Dari Debu, Lahirlah “Kebul”

Di tempat berukuran 3×2 meter persegi, terpampang ribuan buku-buku bekas maupun baru. Di lemari sebelah kiri, terlihat tumpukan buku-buku sejarah dan sastra: di situ, nampak juga buku Pertempuran Penghabisan, karya Ernest Hemingway, novel Putri, karya Putu Wijaya dan buku biografi Suwardi Suryaningrat. Di lemari sebelah kanan, tumpukan buku-buku Sunda dan berbahasa Inggris turut pula mengisi lemari. Buku-buku wacana keislaman juga banyak tersedia di sana. Di depan ruangan yang berjarak sekitar satu meter itu, kita akan disuguhkan dengan beragam buku kajian keislaman dan filsafat yang diletakan pada salah satu meja yang cukup lebar. Di atasnya tertulis sebuah plang berwarna kuning, “Kebul: Toko Buku Tidak Lengkap”—sebuah lapak buku yang dikelola oleh Ahmad Mughni Sidiq dari tahun 2010.

Terletak di Jalan A.H. Nasution Nomor 495, Kota Bandung, Toko Buku Kebul sudah beroperasi sejak tahun 2013. Lokasinya berdekatan dengan kampus UIN Sunan Gunung Djati yang berada di area masjid Kifayatul Akhyar, bersebelahan dengan arah menuju Gang Kujang. Mughni menuturkan, jika dirinya sudah berjualan sudah cukup lama, sejak tahun 2010. Ketika itu, ia masih berjualan di sekitar kawasan kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung. “Waktu pertama membuka lapak, ya di DPR (Di bawah Pohon Rindang kampus UIN). Mulainya dari tahun 2010, waktu DPR masih banyak pedagang kaki lima”, ujar Mughni.

Konon, untuk penamaan tokonya tersebut, Mughni tidak terpikir apa landasannya. Nama itu didapatnya dari ucapan-ucapan dosen maupun mahasiswa yang sering membeli bukunya, saat masih beroperasi di DPR. “Kebetulan waktu itu Gedung Psikologi sedang dibangun. Karena beredekatan, buku-buku saya pun banyak terkena debu yang berasal dari bangunan itu. Para Pelanggan pun mulai menilai. Terutama dari kalangan dosen dan mahasiswa. Katanya, ‘Lamun meuli buku ti Si Mughni euweuh kebulan, berarti lain meuli ti Si Mughni (kalau beli buku dari Mughni, tidak ada debunya, berarti bukan beli dari si Mughni)’. Di sinilah nama itu muncul”, ungkap pelapak buku sekaligus penulis novel Perpustakaan Kelamin itu.

Mughni pun mengklaim bahwa di tokonya tersebut, banyak menyediakan buku-buku yang fokus pada wacana-wacana alternatif. “Jadi, kalau misalnya di Jurusan Sosiologi UIN buku wajib yang menjadi acuan buku karya Soerjono Soekanto. Nah, saya menyediakan buku-buku kajian sosiologi yang lain. Begitu juga di Jurusan Komunikasi, buku wajibnya adalah buku karya Deddy Mulyana, misalnya, saya juga menyediakan buku kajian media yang lain. Jadi buku-buku yang dijual di sini, lebih ke wacana alternatif sih”, ucapnya.

Sebagai penjual buku, lulusan Komunikasi Penyiaran Islam ini, telah menghasilkan beberapa karya non-fiksi. Dengan nama pena Sanghyang Mughni Pancaniti, kini, ia telah menulis empat buku, yang dimulai tahun 2009. Antara lain: Laa Ilaaha Illaa Ana (2009), Perpustakaan Kelamin (2016), Tahun Tanpa Tuhan (2018), dan novel Perpustakaan Dua Kelamin (2019). Mengenai nama pena, Mughni bercerita jika alasan penggunaan nama itu karena kecintaannya terhadap wayang golek. Apalagi, waktu itu skripsinya mengenai Semar sebagai objek penelitiannya. “Nama Sanghyang, karena kaedanan pisan sama wayang golek dari dulu. Kalau Pancaniti, saya ambil dari Dalem Pancaniti di Cianjur”, tuturnya.

Dokumentasi Mughni

Ihwal kesundaan, penggemar film dan lagu India itu menyebutkan, bahwa salah satu wujud untuk mengejawantahkan kecintaannya terhadap Sunda, dengan bergiat di Komunitas Riksa dengan kawan-kawan kuliahnya dulu. Apalagi, sang ibu sekarang mengajar sebagai dosen Budaya Sunda, dan membuat Mughni terbiasa dengan kajian kesundaan. “Kalau disebut tertarik pada kesundaan, ya, suka banget. Soalnya dulu saya bergiat juga di Riksa (Riungan Ki Sunda). Dan kebetulan ibu juga mengajar budaya Sunda”, katanya.

Ketika ditanya siapa tokoh yang paling diidolakan, Mughni menjawab tiga aktor film India: Irfan Khan, Nana Patekar dan Vijay Sethupathi. Alasannya, karena mereka lebih terlihat natural saat bermain film. “Jadi untuk tiga tokoh ini, mereka berakting tapi kayak tidak berakting. Mukanya cenderung dingin dan terlihat natural. Ditambah, idealismenya tinggi kalau soal mengambil peran. Tidak asal ambil”, ucap Mughni.

Sebagai penjual buku sekaligus penulis, Mughni tentu mempunyai sebuah harapan atau cita-cita. Saat ditanya, “apa cita-citanya?”. Dia menjawab: “Cita-cita saya itu ingin punya toko buku dan menulis. Jadi sebetulnya sudah tercapai”.

Mahasiswi, penyuka Anime Naruto dan tukang beres-beres rumah kalau lagi sepi.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Perumahan Margawangi, Jalan Margawangi VII No.5, Ciwastra, Kota Bandung 40287. Telp. 0227511914

Social Profiles

Facebook