R.H.O Djoenaidi: Si Raja Sirih Pejuang Pers

Dokumentasi Perpustakaan Nasional

Pada 8 April 1933 seorang jurnalis bernama Saeroen mendirikan koran mingguan Pemandangan. Meski koran itu disambut baik banyak kalangan, dalam beberapa bulan pertumbuhannya, masih terbilang lesu. Lantaran biaya operasional dan pemasukan belum sesuai harapan. Hingga enam bulan berselang, surat kabar Pemandangan mendapat uluran tangan dari Raden Haji Oene Djoenaidi, “Si Raja Sereh” dari Manonjaya, Tasikmalaya.

Sejak saat itu, Amang Oene menjadi bagian dari surat kabar yang berpengaruh itu. Tidak hanya menghidupkan keuangannya, tetapi juga ikut menyumbang ide pada redaksi. Sebagai seorang saudagar yang memiliki ratusan hektar kebun kelapa, sirih dan karet, Oene dipandang sebagian orang sudah gila, mau berinvestasi di surat kabar. Jangankan mengharapkan untung, surat kabarnya bisa panjang umur pun sudah syukur.

Saat terjun ke dunia pers, Oene begitu terlihat totalitasnya. Ia mengorbankan banyak hal agar surat kabar Pemandangan bisa hidup sejajar dengan koran-koran kolonial. Pernah suatu ketika ia sampai menjual perhiasan istrinya untuk kelangsungan Pemandangan.

Sebagaimana diceritakan dalam buku biografinya berjudul, R.H.O Djoenaidi: Pejuang Pengusaha & Perintis Pers Menuju Indonesia Merdeka (1982), Oene sudah lama ingin menyumbang tenaga di pers pribumi. Kepeduliannya pada kehidupan rakyat yang tertindas sudah tertanam sejak remaja, lewat ajengan Djoenaidi. Tepatnya saat ia belajar ilmu agama di Mekah. Ajengan Djoenaidi, pengurus Sarekat Islam (SI) Malangbong itu mengajari kehidupan bermasyarakat pada si remaja Oene. Dari mulut kiayi itu ia bisa tahu H.O.S. Tjokroaminoto, Agus Salim, Haji Samanhudi, dan aktivis SI lainnya.

Kelak, ia juga dipengaruhi kakaknya, Kiayi Azhuri yang juga aktif di SI. Kemudian saat usia Oene 18, ia mulai menjadi anggota SI di kampung halamannya. Di sinilah ia makin terhubung dengan tokoh yang sedang beken dan ia kagumi kala itu: H.O.S Tjokroaminoto.

Dari jual kain ke percetakan

Sebelum ke dunia pers, Oene terlebih dulu berjuang untuk menghidupi rumah tangganya. Usahanya beragam, bermula dari jualan kain tenun dan batik hingga ke dunia penerbitan. Saat berdagang kain tenun dan batik, ia berkelana ke Tasikmalaya hingga Cirebon. Hasil dagangnya itu cukup menguntungkan. Namun ia tidak puas sampai di situ.

Di kampung halamannya, ia mengembangkan kebun kelapa milik ayahnya, Raden Haji Hasan. Kemudian ia bertani sirih dan karet. Kelak ia disebut ‘Raja Sereh’ saat kebunnya maju sangat pesat. Usahanya semakin mendekati pada dunia pers saat ia mendirikan percetakan Galunggung di Bandung, yang mencetak koran Sipatahoenan. Namun pendirian percetakan ini belum mengantarkannya secara langsung ke dunia  jurnalistik. Hingga suatu waktu, saat ia sibuk berbisnis yang mengharuskannya ke Jakarta, ia bertemu dengan banyak pegiat pers di indekos anaknya. Di sanalah ia pertama kali bertemu Saeroen, jurnalis terkemuka kala itu.

Setelah berbincang seluk beluk dunia pers, bersama Saeroen, Oene tertarik untuk bergabung dengan Pemandangan. Langkahnya mantap. Hingga memindahkan percetakan Galunggung ke Jl. Senen Raya 107, Jakarta. Kemudian ia mengubah Galunggung menjadi Percetakan Pemandangan.  Pria kelahiran 3 Maret 1895 itu kemudian mendedikasikan hidup dan hartanya ke dunia jurnalistik. Ia menggunakan pers sebagai media berdakwah dan alat pembebas rakyat dari jeratan kolonial. Tidak heran bila pemberitaan Pemandangan sangat kentara pemihakannya pada rakyat. Tentu dengan memenuhi kaidah jurnalistik seperti sesuai fakta dan data.

Oene juga bertekad untuk menjadikan koran Pemandangan sebagai pers pribumi yang diperhitungkan. Kenyataannya memang demikian, Pemandangan bisa sejajar dengan surat kabar Belanda dan Tionghoa. Pada 1935 dan 1936 Pemandangan  pernah memuat kabar kontroversi. Pertama ia memberitakan kondisi Digul yang menyengsarakan tahanan politik kala itu. Liputan ini lantas disangkal oleh Java Bode. Kemudian, tahun berikutnya giliran Het Nieuws yang menyangkal pemberitaan liputan Pemandangan tentang kelaparan di Bogor, bahkan menyebut berita Pemandangan itu sebagai informasi hoaks.

Untuk mewujudkan ini, Oene memilih orang-orang yang kompeten. Seperti saat ia mengatur rubrik hukum. Ia memilih Mr. Sastradjatmika, seorang tamatan hukum di Leiden. Kemudian saat ia mencari pengganti Saeroen di kursi redaktur pun sangat tepat memilih M. Tabrani, putra pribumi yang pernah belajar jurnalistik di Eropa.

Surat kabar Pemandangan jadi penyambung lidah para cendikiawan yang menonjol pra kemerdekaan. Beberapa tokoh seperti Dr. Muwardi, Mr. Sartono, Dr. M. Amir, Ir. Djuanda, Hamka, dan tokoh lainnya, pernah menulis di koran itu.

Surat kabar ini juga, diisi oleh tenaga ahli seperti Mr. Sastradjatmika: tamatan hukum di Leiden yang kemudian mengurus rubrik hukum di Pemandangan. Tidak hanya memilih tenaga kerja yang tepat, amang Oene juga membayar para wartawan dengan gaji yang setimpal. Tak tanggung-tanggung, ia bahkan memberi tunjangan berupa mobil sedan kala itu.

Perlakuan Oene pada wartawan ini kemudian diacungkan jempol oleh M. Tabrani. Ia menilai Oene sangat mengerti pada kebutuhan karyawannya. Bahkan menurut Hatta, honor menulis di Pemandangan cukup untuk hidup sebulan di penjara Digul.

Pemandangan menjadi mimpi Oene Djoenaidi yang berhasil diwujudkan. Ia hidup tidak hanya untuk mewujudkan mimpi pribadi, tetapi mimpi agama dan bangsanya. Ia menghembuskan napas terakhirnya pada 6 Juni 1966 di Jakarta, seminggu setelah ia pulang dari Rumah Sakit Persahabatan, Rawamangun, untuk pengobatan kanker yang dideritanya. Dedikasinya dalam bidang jurnalistik ini, memberikan pengaruh positif yang dirasakan banyak orang, terutama dalam perjalanan pers di Indonesia.

Pegiat Media. Saat ini menjadi relawan untuk odesa.id sekaligus sebagai tim redaksi situmang.com.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Perumahan Margawangi, Jalan Margawangi VII No.5, Ciwastra, Kota Bandung 40287. Telp. 0227511914

Social Profiles

Facebook