Mitigasi Bencana dalam Kearifan Lokal Sunda

Sejatinya, alam memang tak pernah diam. Lempeng bumi terus bergerak saling menjauh, sisi lain saling mendekat sekaligus saling mendesak yang bisa menimbulkan gempa bumi.  Cairan magma dari perut bumi mendesak keluar melalui rekahan dan retakan menghasilkan gunung berapi yang sewaktu-waktu akan meletus. Luasnya air lautan tidak pernah diam sebening permukaan kaca, selalu ada riak dan gelombang besar yang menghempas daratan. Begitu juga air sungai kadang datang menjadi banjir menerjang.

Pada alam yang tak pernah diam itu manusia bermukim. Disadari atau tidak, bencana selalu mengintai.  Yang diperlukan adalah kesadaran berupa upaya  untuk  mengurangi  risiko bencana,  baik  melalui  pembangunan fisik  maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan  menghadapi  ancaman bencana. Itulah yang dimaksud mitigasi bencana. Sedangkan yang disebut bencana  adalah  peristiwa  atau  rangkaian  peristiwa yang mengancam dan mengganggu  kehidupan  dan  penghidupan masyarakat yang disebabkan oleh faktor alam   dan/atau  faktor  non-alam  maupun  faktor manusia  sehingga mengakibatkan  timbulnya  korban  jiwa  manusia,  kerusakan lingkungan,  kerugian harta benda, dan dampak psikologis (Undang-Undang RI No.24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana).

Orang Sunda bermukim di Tatar Sunda, lamanya mungkin sudah ribuan tahun. Para karuhun Sunda tentunya pernah mengalami kejadian alam yang menakutkan, setidaknya membuat hati miris, berupa gunung bitu (gunung meletus), caah gede  (banjir besar), lini  (gempa bumi), sasalad (penyakit endemik) dan lainnya. Pengalaman seperti itu semestinya telah terekam di dalam kekayaan batin orang Sunda berupa dongeng atau cerita rakyat, paribasa, arsitektur dan yang lainnya (folklor), di samping yang tercatat baik di dalam naskah kuno maupun yang tercatat sekarang ini. Rekaman atau catatan tersebut  bila ditelisik terdapat kandungan mitigasi bencana walaupun tidak secara langsung.  

Sementara itu, pemukiman orang Sunda (zaman dulu)  berada di sekitar kaki gunung. Hal ini bisa dimaklumi karena mata pencaharian zaman dulu adalah pahuma (menanam padi di tanah darat), panggerek (berburu), panyadap (menyadap nira) dan padagang (pedagang) seperti yang dikabarkan oleh naskah kuno Carita Parahyangan.

Sebagaimana diketahui bersama bahwa topografi atau kontur tanah di sekitar kaki gunung sangat bervariatif. Tidak setiap tempat bisa dijadikan tempat pemukiman. Untuk itu pemilihan tempat pemukiman ada aturannya. Sekurang-kurangnya ada tiga sumber yang bisa dijadikan rujukan yaitu naskah kuno Sanghyang Siksakandang Karesian (SSK) yang ditulis tahun 1518 hasil penelitian Saleh Danasasmita dkk tahun 1987, naskah kuna Warugan Lemah (WL) yang diperkirakan sezaman dengan SSK hasil penelitian Aditia Gunawan tahun 2010 dan  Bijgeloof in de Preanger Regentschappen (BPR) yang ditulis oleh J.Habbema tahun 1900.

