ini, didaulat untuk mengurus situmang.com.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Perumahan Margawangi, Jalan Margawangi VII No.5, Ciwastra, Kota Bandung 40287. Telp. 0227511914

Social Profiles

Facebook