Ngopi

Dokumentasi kopidewa.com

Apapun acaranya, memakan makanan ringan (dalam bahasa Sunda disebut hahampangan) kendatipun minuman air kopi tidak dihidangkan, hanya ada air teh, air tawar, sekalipun makanannya sekadar ubi bakar, sering disebut ngopi. Biasanya, ngopi dilakukan pada pagi hari menjelang siang atau pada waktu menjelang sore.

Munculnya istilah ngopi pada masyarakat Jawa Barat, khususnya yang berada di Priangan, lantaran selama 150 tahun menjalankan tanam paksa menanam kopi yang terkenal dengan sebutan Preanger Stelsel pada zaman kolonial dulu.

Bermula pada awal abad ke 18, ketika seduhan kopi menjadi kegemaran bangsa Eropa dan menjadi komoditas unggulan, lalu Belanda (diwakili oleh VOC) berusaha menanamnya di area luas di tanah Jawa. Mula-mula, penanaman ditanami di sekitar pantai utara antara Batavia dan Cirebon, tetapi hasilnya tidak memuaskan. Setelah dicoba di dataran yang lebih tinggi, ternyata hasilnya sangat bagus. Maka pada tahun 1720 dicanangkan tanam kopi secara besar-besaran dengan cara tanam paksa. Tetapi masih diberi upah walaupun hanya sebagai pengganti menggarap ladang, huma maupun sawah. Setiap laki-laki yang telah berkeluarga diwajibkan mengikuti tanam paksa ini dengan pengawasan yang ketat baik dari bangsa Belanda maupun dari para bupati yang berkuasa saat itu.  Pengawasan yang ketat tersebut bisa dimaklumi, karena semakin banyak hasil kopi yang ditanam akan semakin menghasilkan keuntungan yang semakin besar bagi para bupati.  Akibat tanam paksa ini, banyak keluarga yang kelaparan, karena dalam pemeliharaan tanaman kopi hampir melibatkan semua anggota keluarga, istri dan anak ikut menyiangi tanaman. Hal ini menyebabkan juga garapan huma, sawah maupun kebun terbengkelai, dan tidak menghasilkan makanan pokok untuk kebutuhan sehari-hari.

Di Jawa Barat, hampir tidak ada perkebunan tebu yang menghasilkan gula pasir atau gula putih. Yang ada hanyalah gula aren.  Para penyadap air nira yang menghasilkan gula aren, juga tersedot menanam kopi, dan terpaksa cuman kebagian “kopi pahit” saja. Itupun, jika ingin mendapatkan biji kopi mesti dengan jalan sembunyi-sembunyi. Seringnya hanya minum air tawar atau air teh tanpa gula. Sehingga dari sini, timbul kebiasaan menghidangkan air teh tanpa gula. Dalam suasana seperti itulah muncul istilah ngopi, yang disandarkan pada kegiatan minum dan makan penganannya apa saja. Dengan kata lain, istilah ngopi berkonotasi pada arti istirahat, menghilangkan lelah atau suntuk sambil minum dan makan penganan seadanya.

Peristiwa tanam paksa juga menimbulkan ungkapan, jaman cacing dua saduit. Ungkapan tersebut berarti: menunjukan zaman dahulu ketika dua ekor cacing dihargai satu duit (1 duit kurang lebih sebesar 0,85 sen). Tanam paksa menanam kopi ini bukan sekadar menanam, tapi juga adanya perluasan lahan dengan jalan membuka hutan, menebang pohon memotong perdu, membersihkan lahan dan mencangkulnya. Setelah pekerjaan berlangsung, ternyata, hasilnya kurang baik. Lalu, diadakan penyelidikan yang terdapat kurangnya kedalaman ketika mencangkulnya. Maklum, pada saat itu, orang-orang bekerja dalam suasana tertekan dan kurang makan. Kontrolir (pengawas) mengeluarkan perintah bahwa mencangkulnya harus lebih dalam sampai dapat cacing, dan cacingnya sebanyak dua ekor, supaya dihargai satu duit. Para pekerja kembali bersemangat untuk mencangkul lebih dalam walaupun ada yang saling mengakali di waktu luang mencari cacing seperti di air comberan atau tempat lain.

Peristiwa tanam paksa ini bukan saja menghasilkan penderitaan bagi masyarakat yang terdampak. Setelah tanam paksa ini berlangsung cukup lama, satu dari sekian banyak masyarakat Sunda ketika itu, justru telah menciptakan kakawihan barudak (nyanyian anak-anak) yang tidak diketahui penciptanya. Kakawihan ini diberi judul Ka Jami, yang berbunyi :

hayu euy hayu (ayo teman ayo)

barudak urang ka jami (anak-anak kita ke jami)

embung euy embung (tidak mau ah tidak mau)

sieun badak nu kamari (takut badak yang kemarin)

euweuh euy euweuh (tidak ada ah tidak ada)

geus dibedil ku si Jendil (sudah ditembak/ dibunuh oleh Si Jendil)

dilong dil dilong ( dilong dil dilong)

Si Jendil dirawu kélong.(Si Jendil dibawa kelong)

Secara inplisit, kakawihan ini ternyata perlu ditafsir sesuai konteksnya. Di antara deretan kalimat yang perlu ditafsir ialah, jami, yang berarti kebun kopi. Anak-anak saling mengajak ke kebun kopi, tapi tidak mau karena takut badak, diartikan orang belanda yang tinggi besar, galak dan suka marah-marah. Tidak ada karena badaknya sudah dibunuh si Jendil, diartikan: orang yang melawan atau memberontak. Si jendil hilang dibawa kelong bermakna: sosok siluman yang menakutkan, biasanya digambarkan perempuan buruk rupa dan buruk badannya yang tinggi besar sebagai representasi orang Belanda yang berkuasa.

Adalah pengelola Rumah Baca Buku Sunda juga seorang penulis buku, "Ma Inung Newak Cahya".

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Perumahan Margawangi, Jalan Margawangi VII No.5, Ciwastra, Kota Bandung 40287. Telp. 0227511914

Social Profiles

Facebook