Langlayangan

Gambar diambil dari https://bangkusekolah.com/2017/10/22/definisi-dan-sifat-dari-bangun-datar-layang-layang/

“Langlayangan nyaeta mangrupa kaulinan budak anu dijieun tina keretas nu diapungkeun ku angin sangkan ulah leupas”, begitulah kamus Danadibrata mengartikan langlayangan. Dalam bahasa Inggris, langlayangan disebut “kite”, sementara dalam Bahasa Indonesia disebut dengan layang-layang. Dari beberapa catatan, permainan layang-layang, merupakan permainan yang cukup tua. Konon, dalam salah satu dokumen dari Cina, keberadaan layang-layang sudah eksis sejak 2500 tahun sebelum masehi. Sementara di Nusantara, terdapat sebuah lukisan gua di pulau Muna, Sulawesi Tenggara, yang menggambarkan permainan layang-layang. Berdasarkan Sulalatus  Salatin—sebuah naskah berabjad Jawi—pada abad 17, keberadaan layang-layang  juga disinggung dalam naskah tersebut. Di Nusantara masa lampau, layang-layang terbuat dari daun-daunan, semacam umbi hutan, bingkainya terbuat dari kulit bambu, dan serat nanas yang dililit  panjang sebagai tali.

Layang-layang juga terbuat dari kertas tipis. Orang Sunda biasa menyebut, kertas sampeu. Kertas itu ditempel di atas rangka dari bambu yang diserut tipis menyerupai lidi. Bentuk dasar rangka, terdiri dari dua rangka utama, merunut pada bentuk geometri, seperti dua segitiga disatukan, bagian bawah lebih tinggi daripada bagian atas, dan di antara rangka diikat dengan benang. Layang-layang dengan ukuran besar, biasa diikat dengan benang kasur. Kertas tipis ditempel di atas rangka. Panjang rangka tergantung dari ukuran layang-layang.

Terdapat dua jenis layang-layang: layang adu dan layang hias. Di beberapa daerah di Jawa barat, layang-layang berfungsi juga sebagai alat untuk memancing. Seperti di daerah Pangandaran, layang-layang dihubungkan dengan mata kail, dan juga digunakan untuk menangkap kalong atau kelelawar. Dengan  cara, layang-layang dipasang jerat.

Cara menerbangkan layang-layang, untuk pemula, dilakukan oleh dua orang. Sedangkan bagi yang sudah ahli, cukup diterbangkan sendiri. Layang-layang dapat terbang dengan bantuan angin. Satu orang memegang layang-layang sambil menunggu angin yang cukup kencang, dan angin harus menuju ke arah depan, bukan ke arah belakang. Bila angin sudah cukup kencang, lepaskan layang-layang. Keahlian menarik serta mengulur tali, bisa menerbangkan layang-layang sampai ke atas, sejauh yang diinginkan. Hal yang sama bila kita ingin menerbangkan layang-layang sendiri, tinggal tunggu angin yang cukup dan melakukan tarik ulur yang sama. Layang-layang yang tidak seimbang akan berputar-putar di atas, dan sulit untuk dikendalikan. Istilah yang biasa digunakan, palincang.

Bermain layang-layang di daerah Bandung, merupakan permainan yang cukup populer. Menurut Kang Dicky, pemerhati layang-layang dan juga Dosen Desain Komunikasi Visual, Unpas, menyebut bahwa, di sekitar jalan Cibadak ada salah satu gang bernama gang Sereh, yang tidak jauh dari alun-alun Bandung. Tempat itu merupakan sentra layang-layang yang cukup lama berdiri dan terkenal, dan sudah berdagang sekitar 50 tahun. Hingga saat ini, sentra layang-layang itu masih bertahan.

