Sirnanya Kedaulatan Petani Akibat VOC

Dok: odesa.id

Para petani di tanah Priangan sangat berdaulat atas tanahnya. Hingga VOC tiba, kedaulatan itu hilang. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Budayawan Sunda, Hawe Setiawan, dalam acara diskusi yang diselenggarakan oleh Odesa, Selasa, 27 Agustus 2019. Hawe menuturkan, bahwa terebutnya kedaulatan ini merupakan pengalaman sejarah yang pahit.

Saat itu VOC menjalankan misi yang bernama Preanger Stelsel pada 1720. Pertanian ini membuat petani tidak bisa mengolah tanah sesuai keinginannya. VOC menuntut para petani di Priangan agar menanam tanaman kopi, dan harus menjualnya ke serikat dagang Belanda itu.

Sejarah Tanam Paksa itu telah memerah tenaga petani. Kesejahteraannya tidak diperhatikan oleh para kompeni. Kejadian ini telah melahirkan buruh tani. Sukarno kemudian menyebut kaum ini sebagai kaum Marhaen.

Hilangnya kedaulatan ini berdampak pada terhapusnya rasa memiliki para petani atas tanah yang digarapnya. Akibatnya bisa merambat pada kerusakan alam akibat pertanian. Di mana petani tidak punya hak penuh untuk menanam pepohonan di atas tanah yang ia sewa, dan merasa bisa menghambat produktivitas taninya.

Contoh alam Tatar Sunda yang rusak akibat pertanian ini di perbukitan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Kawasan yang seharusnya menjadi tempat resapan air, kini tidak banyak dirimbuni pohon tegakan. Para petani lebih memilih menanam sayuran saja.

Hawe juga menjelaskan, bahwa untuk mengembalikan kedaulatan petani, tidak ada cara lain kecuali dengan menyerahkan tanah kepada petani. Agar petani bisa mandiri dalam merawat alam, memenuhi kebutuhan, dan melanjutkan kehidupan.***

Pegiat Media. Saat ini menjadi relawan untuk odesa.id sekaligus sebagai tim redaksi situmang.com.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Perumahan Margawangi, Jalan Margawangi VII No.5, Ciwastra, Kota Bandung 40287. Telp. 0227511914

Social Profiles

Facebook