Babango

Gambar diambil dari buku Remarks on Circumcision in Dutch India, Karya Dr. Some Schrieke

Ya Allah anu maha kawasa (Ya Allah yangmaha  kuasa)

Abdi nuhun rebu laksa (Hamba beribu terima kasih)

Dileler anu biasa (dikaruniai yang biasa)

Lumrah jeung papada manusa (Lumrah dengan sesama manusia)

Dirina mulus sampurna (dirinya mulus sempurna)

Saeutik taya cacadna (sedikitpun tidak ada cacatnya)

Mugi parantos balegna (moga-moga setelah dewasa)

Sing cukup sandang pangannya (cukup sandang pangannya)

Itulah sepenggal puisi sawer sunatan (khitanan) yang mengandung doa yang dipanjatkan kepada Tuhan,  supaya anak yang dikhitan selamat, tidak ada cacatnya sedikitpun. Biasanya prosesi sawer ini dilaksanakan dengan meriah, sehari sebelum anak dikhitan, sebagai bentuk rayuan supaya anak berbesar hati dan mau dikhitan. Prosesi khitanan bagi masyarakat Sunda disebut sunat atau sunatan dan dianggap penting sebagai bagian dari siklus kehidupan yang telah dilakukan sebelum Islam datang. Prosesi ini disebut juga dengan ngaberesihan, dan mengiris kulup yang disebut dengan sudat atau sundat (incision). Setelah orang Sunda memeluk Islam, istilah ini kemudian berubah menjadi sunat (circumcision).

Orang yang ahli dalam hal mengkhitan anak (laki-laki) disebut béngkong atau paraji sunat: yang bertanggung jawab bukan saja pada saat pelaksanaan memotong kulup, tetapi juga sampai anak tersebut sembuh. Apabila anak yang dikhitan tidak menangis, cepat sembuh dan tidak banyak mengeluarkan darah saat khitan, béngkong tersebut semakin terkenal. Untuk itu seorang béngkong harus mengetahui cara pengobatannya, terutama mengetahui cara menghentikan pendarahan (ngagetih). Salah satunya untuk menghentikan pendarahan bagian yang terluka diolesi dengan putih telur. Di kota Bandung sampai dekade 1970, masih banyak yang menggunakan jasa béngkong untuk khitanan. Sampai tahun 2000, di pedesaan masih ada yang menggunakan jasa béngkong.

Alat tradisional untuk menjepit bagian kulup pada kemaluan anak laki-laki saat dikhitan disebut babango. Babango asal katanya dari ‘bango’ (burung bangau) dimana bentuk paruhnya panjang dan kuat untuk menjepit. Bentuk babango di setiap wilayah di Jawa Barat berbeda-beda, tetapi fungsinya sama. Dalam satu set babango ada tiga macam alat yaitu, sumbi, babango  itu sendiri, dan peso hinis (pisau sembilu).  Sumbi, gunanya untuk memisahkan kulit kulup dan kepala kemaluan anak laki-laki. Itupun dilakukan apabila kulup dan kepala kemaluan dianggap lengket. Bentuk sumbi  seperti sepotong ruas bambu yang di tengahnya bolong atau tembus. Benda tersebut bisa juga terbuat dari kayu, bambu, tulang atau tanduk yang permukaannya telah dihaluskan. Ukuran sumbi panjangnya sekitar 10-15 cm, lubangnya berdiameter sekitar 1 cm yang diperkirakan kepala kemaluan anak laki-laki bisa masuk. Sedangkan untuk diameter luarnya sekitar 1,2 cm. Babango, gunanya  untuk menjepit kulup yang akan dipotong. Kulup sedikit ditarik lalu dipotong memakai pisau sembilu. Orang Sunda menyebutnya dengan péso hinis. Disamping itu gunanya  babango sebagai pembatas antara kepala kemaluan dan kulup yang ditarik, sehingga kepala kemaluan tidak terluka.

Babango terdapat dua istilah: babango sopa dan babango belék. Cara penggunaannya keduanya, tidak jauh berbeda. Pada dasarnya digunakan sebagai landasan pada saat mengiris. Ukuran panjang babango keseluruhan pada umumnya sekitar 20 cm. Adapun bahan yang dipergunakan yaitu, kayu, bambu, tanduk ataupun tulang. Pisau sembilu terbuat dari bambu yang sudah tua dan dibentuk menyerupai pisau dengan bagian tajam yang berada pada dua sisi. Untuk menjaga kebersihannya (steril) sebelum dipakai, pisau sembilu diredam dahulu didalam air panas (cai ngagolak). Anak yang baru selesai dikhitan, dalam beberapa hari belum berani memakai celana. Hal ini untuk menghindari gesekan luka bekas sunat, dengan memakai sarung yang dilengkapi jugang. Jugang sendiri terbuat dari sabut kelapa. Dipilih dengan bentuk yang agak melengkung, dan berguna untuk mendorong kain sarung ke depan agar menjauh dari luka khitanan. Cara memakainya disimpan di depan perut, disatukan dengan lilitan kain sarung dan diikat dengan ikat pinggang.

Daftar Pustaka:

Prawirasuganda, Akip. 1974. Upacara Adat di Pasunda, Sumur Bandung.

Rikin, W.Mintardja. 1994. Peranan Sunat dalam Pola Hidup Masyarakat Sunda.

Schrieke, Some. 1921. Remarks on Circumcision in Dutch India, TBG Deel LX.

Adalah pengelola Rumah Baca Buku Sunda juga seorang penulis buku, "Ma Inung Newak Cahya".

Gunung Hawu

Kaca

Ngahuma

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Perumahan Margawangi, Jalan Margawangi VII No.5, Ciwastra, Kota Bandung 40287. Telp. 0227511914

Social Profiles

Facebook