Sisi Lain Gatot Mangkoepradja sebagai Tokoh Pergerakan

Gatot Mangkoepradja adalah putra Pasundan kelahiran 15 Desember 1898 di Kabupaten Sumedang. Ia terlibat dalam pembentukan Paguyuban Pasundan pada 1913. Masa mudanya lebih banyak dihabiskan di organisasi politik hingga menjadi pencetus tentara Pembela Tanah Air (PETA). Saat tentara Jepang mendarat di Jawa di tengah kecamuk Perang Pasifik tahun 1942, Gatot Mangkoepradja mendengar mereka sudah masuk ke Cibereum. Sementara di Cianjur juga sudah terdengar kedatangannya. Ia kemudian diajak beberapa temannya untuk menyambut para opsir itu di rumah Bupati Cianjur.

Ketika itu, saat 9 tahun yang sebelumnya, Gatot sudah pernah pergi ke negeri Matahari Terbit tersebut. Ia turut menghadiri Kongres Pan Asia, bertemu dengan banyak tokoh Asia. Kemudian ia tertarik dengan wacana Jepang yang akan mengusir orang non-Asia di benua Asia.

Sejak sekolah, Gatot sangat aktif di organisasi. Saat ia masih belajar di STOVIA, ia terlibat dalam pendirian Paguyuban Pasundan pada 1913, bersama Koesoemah Soejana, dan beberapa tokoh lainnya. Tujuh tahun kemudian, ia menjadi pimpinan Bond van Inheemsche Studeerenden (Ikatan Siswa Pribumi). Sementara saat bekerja di Kereta Api, ia aktif di gerakan Buruh. Di organisasi ini ia menjadi Komisi Sekretaris Umum (Secretaris Hoofdbestuur) pada 1922.

Empat tahun kemudian, ia aktif di forum belajar dengan Sukarno di Algemene Studie Club. Di sana ia bertemu dengan Douwes Dekker, Cipto Mangoenkoesoemo, Sosrokartono, dan tokoh peregerakan lainnya. Aktivitasnya di organisasi membuat dia dekat dengan Sukarno. Khususnya saat bergiat di Perserikatan  Nasional Indonesia (PNI). Ia bahkan hadir saat PNI didirikan pada 4 Juni 1927 dan didapuk menjadi Sekretaris Pembantu Sukarno.

Loyalitas Gatot pada PNI sangat bisa diperhitungkan. Ia rela menjual tanah warisannya demi menghidupi partai tersebut. Setelah dikurung dalam penjara Sukamiskin oleh Belanda pun ia tidak kapok bergiat bersama para nasionalis. Buktinya, saat ia bergabung bersama Sartono ke Partai Indonesia (Partindo). Untuk menghidupi Partindo, lagi-lagi Gatot rela menjual hartanya, demi menghidupi organisasi.

Gatot diketahui pernah bergabung dalam Pemufakatan Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI). Ia menjadi jalan keluar saat Sukarno kesulitan untuk mempertemukan para pemimpin Islam dalam forum PPKI itu. Atas inisiatif pribadi dan Partindo, ia pergi ke Sumatera untuk berkunjung ke Kiai Jambek, KH Said, KH Jalaloedin, KH Ilyas Jacob, KH Mochtar Loethfi, dan beberapa pemimpin lainnya. Berkat musyawarah yang dilakukan Gatot tersebut, akhirnya para tokoh Islam Indonesia turut hadir dalam perancangan asas negara dalam forum PPPKI. Perumusan asas negara ini tak lain ialah cikal bakal dari Pancasila.

Selain sebagai tokoh pergerakan, Gatot pun mendirikan toko obat “Dispensary”, letaknya di Jalan Raya No. 22 Bandung. Usaha ini memungkinkannya terhubung dengan banyak pengusaha asing. Di antaranya Belanda, Jerman, dan Jepang. Hubungan dengan pengusaha Jepang membuat geraknya diawasi oleh reserse. Ia khawatir posisinya di Bandung yang demikian diawasi akan merugikan usahanya. Gatot pun hengkang dari Bandung kemudian pindah ke Kota Cianjur. Di Kota ini ia mendirikan toko obat bernama Rumah Obat Dr. Saleh. Ia bisa mengembangkan usahanya dengan baik di tempat baru ini. Bahkan lewat jualan obat di sini, ia bisa terlibat ke usaha memerdekakan Indonesia.

Pada saat Gatot di Cianjur, pasukan Jepang sudah mendarat di Jawa. Kemudian Gatot diajak kawannya untuk menyambut opsir Jepang itu di kediaman Bupati Cianjur. Ketika Jepang menjanjikan kemerdekaan untuk Indonesia, Gatot menaruh harapan. Ia bertekad untuk memerdekakan Indonesia lewat Jepang. Akses Gatot ke beberapa tentara Jepang ini bermula dari bisnis obatnya di Cianjur. Tokonya bersebelahan dengan kios Togashi, letnan asal Jepang. Lewat Togashi ia bisa berkenalan dengan beberapa petinggi Nippon. Meski punya hubungan dekat dengan beberapa letnan, ia tidak sepenuhnya bisa leluasa berkomentar atas kebijakan Jepang, khususnya soal kebijakan wajib militer. Ketetapan wajib militer di bawah komando Nippon dikatakan Gatot bermula dari Tuan Raden Soetardjo Kartohadikoesumo dkk. Mereka yang menganjurkan Jepang agar memberlakukan wajib militer pada masyarakat Indonesia. Tujuannya untuk menyokong pasukan di pertempuran Asia Timur Raya. Demi kemenangan Jepang sehingga Indonesia bisa merdeka. Gatot tidak setuju dengan usulan wajib militer. Ia kemudian menuliskan sikap keberatannya di surat kabar Tjahaja. Ia memberi usulan agar lebih baik dibentuk tentara sukarela. Atas komentar itu, ia dibawa ke Sukabumi oleh tentara Jepang. Di sana ia diintrogasi maksud dari tulisannya tersebut. Untungnya,  ia selamat dari kekerasan opsir Jepang lantaran punya hubungan dengan beberapa letnan. Masukan Gatot tersebut kemudian dipertimbangkan oleh Letnan Yanagawa. Ia dipercaya karena sudah pernah terlibat dalam badan wajib militer yang dipimpin Belanda, Luchtbeschermingsorganisatie di Kota Cianjur. Ia mengusulkan tentara sukarela agar menghindari pengkhianatan seperti yang terjadi saat Belanda kalah dari Jepang. Untuk meyakinkan Jepang, Gatot berani dihukum bila Pembela Tanah Air (PETA) ini tidak diminati masyarakat.

Soal sejarah usulan PETA, memang banyak yang menganggap hal ini kontroversial. Akan tetapi peran Gatot Mangkoepradja diakui banyak pihak. Saat ini, nama Gatot Mangkupraja diabadikan di salah satu jalan di Sumedang dan Cianjur.

Pegiat Media. Saat ini menjadi relawan untuk odesa.id sekaligus sebagai tim redaksi situmang.com.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Perumahan Margawangi, Jalan Margawangi VII No.5, Ciwastra, Kota Bandung 40287. Telp. 0227511914

Social Profiles

Facebook