Di dalam SSK ada yang disebut mala ning lemah (tanah yang menimbulkan bahaya seperti pada frasa malapetaka) yaitu sodong (gua di sekitar tebing), cadas gantung (batu padas yang menggantung) dan lainnya. Memang tidak semua yang disebut dalam mala ning lemah berdasarkan kontur tanah yang sangat berbahaya bila terjadi gempa atau longsor. Ada juga yang berdasarkan kesehatan lingkungan (sanitasi) seperti kebakan badak (tempat badak berkubang), pitunahan celeng (tempat babi mandi lumpur), kalomberan (tempat air kotor tergenang), dan jariyan (tempat buangan sampah yang sudah membusuk mengeluarkan lindi). Di samping itu, ada yang berdasarkan magis religius, seperti sarongge (tempat yang dianggap menakutkan, dalam bahasa Sunda disebut geueuman atau sanget), sema (bekas tempat kuburan) dan lemah sahar (tempat yang pernah terjadi perang). Tempat yang termasuk dalam kategori mala ning lemah tidak boleh dijadikan tempat pemukiman. Sayangnya, di dalam SSK tidak menyebutkan tempat yang baik untuk pemukiman. Memang ada yang disebut nirmala ning lemah (tempat yang baik), tapi isinya lebih ke tempat pemujaan seperti pahoman (tempat menyimpan sesajen), candi, prasada (kuil), lemah biningba (tempat arca).

Di dalam naskah kuno WL menyebutkan dengan tegas cara memilih tempat untuk pemukiman baik berupa dayeuh (kota), maupun pilembureun atau piumbuleun. Terdapat 18 kategori lahan. Dari 18 kategori tersebut tidak semuanya berdasarkan kontur tanah, dan hampir sama dengan yang diberitakan oleh SSK. Ada juga yang berdasarkan kesehatan lingkungan dan yang bersifat magis religius. Contohnya, berdasarkan kontur tanah, yaitu ngalingga manik (tanah datar yang agak tinggi), singha purusa (tanah yang memotong bukit), tunggang laya (wilayah yang menghadap ke laut), sedangkan yang bersifat magis religius disebut mrega hideung (bekas kuburan) dan yang dianggap berdasarkan kesehatan lingkungan yaitu urut picarian (bekas tempat kotor). Yang dianggap membahayakan bisa disebutkan di antaranya, jagal bahu (tempat yang terpisah, bisa jadi terpisah karena rekahan tanah yang mengakibatkan longsor), sri madayung (tanah di antara dua sungai) sangat berbahaya apabila terkena banjir. Begitu juga talaga kahudanan (yang memotong sungai). Di dalam WL juga disebutkan arah menghadap rumah atau pemukiman. Arah menghadap rumah sangat berpengaruh terhadap watek (watak) tempat tersebut.  

BPR ditulis oleh orang Belanda pada tahun 1900. Tetapi, yang menjadi informan adalah orang Sunda yang bermukim di Priangan. Di dalam BPR dijelaskan, beberapa yang baik dan beberapa yang tidak baik untuk piimaheun (untuk tempat mendirikan rumah). Yang baik di antaranya, ngagaludra ngupuk,: yaitu, tanah yang airnya mengalir dari tiga arah dan terbuang ke arah satunya. Seperti yang terjadi di kota Bandung, yang dianggap tanah yang baik untuk pemukiman karena air mengalir dari utara, barat dan timur terbuang ke arah selatan. Yang dianggap tidak baik disebut anggon-anggon jaksa (tanah miring ke arah barat laut), anggon-anggon durjana (tanah yang miring ke arah barat daya), talaga ngembeng (aliran air dari empat arah dan tidak ada arah pembuangan).

Dengan demikian, bahwa para waskita orang Sunda zaman dulu telah mempunyai kearifan yang dapat memilah dan memilih tempat pemukiman yang baik dan yang tidak baik. Jika dikaitkan dengan mitigasi bencana, hal itu merupakan kesadaran prabencana, bahwa untuk tempat pemukiman harus diperhitungkan kemungkinan akan timbul bencana. Baik yang ditimbulkan oleh alam berupa urug (longsor), caah (banjir), lini (gempa), maupun penyakit berupa sasalad (epidemik) yang secara magis religius.

Adalah pengelola Rumah Baca Buku Sunda juga seorang penulis buku, "Ma Inung Newak Cahya".

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

Perumahan Margawangi, Jalan Margawangi VII No.5, Ciwastra, Kota Bandung 40287. Telp. 0227511914

Social Profiles

Facebook