Atap Rumah Tradisional

Atap dalam bahasa Sunda disebut hateup atau suhunan: berfungsi sebagai pelindung bangunan rumah baik dari air hujan maupun dari sengatan terik matahari. Atap dipasang pada rangka rumah bagian atas di antaranya, usuk dan ereng. Pada usuk dan eréng ini, atap rumah disusun sedemikian rupa sehingga menutupi semua bagian. Atap pada rumah tradisional Sunda ada yang disebut welit, ijuk, talahab dan kenténg (genting).

Welit dibuat dari daun alang-alang, dipilih yang panjang dan yang sudah agak kering tetapi tidak cepat patah (henteu regas). Untuk membuat welit, terdapat beberapa cara. Dimulai dengan membuat bilah bambu kira-kira sebesar kelingking dengan panjangnya sekitar sedepa atau sekitar 80 cm (jalon atau sajalon). Selanjutnya, ambil sekepal daun alang-alang, pangkalnya dibelitkan ke jalon dan diikat dengan bambu tali. Untuk proses mengikat ini disebut ngawilet. Setelah penuh dengan daun alang-alang sepanjang jalon, daun alang-alang digencet dengan bilah bambu di atas dan di bawahnya (tutus) dan diikat dengan tali agar tidak terlepas. Hal ini disebut ngawilet.

Selain alang-alang, daun gebang juga dapat dijadikan bahan atap. Caranya hampir sama, daun gebang dibuka selebarnya setiap dua lembar saling tindih, diikat dengan tali hata atau tali rotan sehingga menutupi sepanjang jalon. Untuk bahan yang lain, daun kelapa atau daun pohon aren juga bisa dijadikan untuk atap.

Cara lain untuk membuat atap bisa juga menggunakan ijuk. Atap yang memakai ijuk, semacam bulu atau lapisan luar yang menempel pada pohon aren (kawung). Adapun cara mengambil ijuk dari pohon aren disebut mopogkeun injuk. Memilih ijuk untuk atap cenderung dipilih yang lebih halus, karena yang besar cukup keras (harupat) dan tidak lentur. Kegunaan harupat pada zaman dulu suka dipakai pena untuk menulis atau dijadikan alat tunjuk atau tutunjuk waktu belajar mengaji. Ijuk juga sering dipilin atau dipintal menjadi tali tambang.

Segulung ijuk disebut kakab atau sakakab. Untuk atap, setiap kakab dibuka dan saling menumpuk supaya tidak bocor di waktu hujan.

Cara memasang welit atau ijuk untuk atap, dimulai dari bawah pada rangka atap disusun saling menumpuk maju ke arah atas rangka. Orang yang memasangnya juga harus sudah ahli, bisa mengira-ngira kerapatan dan ketebalan yang memadai supaya tidak bocor sewaktu hujan. Karena jika terdapat kebocoran, akan sulit ngayuman atau memperbaikinya. Baik welit maupun ijuk sekarang ini banyak dipakai di bangunan yang ingin menampilkan nuasa etnis, seperti restoran atau gazebo di sekitar hotel.

Selain itu, orang Sunda juga sering memakai Talahab. Yaitu, atap rumah yang terbuat dari bambu sebelah yang telah dibersihkan penghalang pada setiap ruasnya. Cara pemasangannya diselang-seling antara yang terbuka menghadap ke atas lalu ditutup antara bilah satunya dengan bilah yang lainnya dengan belahan bambu yang  menghadap ke bawah. Talahab biasa dipakai di rumah yang kecil seperti di dangau atau saung yang ada di kebun atau di sawah, Ada kalanya juga digunakan sebagai penutup teras rumah atau di sosompang imah atau sering juga disebut leang-leang.

Untuk genting, kiranya, butuh penjelasan yang lebih khsusus. Karena sangat umum dipakai dan masih banyak yang membuat baik yang langsung dari tanah liat atau dibuat dari adukan pasir halus dan semen. Hanya saja, perlu diperhatian bahwa, atap rumah dari welit, ijuk ataupun talahab sangat rawan kebakaran apalagi pada musim kemarau. Di perkampungan zaman dahulu, ketika rumah kebanyakan memakai atap welit maupun ijuk, biasanya, terdapat juga bakrik di setiap rumahnya. Sebuah galah panjang yang salah satu ujungnya mempunyai kait. Gunanya, untuk mengait atap rumah yang kebakaran sekaligus rangka rumah yang roboh, sehingga apinya mudah dipadamkan. Biasanya, pada tiap-tiap rumah, terdapat juga sebuah kolam (balong). Kolam ini, bisa digunakan untuk memadamkan api jika terjadi kebakaran.

Adalah pengelola Rumah Baca Buku Sunda juga seorang penulis buku, "Ma Inung Newak Cahya".

Ngopi

Nini Antéh*

Pasaran

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Perumahan Margawangi, Jalan Margawangi VII No.5, Ciwastra, Kota Bandung 40287. Telp. 0227511914

Social Profiles

Facebook