Sentra Layang-layang gang Sereh tidak membuat layang-layang, tapi sebagai alur distribusi penjualan untuk seluruh wilayah di Nusantara. Di sentra gang Sereh, terdapat salah satu toko yang cukup terkenal, yaitu toko Jafar. Berbagai jenis alat-alat untuk menerbangkan layang-layang dijual di sana. Gelasan, kenur, golongan dan tentu saja, layang-layang. Peralatan, dan layang-layang di sentra gang Sereh berasal dari Cihampelas daerah Cililin, Kabupaten Bandung. Gelasan adalah benang yang diolah dengan menggunakan material pecahan kaca, yang dihancurkan sampai berbentuk serbuk serta dicampur dengan putih telur dan terasi. Cara membuat gelasan: benang dibentangkan, kemudian ramuan bubuk kaca, putih telur dan terasi dioleskan ke benang, sambil dijemur di bawah terik matahari. Gelasan juga terbagi atas dua jenis: berdasarkan tingkat ketebalan, yang terbuat dari benang biasa, dan juga yang terbuat dari senar. Pabrik gelasan yang terkenal berasal dari Cibolang, daerah wilayah Kopo, atau gelasan dari jalan Bahureksa sekitar jalan Dago, Bandung. Fungsi dari gelasan adalah untuk memutus tali layangan lawan, dalam pertandingan adu layang-layang. Ada pola menguji kekuatan gelasan dengan cara, ngadu bandring atau ngadu keset. Gelasan diikat dengan kayu, kemudian beradu dengan gelasan lawan. Sementara yang tidak putus adalah pemenang.

Kenur juga merupakan benang yang terbuat dari senar, atau benang plastik. Benang ini memiliki karakter tidak elastis dan alot. Fungsi kenur sebagai tali untuk menerbangkan layang-layang. Terbuat dari benang “nilon” tipis.

Golongan adalah tempat kenur dan gelasan digulung, agar tidak kusut, dan juga memudahkan untuk bermain layang-layang.

Terdapat istilah dalam permainan layang-layang versi “urang Bandung”. Menurut  Pak Haji Agus, salah seorang pemain layang-layang dari Tamansari, menyebut beberapa versi itu dengan istilah-istilah khas. Antara lain, bandring, ngabandang, kapakan dan ngarebol. Bandring menarik layang-layang dengan ditarik, dengan menggunakan benda berat. Biasanya dengan batu yang diikat oleh tali. Ngabandang, yaitu,  mengejar dan mengikat layang-layang kalah, di atas langit dengan benang layang-layang lawan. Kapakan, adalah layang-layang yang lepas dari sambungan benang. Sedangkan ngarebol yaitu, layang-layang yang kalah bertempur, dikejar dan diambil menggunakan kayu yang panjang, atau bambu.  Ada pula semacam jangjawokan menurut Pak Haji Agus, untuk memanggil angin. Jika angin tidak bertiup, diucapkan seperti berikut “handeon, handeon, pangmukakeun lawang angin”.

Di daerah Priangan Timur, tepatnya di Garut, layang-layang kebanyakan berukuran besar. Lima kali lebih besar dari ukuran layang-layang di Bandung. Biasanya setiap layang-layang diberi gambar sebagai identitas pemilik, tukang gambar layang-layang disebut dengan wangkong. Menurut Kang Yudi Rudiansyah, pemain layang-layang asal Garut, bahwa dalam setiap layang-layang, terdapat klasifikasi kelas. Ha ini, dapat kita amati dari ekor yang ada pada layang-layang. Kelas tertinggi memakai ekor dari bulu merak, layang-layang biasa menggunakan ekor dari kertas, yang dihias, mengikuti strata sosial sang pemilik layang-layang.

Layang-layang dimainkan di tegalan, bekas sawah yang habis panen. Para pemain layang-layang, membawa pembantu, apabila layang-layang mereka kalah.  Ketika diaben atau diadu, ada para pengejar yang siap untuk bergerak, terkecuali apabila layang-layang jatuh ke pihak lawan. Dan  harus dilakukan dengan cara barter atau dibeli, agar layang-layang bisa kembali ke pangkuan.***

Dosen Desain Komunikasi Visual Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Unpas

Riol Bandung

Korang

Ngopi

1 comments On Langlayangan

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Perumahan Margawangi, Jalan Margawangi VII No.5, Ciwastra, Kota Bandung 40287. Telp. 0227511914

Social Profiles

Facebook